<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>"Aku Makan Maka Aku Kenyang"</title>
	<atom:link href="http://sokaktifis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sokaktifis.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 21:34:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sokaktifis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>"Aku Makan Maka Aku Kenyang"</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sokaktifis.wordpress.com/osd.xml" title="&#34;Aku Makan Maka Aku Kenyang&#34;" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sokaktifis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dalam Memajukan Kebudayaan Bangsa Kita Kehilangan Haluan</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2011/03/06/dalam-memajukan-kebudayaan-bangsa-kita-kehilangan-haluan/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2011/03/06/dalam-memajukan-kebudayaan-bangsa-kita-kehilangan-haluan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 12:05:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Problem Bangsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Dalam makalah seminar budaya &#8220;Evaluasi dan Strategi Kebudayaan&#8221; yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1987,  Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin (Dosen UI) mengulas peran tiga kalimat penjelasan pasal 32 UUD 1945. Menurut Nazaruddin, dengan adanya ketiga kalimat penjelasan itu bangsa Indonesia &#8220;mampu melepaskan diri dari rasa curiga terhadap kebudayaan suku-suku. Kebudayaan suku-suku bangsa tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=266&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:x-small;">Dalam makalah seminar budaya &#8220;Evaluasi dan Strategi  Kebudayaan&#8221; yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas  Indonesia tahun 1987,  Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin (Dosen UI)  mengulas peran tiga kalimat penjelasan pasal 32 UUD 1945. Menurut  Nazaruddin, dengan adanya ketiga kalimat penjelasan itu bangsa Indonesia  &#8220;mampu melepaskan diri dari rasa curiga terhadap kebudayaan suku-suku.  Kebudayaan suku-suku bangsa tidak perlu dipandang sebagai ancaman  terhadap kebudayaan nasional; kebudayaan daerah atau suku bukanlah  ancaman, melainkan pembentuk kebudayaan nasional. &#8220;</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Dari kutipan di atas amat jelas, betapa besar peran tiga  kalimat itu dalam mencegah ketidakjelasan dalam menata hubungan bersama  dan dalam menyamakan pemahaman tentang kebudayaan bangsa. Tetapi ketiga  kalimat itu kini secara konstitusional tidak tampil lagi sebagai  penjelas makna pasal 32 tersebut. Pasal 32 yang semula hanya satu ayat  setelah diamandemen berubah menjadi 2 ayat. Tiga kalimat itu  dihilangkan, dan tidak satu pun kata atau kalimat dari tiga kalimat  penjelasan itu yang diangkat ke dalam dua ayat yang baru. </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><strong>Peran 3 Kalimat Penjelasan </strong></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Dapat dipastikan, ketika para pendiri bangsa memasukkan  kebudayaan ke dalam batang tubuh UUD 1945, pembahasan berlangsung dalam  suasana seru, baik tentang urgensinya, rumusannya maupun penempatannya  dalam pasal, serta rumusan kalimat penjelasan.  Dalam hal penempatan  dalam pasal saja, kebudayaan harus pindah 3 kali. Dari semula berada  pada pasal 34 bergeser ke pasal 33,  dan akhirnya bergeser lagi menjadi  pasal 32 berdampingan dengan pasal 31 tentang pendidikan. </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">Rumusan kalimatnya amat singkat, yaitu: &#8220;Pemerintah memajukan  kebudayaan nasional Indonesia.&#8221; Menyadari betapa singkatnya kalimat  pasal 32, para pendiri bangsa melengkapinya dengan tiga kalimat sebagai  penjelasan.  Dengan adanya penjelasan itu berbagai pertanyaan mendasar  dapat terjawab. Pertanyaan mendasar itu antara lain sebagai berikut: </span></p>
<ol><span style="font-size:x-small;"></p>
<li>Setelah lahir yang disebut  kebudayaan nasional Indonesia, bagaimana posisi kebudayaan daerah atau  kebudayaan suku bangsa? Hilang atau lebur ke dalam kebudayaan nasional.  Pertanyaan seperti selalu dan akan muncul pada setiap pergantian  generasi.</li>
<li>Setelah lahir kebudayaan Indonesia baru, bagaimana  posisi kebudayaan lama dan asli? Masih tetap ada sebagai dasar atau  bagian kebudayaan bangsa atau dihapuskan? Seperti kita ketahui pada masa  Pujangga Baru terjadi polemik kebudayaan hebat tentang hal itu.<br />
3. Ke  mana arah yang akan dituju dalam memajukan kebudayaan bangsa? Sebagai  bangsa yang baru lahir jawaban atas pertanyaan itu penting agar bangsa  itu tidak salah langkah.<br />
4. Bagaimana bangsa ini menyikapi masuknya  pengaruh kebudayaan asing, menolak atau menerima, atau menyaring?  Jawaban itu penting, karena sebagai bangsa baru mustahil akan  menghindarkan diri dari pertemuan antarbangsa dan antarbudaya bangsa.<br />
5. Apa  kriteria  atau ukuran yang dapar dipakai untuk melakukan penerimaan  atau penolakan, atau penyaringan pengaruh budaya asing itu?</li>
<p></span></ol>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Jawaban atas pertanyaan pertama terdapat pada  kalimat yang berbunyi: &#8220;Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul  sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya.&#8221; Dari  keseluruhan kalimat itu dapat ditangkap secara jelas maknanya. Kalimat  itu mengandung makna pengakuan bahwa seluruh budaya suku bangsa (daerah)  di seluruh Indonesia, pada hakikatnya adalah kebudayaan bangsa atau  kebudayaan nasional Indonesia. Dengan pengakuan ini mencerminkan arti  bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, kita tidak mengenal  istilah budaya &#8216;mayoritas&#8217; dan &#8216;minoritas&#8217;, &#8216;maju&#8217; atau &#8216;terbelakang&#8217;,  &#8216;tinggi&#8217; atau &#8216;rendah.&#8217; Seluruh budaya suku bangsa dalam posisi sama,   setara, dan dari pengakuan seperti itu akan tercipta iklim kehidupan   saling menghargai dan saling menghormati. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Jawaban atas pertanyaan kedua, mengenai  bagaimana posisi kebudayaan lama dan asli, ada pada kalimat kedua, yang  berbunyi: &#8220;Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak  kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai  kebudayaan bangsa.&#8221;  Kalimat ini menjadi jawaban atas  polemik hebat  yang terjadi ketika memperbincangkan mengenai bagaimana membangun  kebudayaan bangsa Indonesia baru. Menurut pandangan Sutan Takdir  Alisjahbana apabila bangsa baru itu ingin menjadi bangsa yang maju dan  modern, tinggalkan kebudayaan lama dan ambil kebudayaan yang bersumber  dari kebudayaan Barat. Di lain pihak Sanoesi Pane, Armijn Pane  berpendapat tidak mungkin kita menghilangkan kebudayaan lama (Timur).  Dengan adanya kalimat penjelasan itu  dapat diartikan bahwa dalam  memajukan kebudayaan bangsa tidak bisa dengan serta merta meninggalkan  kebudayaan yang lama dan asli, karena kehidupan kebudayaan suatu bangsa  pada hakikatnya adalah lanjutan dari kebudayaan sebelumnya. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Jawaban pertanyaan ketiga, ke mana arah yang  akan dituju dalam memajukan kebudayaan terdapat pada frasa yang  berbunyi: &#8220;Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya  dan persatuan…&#8221; Amat jelas, ke mana arah yang harus dituju dalam  memajukan peradaban bangsa Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia,  dan ke mana arah memajukan persatuan bangsa yang multietnik dan  multikultur. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Jawaban  atas pertanyaan bagaimana kita menyikapi hubungan  kebudayaan bangsa  dengan kebudayaan asing ada pada potongan kalimat: &#8220;….dengan tidak  menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing&#8230;..&#8221; Frasa ini menjadi  amat penting sebagai acuan ketika bangsa Indonesia sebagai bangsa baru  masuk dalam pergaulan antarnegara dan antarbangsa. Dalam era globalisme  seperti sekarang ini, frasa ini patut menjadi acuan agar kehidupan  bangsa Indonesia tidak terjebak menjadi bangsa yang kehilangan jati  diri. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Lalu, apa  kriteria  atau ukuran untuk menerima atau menolak pengaruh budaya asing  itu? Jawabannya  ada pada frasa &#8220;…yang dapat memperkembangkan dan  memperkaya kebudayaan sendiri….&#8221;  Apabila pengaruh tidak memberi manfaat  meperkembangkan dan memperkaya kebudayaan bangsa harus ditolak  kehadirannya.  Bahkan kriteria itu masih diperjelas dengan dengan  rambu-rambu: &#8220;yang dapat mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa  Indonesia&#8221;. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Dari  uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa melalui tiga kalimat itu para  pendiri bangsa telah menyiapkan konsep, kebijakan, strategi dan tujuan  di bidang kebudayaan. Dikatakan mengandung konsep karena tiga kalimat  itu berisi gagasan tentang apa itu kebudayaan Indonesia. Pengakuan bahwa  kebudayaan suku bangsa di seluruh Indonesia adalah kebudayaan bangsa  merupakan konsep yang dinilai tepat untuk sebuah bangsa baru yang  multietnik dan multikultur. Konsep itu selanjutnya dituangkan dalam  semboyan yang sangat tepat, yaitu &#8220;Bhinneka Tunggal Ika.&#8221; </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Tiga kalimat itu dikatakan mengandung kebijakan  karena di dalam tiga kalimat itu terkandung garis besar haluan dalam  memelihara (preservation) dan mengembangkan (progression) kebudayaan  bangsa. Dua kebijakan yang sesungguhnya arahnya berlawanan, tetapi  keduanya disatukan lagi dalam tujuan, yaitu &#8220;menuju ke arah kemajuan  adab, budaya, dan perstauan&#8221;. Selanjutnya dikatakan mengandung strategi  karena di dalam tiga kalimat itu terkandung perencanaan dasar memajukan  kebudayaan bangsa. Di samping dilakukan upaya memelihara dan  mengembangkan kebudayaan, strategi yang perlu dipilih adalah  &#8220;dengan  tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing.&#8221; Dikatakan  mengandung tujuan karena di dalam tiga kalimat itu terkandung juga ke  mana arah pemajuan kebudayaan bangsa. Karena lengkap dan jelasnya tiga  kalimat itu maka tidak salah juga bila dikatakan merupakan garis-garis  besar haluan dalam membangun persatuan bangsa dan memajukan kebudayaan  bangsa yang amat jelas dan dengan demikian mudah untuk  dioperasionalisasikan. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Sebagai bangsa yang lahir setelah adanya kesepakatan  (konsensus) seluruh suku bangsa untuk menjadi satu bangsa baru, bangsa  Indonesia, garis haluan itu amat penting untuk menata hubungan antarsuku  dan antarbudaya.. Kesepakatan yang lahir di tengah-tengah kehidupan  bangsa yang multietnik dan multikultur (hampir 500 suku bangsa), daya  tahan kelangsungannya akan berbeda dengan bangsa yang hanya terdiri atas  beberapa suku bangsa. Keutuhan bangsa amat rentan, dan oleh sebab itu  solidaritas dan keharmonisan hubungan antarsuku dan antarbudaya harus  diasuh secara serius dan dengan konsep yang jelas dan diterima oleh  semua pihak. Mengenai pentingnya membangun solidaritas dan keharmonisan  hubungan itu, Bung Karno sering mengulang padangan Ernest Renan, seorang  profesor sejarah dan ilmu kebangsaan Perancis.</span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Menurut Renan, yang dimaksud dengan bangsa  adalah &#8220;satu solidaritas besar, solidaritas besar tiap-tiap hari.&#8221; .  Tetapi oleh Bung Karno tumbuhnya solidaritas lebih dipersingkat lagi.  Menurut Bung Karno agar bangsa Indonesia benar-benar menjadi satu,   solidaritas itu tidak hanya tumbuh tiap-tiap hari, tetapi tiap-tiap jam,  dan bahkan tiap-tiap menit. Jangan sampai terjadi rasa itu solider  hanya untuk beberapa waktu saja atau hanya buat menghadapi bahaya saja. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Berubah Menjadi 2 Ayat</strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Setelah diamandemen pasal 32 berubah menjadi 2  ayat dan tanpa ada tambahan penjelasan lagi. Pada ayat (1) bunyi  kalimatnya menjadi panjang: &#8220;Negara memajukan kebudayaan nasional  Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kekebasan masyarakat  dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.&#8221;  Jika ayat  (1) ini dirinci, ada 3 potongan makna yang terkandung di dalamnya.  Pertama, &#8220;Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia….&#8221;. Potongan  kalimat ini adalah kalimat pasal 32 lama, hanya kata &#8216;Pemerintah&#8217;  diganti dengan  &#8216;Negara&#8217;. Potongan kalimat kedua berbunyi:&#8221;…di tengah  peradaban dunia…&#8221;,  mungkin yang dimaksud adalah sebagai penegasan bahwa  kebudayaan Indonesia adalah bagian dari kebudayaan dan perdaban dunia.  Potongan kalimat ketiga, &#8220;….dengan menjamin kebebasan masyarakat untuk  memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya&#8221;  merupakan cerminan  pemenuhan kehendak tentang perlunya kebebasan dalam mengembangkan nilai  budaya masing-masing suku bangsa. Potongan kalimat kedua dan ketiga  merupakan tambahan baru. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Untuk ayat (2) yang berbunyi: &#8220;Negara menghormati dan  memelihara bahasa daerah sebagai  kekayaan budaya nasional&#8221; merupakan  kalimat pindahan dari penjelasan pasal 36 (lama) tentang Bahasa.  Tanpa  memindahkan kalimat itu ke pasal 32 menjadi ayat baru (ayat 2), masalah  bahasa (daerah) sudah dengan sendirinya merupakan salah satu kekayaan  (bagian) dari kebudayaan bangsa. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Apakah setelah pasal 32 baru berubah menjadi 2 ayat, makna  pasal itu menjadi jelas atau sebaliknya? </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Hilangnya Garis Haluan<br />
</strong><br />
Hilangnya  tiga kalimat penjelasan pasal 32 berarti hilangnya konsep, kebijakan,  strategi dan tujuan yang dijadikan garis haluan dalam memajukan  kebudayaan bangsa dan menata hubungan antarsuku. Sebagai satu bangsa  yang multietnik dan multikultur, pertanyaan-pertanyaan &#8216;nakal&#8217; seperti  di atas dapat dipastikan  akan selalu  muncul pada setiap saat dan  setiap generasi. Dengan adanya tiga kalimat penjelasan itu semua  pertanya akan terjawab, dan itu berarti kita dapat melepaskan diri dari  rasa curiga antara suku bangsa yang satu dengan yang lain.  Keberadaan  budaya suatu suku bangsa tidak lagi dipandang sebagai ancaman bagi suku  bangsa yang lain dan juga bukan ancaman terhadap kebudayaan nasional dan  sebaliknya, melainkan bersama-sama menjadi pembentuk kebudayaan  nasional. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;">Oleh  karena itu seharusnya tiga kalimat  tetap dipertahankan keberadaannya  selama kita masih sepakat untuk tetap dalam naungan Negara Kesatuan  Republik Indonesia.  Akankah hasil amandemen itu akan diamandemen lagi  dan tiga kalimat itu dapat muncul lagi? Jika tidak, maka tiga kalaimat  itu harus masuk dalam Rancangan Undang-Undang tentang Kebudayaan. </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Jakarta, 6 Maret 2006</strong> </span></span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"><strong>oleh Nunus Supardi</strong></span><span style="font-size:x-small;">(*) Penulis adalah <span style="font-size:x-small;">Sekretaris Umum Badan Kerja  Sama Kesenian Indonesia (BKKI) Pusat</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=266&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2011/03/06/dalam-memajukan-kebudayaan-bangsa-kita-kehilangan-haluan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/02/260/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/02/260/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2010 20:43:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/02/260/</guid>
		<description><![CDATA[Yanni-Libels Bayanganmu.mp3get more free mp3 &#38; video codes at www.musik-live.net<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=260&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bHQ9MTI4NjA1MjE*Mjc4NCZwdD*xMjg2MDUyMTk5ODQ*JnA9NTYyMDEyJmQ9Jm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPWE5OTYzMDU1MGI1/NjRiMzJiMGUyMDEwMTFkOTc*MGRkJm9mPTA=.gif" />
<div align="left">
<table border="0" bgcolor="#000000" width="315">
<tr>
<td><a target="_blank" href="http://www.index-of-mp3.com/download-Yanni-Libels_Bayanganmu-fsVQPyNMsK-.html" title="Yanni-Libels Bayanganmu.mp3"><span style="color:#49A3FF;font-size:xx-small;">Yanni-Libels Bayanganmu.mp3</span><br /><img title="Yanni-Libels Bayanganmu.mp3" border="0" src="http://img502.imageshack.us/img502/8661/purple.gif" width="295" height="51" /></a><br /><a target="_blank" title="www.musik-live.net : Free Streaming Mp3 &amp; Videos Online" href="http://www.musik-live.net"><span style="color:#49A3FF;font-size:xx-small;">get more free mp3 &amp; video codes at www.musik-live.net</span></a></td>
</tr>
</table>
</div>
<div align="left"><iframe frameborder="0" width="323" height="28" src="http://wpcomwidgets.com/?width=315&amp;height=20&amp;src=http%3A%2F%2Fkodelagu.net%2Fcodeplayer.swf&amp;quality=high&amp;flashvars=%26file%3Dhttp%3A%2F%2Fdc242.4shared.com%2Fimg%2F372836742%2F71879129%2Fdlink__2Fdownload_2FVQPyNMsK_3Ftsid_3D20101002-164150-5335ae7f%2Fpreview.mp3%26duration%3D290.50775%E2%84%91%3D%2Fimages%2Ficons%2Fmisc%2Fmp3_200x180.jpg%26dock%3Dtrue%26plugins%3Drevolt-1%2Csharing%2Cltas%26ltas.cc%3Drvlfdyginfjkpdu%26sharing.link%3Dhttp%3A%2F%2Fwww.4shared.com%2Faudio%2FVQPyNMsK%2FYanni-Libels_Bayanganmu.html%26sharing.code%3D%253Cembed%2520src%253D%2522http%3A%2F%2Fwww.4shared.com%2Fembed%2F372836742%2F71879129%2522%2520width%253D%2522420%2522%2520height%253D%2522250%2522%2520allowfullscreen%253D%2522false%2522%2520allowscriptaccess%253D%2522always%2522%2520%252F%253E%26type%3Dmp3%26height%3D20%26width%3D315%26showeq%3Dtrue%26autostart%3Dtrue%26repeat%3Dfalse%26shuffle%3Dfalse%26volume%3D100%26menu%3Dfalse%26searchbar%3Dfalse%26backcolor%3D0x1E0B02%26frontcolor%3D0x49A3FF%26lightcolor%3D0x87B6CD&amp;wmode=tranparent&amp;allowfullscreen=false&amp;_tag=gigya&amp;_hash=bfb601bfcc92660440d1475105732af8" id="bfb601bfcc92660440d1475105732af8"></iframe></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=260&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/02/260/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.11NXC/bHQ9MTI4NjA1MjE*Mjc4NCZwdD*xMjg2MDUyMTk5ODQ*JnA9NTYyMDEyJmQ9Jm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPWE5OTYzMDU1MGI1/NjRiMzJiMGUyMDEwMTFkOTc*MGRkJm9mPTA=.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://img502.imageshack.us/img502/8661/purple.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Yanni-Libels Bayanganmu.mp3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Pancasila Sebagai Sebuah Dasar Negara</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/memaknai-pancasila-sebagai-sebuah-dasar-negara/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/memaknai-pancasila-sebagai-sebuah-dasar-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 11:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Minjem]]></category>
		<category><![CDATA[Problem Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaktian Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila sebagai dasar negara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang Sejak negeri ini diproklamasikan sebagai negara merdeka, telah sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Konsekuensinya, Pancasila harus terus hidup dalam kehidupam masyarakat, lebih optimal sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Sayangnya, eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara tidak difungsikan secara maksimal, Pancasila tidak lagi mewarnai setiap aktivitas yang berlangsung di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=257&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>Sejak negeri ini diproklamasikan sebagai negara merdeka, telah sepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Konsekuensinya, Pancasila harus terus hidup dalam kehidupam masyarakat, lebih optimal sebagai kekuatan pemersatu bangsa.</p>
<p>Sayangnya, eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara tidak difungsikan secara maksimal, Pancasila tidak lagi mewarnai setiap aktivitas yang berlangsung di tengah masyarakat. Pancasila bahkan tidak lagi ramai dipelajari oleh generasi muda.</p>
<p>Realitas tersebut tentu sangat kontraproduktif dengan upaya penguatan Pancasila sebagai dasar negara. Lebih khusus lagi bagi upaya menjaga lestarinya NKRI di bumi persada. Kehadiran Pancasila tidak sekedar sebagai ideologi atau patron setiap warga negara. Pancasila merupakan ”national identity” yang berperan mewadahi berbagai peredaan maupun konflik yang seringkali muncul dalam sub budaya nasional.</p>
<p>Minimal ada dua hal urgensi Pancasila dalam konteks sekarang ini, hal tersebut bisa di lihat dalam internal dan eksternal. Pertama, aspek internal yang teridiri dari tiga hal mendasar:</p>
<ol>
<li>Buruknya nama baik Pancasila oleh sejarah masa lalu mengharuskan adanya upaya serius untuk perbaikan;</li>
<li>Dampak otonomi daerah telah melahirkan sentimen etnik dan provinsialisme yang semakin menguatkan kecendrungan pada local-nationalism; dan</li>
<li>Sejak Pancasila tidak lagi menjadi asas tunggal dalam setiap organisasi manapun. Tidak hanya melahirkan dikotomi antara Pancasila dan landasan organisasi khususnya pada tingkat pendukungnya (grass root), meski terlihat dalam tingkat wacana. Juga penguatan eksistensi Pancasila kurang dioptimalkan sebagai agenda utama atau common platform dalam kehidupan organisasi.</li>
</ol>
<p>Kedua, aspek eksternal khusunysa pengaruh globalisasi. Selain dampak positif, globalisasi juga menawarkan sekian banyak pengaruh, bukan hanya disorientasi dan dislokasi <a title="sosial" href="http://www.unjabisnis.com/category/sosial">sosial</a>, tetapi juga bisa mengakibatkan memudarnya identitas dan jati diri bangsa. Nilai-nilai Pancasila yang mendasar seperti ”gotong-royong”, secara tidak langsung telah banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai individualisme yang sangat liberal.</p>
<p>Komitmen kita pada eksistensi Pancasila sebagai dasar Negara sudah final. Simbol pemersatu dan identitas nasional yang bisa diterima berbagai kalangan harus terus di jaga. Demokrasi di negeri ini tetap berdasarkan ideologi negara Pancasila, yang sangat menghargai kebersamaan, perbedaan dan nilai-nilai gotong royong yang selama menjadi ke-khasan budaya bangsa. Demokrasi yang dilaksanakan sebisa mungkin menghargai kearifan lokal dan kultur masyarakat yang sudah mengakar dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, selama itu bermanfaat buat pembangunan bangsa dan kesejahteraan masyarakat.</p>
<p>Eksis-nya Pancasila dalam setiap perubahan yang terjadi, banyak tergantung dari cara kita mengimplementasikannya. Hanya satu pilihan, Pancasila harus terus dilaksanakan secara konsisten karena Pancasila bukanlah berisikan nilai-nilai statis, tetapi juga memiliki ”jiwa dinamis”.</p>
<p>Untuk itu, minimal ada dua hal penting yang perlu dilakukan dalam menempatkan Pancasila sebagai ideologi perubahan. Pertama, Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup berbangsa idealnya tumbuh dan dipraktekkan dalam setiap aktivitas masyarakat. Sosialisasi nilai-nilai Pancasila harus terus digelorakan, tidak terkecuali internalisasi nilai-nilainya dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran terhadap Pancasila sebagai identitas nasional minimal jadi mainstream-nya.</p>
<p>Kedua, sikap konsisten dari berbagai elemen bangsa. Pemimpin dan elit politik di negeri ini harus menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak. Tidak sekedar menjadi penghias dan pemanis bibir, tapi perlu langkah kongkrit. Menjunjung tinggi sila Ketuhanan Yang Maha Esa, harus mampu melawan berbagai bentuk kemusyrikan. Sila kemanusiaan harus mampu menghentikan merajalelanya situasi yang tidak manusiawi. Manfaatkan cinta Persatuan Indonesia untuk membangun rasa nasionalisme dan patriotisme bangsa yang sudah mulai menurun. Sila permusyawaratan harus dikedepankan dalam konteks demokrasi yang sudah mulai keluar dari koridor dan harapan rakyat. Tidak kalah pentingnya sila keadilan sosial, dalam memperkuat solidaritas dan integrasi sosial dan menutup peluang disparitas atau kesenjangan sosial ekonomi yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat.</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p><strong>Memaknai Pancasila Sebagai Sebuah Dasar Negara</strong></p>
<p><strong> </strong>Pancasila sebagai dasar negara mempunyai peranan penting dalam menentukan arah dan tujuan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Semboyan <em>Bhineka Tunggal Ika</em> yang tepampang dalam lambang negara kita sebenarnya mempunyai arti yang sangat penting dalam mewujudkan Persatuan dan Kesatuan. Namun seiring dengan kemajuan zaman di bidang informasi, pengetahuan, dan teknologi ke arah modernisasi zaman globalisasi, ternyata kesakralan makna dari semboyan tersebut manjadi luntur. Pemikiran-pemikiran mengenai Pancasila tersebut salah satunya adalah Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama Republik indonesia.</p>
<p>Pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno dalam pidatonya di sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau yang dikenal dengan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang beranggotakan 60 orang mengeluarkan gagasan Pancasila sebagai sebuah Dasar Negara yang merdeka. Bahwa panca artinya lima, dan sila adalah azas/dasar, pancasila berarti lima azas/dasar. Pancasila yang dimaksud oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya tersebut adalah :</p>
<ol>
<li><em>Kebangsaan Indonesia</em></li>
<li><em>Internasionalisme atau Perikemanusiaan</em></li>
<li><em>Mufakat atau Demokrasi</em></li>
<li><em>Kesejahteraan Sosial</em></li>
<li><em> </em><em> </em><em>Ketuhanan Yang Maha Esa</em></li>
</ol>
<p>Ir. Soekarno, dalam sidang tersebut juga mengatakan “jika saudara-saudara tidak menyukai angka lima, maka Pancasila akan saya peras menjadi Trisila”, yaitu :</p>
<ol>
<li><em>Sosio Nasionalisme</em></li>
<li><em>Sosio Demokrasi</em></li>
<li><em>Ketuhanan</em></li>
</ol>
<p>Sosio nasionalisme berarti kebangsaan dan perikemanusiaan atau internasionalisme, sosio demokrasi berarti demokrasi dalam wilayah politik dan demokrasi dalam wilayah ekonomi, ketuhanan itu sendiri adalah ketuhanan yang berkebudayaan. Lalu Ir. Soekarno juga mengatakan, “jika saudara-saudara tidak menyukai Trisila, maka akan saya peras lagi menjadi Ekasila”, yaitu :</p>
<p><em>Gotong royong</em></p>
<p>Gotong royong adalah intisari dari pancasila, karena dalam goyong royong terdapat keabadian, yaitu dinamika yang konstruktif.</p>
<p>Setelah melalui proses persidangan yang dinamis selama tiga hari, akhirnya seluruh peserta sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang beranggotakan 60 orang tersebut menyepakati Pancasila yang digagas oleh Ir. Soekarno sebagai sebuah Dasar Negara pada tanggal 1 Juni 1945. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang meyepakati bahwa Pancasila adalah sebuah dasar dari berdirinya Negara Indonesia, 77 hari kemudian, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dan mendirikan sebuah negara merdeka yang sekarang kita sebut dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Satu hari pasca revolusi 17 Agustus 1945, yaitu pada tanggal 18 Agustus 1945 redaksional sila persila dalam pancasila didewasakan menjadi:</p>
<ol>
<li><em>Ketuhanan Yang Maha Esa</em></li>
<li><em>Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab</em></li>
<li><em>Persatuan Indonesia</em></li>
<li><em>Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan</em></li>
<li><em>Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia</em></li>
</ol>
<p>Pancasila lahir sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri. Artinya adalah, bahwa mendirikan sebuah negara hanya semata-mata untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat yang sejahtera, makmur dan sentosa. Bahwa tujuan tersebut adalah “kontrak sosial” antara Negara dengan rakyatnya, dan Negara sebagai organisasi yang mengatur, berkewajiban untuk membawa rakyat kepada tujuan yang dimaksud, tanpa menghilangkan hak-hak rakyatnya, sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, karena rakyatlah yang memiliki negara, bukan negara yang memiliki rakyat.</p>
<p>Pancasila sebagai sebuah dasar negara mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai fungsi statis dan fungsi dinamis. Fungsi statisnya adalah, bahwa Pancasila sebagai alat pemersatu dari ideologi-ideologi yang anti terhadap kolonialisme, kapitalisme dan imprialisme, Pancasila juga sebagai pemersatu dari beragamnya kebudayaan rakyat Indonesia dan pancasila berfungsi sebagai alat pemersatu dari semua unsur kehidupan rakyat Indonesia. Sedangkan fungsi dinamisnya adalah pancasila sebagai pijakan berjalannya negara, bahwa Pancasila memberi arah untuk mewujudkan surganya dunia, yaitu masyarakat Indonesia yang sejahtera, makmur dan sentosa yang hidup damai diatas bumi pertiwi dibawah kolong langit ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu hanya dapat terjadi jika negara dijalankan berdasarkan sila-sila yang terkandung dalam pancasila secara baik dan benar. Karena Pancasila sebagai sebuah dasar Negara menjadi sumber dari Undang-Undang Dasar dan semua hukum yang berlaku dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal itu dipertegas dalam Ketetapan MPRS No XX/1966. Oleh karena itu, adalah sebuah keharusan, bahwa peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan negara tidak boleh keluar dari nilai-nilai yang terkandung dalm Pancasila.</p>
<p>Negara yang mengamalkan Pancasila dengan baik dan benar adalah negara yang mengeluarkan kebijakan bukan berdasarkan kepentingan partai, bangsa asing, pemilik modal atau kelompoknya. Negara pancasilais adalah negara yang tidak akan mendukung kolonialisme dibelahan dunia manapun dan dalam bentuk apapun, negara yang pancasilais pastilah mengusir bangsa asing yang memasuki wilayah Indonesia hanya untuk mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia dan menghisap rakyatnya, negara yang pancasilais adalah negara yang berdaulat terhadap negara yang lain, negara yang pancasilais pastilah membangun perekonomian rakyatnya, negara yang pancasilais adalah negara yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, negara yang pancasilais pastilah memberikan kesempatan kepada semua rakyatnya yang berpotensi untuk menjadi pemimpin atau seseorang yang bermanfaat buat orang banyak, negara yang pancasilais pastilah mempersiapkan generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mandiri dan bermoral baik, negara yang pancasilais pastilah mempertahankan budaya masyarakatnya, negara yang pancasilais pastilah mewujudkan masyarakat yang pancasilais.</p>
<p>Ketika negara sudah dapat berjalan dengan berpijak diatas pancasila secara baik dan benar, maka efek dominannya adalah terwujudnya sebuah tatanan masyarakat pancasilais di bumi ini. Bahwa masyarakat pancasilais adalah masyarakat yang saling menghargai antara pemeluk keyakinan, masyarakat pancasilais adalah masyarakat yang bersaing tanpa harus membuat duka orang lain, masyarakat pancasilais adalah masyarakat yang tidak mengagung-agungkan kejahatan dan kebejatan, masyarakat pancasilais adalah masyarakat yang ikut merasakan kepedihan ketika saudara sebangsanya merasakan kepedihan, masyarakat pancasilais adalah masyarakat yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, masyarakat pancasilais adalah masyarakat yang bekerja dengan gigih mengembangkan seluruh potensinya, masyarakat pancasilais adalah masyarakat yang kritis terhadap kebijakan negara yang tidak berpihak kepadanya.</p>
<p>Memaknai pancasila sebagai sebuah dasar negara haruslah dilakukan secara bersama-sama antara negara dengan rakyatnya. Negara haruslah sadar dengan posisinya sebagai pelayan rakyat yang hanya bertugas untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat pancasilais dengan bercirikan rakyat yang sejahtera, makmur dan sentosa. Dan rakyatpun harus sadar, bahwa rakyatlah pemilik syah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, ketika negara keluar dari nilai-nilai pancasila, maka rakyat harus mengembalikan negara pada pancasila. Pancasila harus selalu ada dalam setiap kebijakan dan berjalannya negara, dan pancasila harus selalu ada dalam kehidupan keseharian rakyat Indonesia, sehingga pancasila menjadi ruh yang kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Republik ini dibangun karena kita menolak kolonialisme, kapitalisme dan imperialisme yang telah nyata-nyata mensengsarakan rakyat Indonesia selama berabad-abad. Sampai hari ini kita masih berhadapan dengan isme-isme tersebut yang mengancam keutuhan dan kedaulatan bangsa kita, dan sudah menjadi keyakinan kita yang tidak akan pernah goyah, hanya Pancasila-lah jawaban yang dapat menyelamatkan kita dari keterpurukan yang berkepanjangan.</p>
<p><strong>A. </strong><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Dalam rangka mempertahankan kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyat terpanggil untuk membela dan merevitalisasi Pancasila yang sedang berada di ambang bahaya. Dalam konteks merevitalisasi Pancasila sebagai dasar negara menuju terwujudnya masyarakat yang demokratis, seluruh lapisan masyarakat harus menyadari bahwa tanpa suatu platform dalam format dasar negara atau ideologi, maka suatu bangsa akan mustahil untuk mempertahankan survival-nya.</p>
<p>Revitalisasi Pancasila sebagai dasar negara mempunyai makna bahwa Pancasila harus kita letakkan dalam keutuhan dengan pembukaan, dan dieksplorasikan sebagai paradigma dalam dimensi-dimensi yang melekat padanya.</p>
<p>Penetapan Pancasila sebagai dasar falsafah bangsa dan negara bukanlah pekerjaan yang sederhana. Proses pengesahannya melalui jalan yang panjang, penuh perdebatan yang berbobot, rasa tanggung jawab yang besar terhadap nasib bangsa dan negara di kemudian hari, tetapi juga penuh dengan rasa persaudaraan yang akrab.</p>
<p>Kiranya perlu disadari pula bahwa kebinekaan maupun kesatuan-kesatuan Indonesia adalah suatu kenyataan dan suatu persoalan. Walaupun proses integrasi bangsa terus berjalan, namun potensi-potensi yang disintegratif belum hilang, bahkan amat mungkin tidak pernah akan hilang. Hal itu sebagai konsekuensi kita mendasarkan diri pada Pancasila. Sebab, Pancasila dengan karakter utamanya yang inklusif dan non-diskriminatif, tidak melihat kebinekaan dan kesatuan-persatuan sebagai suatu perlawanan, melainkan merangkul kedua-duanya.</p>
<p>Kerangka dasar kehidupan nasional yang mendasarkan diri pada Pancasila akan melihat keragaman suku, agama, ras sebagai aset atau kekayaan bangsa. Namun, jiwa dan semangat Pancasila juga punya batas-batas yang menyangkut tetap tegaknya kesatuan-persatuan agar kebinekaan itu tetap berfungsi sebagai kekayaan dan modal bangsa, jangan berfungsi sebaliknya.</p>
<p>Dan bangsa ini masih memerlukan momen-momen yang mampu menggugah kesadaran akan pentingnya Pancasila. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara harus kita jaga dan kita pertahankan dengan segala cara. Tanpa Pancasila, negeri ini akan digerogoti oleh bangsanya sendiri.</p>
<p>oleh: Syamsul</p>
<p>http://www.unjabisnis.com/2010/07/memaknai-pancasila-sebagai-sebuah-dasar-negara.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/257/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/257/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/257/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=257&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/memaknai-pancasila-sebagai-sebuah-dasar-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pancasila Di Tengah Pusaran Globalisasi</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/pancasila-di-tengah-pusaran-globalisasi/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/pancasila-di-tengah-pusaran-globalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 11:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Minjem]]></category>
		<category><![CDATA[Problem Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[era globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[hari lahir pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Reformasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Mencermati 12 tahun perjalanan reformasi,wajah demokrasi kitatampaknya berjalan kearah yang kian elitis,prosedural, dan penuhpencitraan. Di sisi lain, kita juga merasakan ada ketidakberesan dalam aspek pemahaman, pen-jiwaan dan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap kita memperingati hari lahir Pancasila, para petinggi kita-yang umumnya berwatak transaksional-kerap memosisikan diri sebagai Pancasilais sejati, tanpa menyadari bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=255&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencermati 12 tahun perjalanan reformasi,wajah demokrasi kitatampaknya berjalan kearah yang kian elitis,prosedural, dan penuhpencitraan. Di sisi lain, kita juga merasakan ada ketidakberesan dalam aspek pemahaman, pen-jiwaan dan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Setiap kita memperingati hari lahir Pancasila, para petinggi kita-yang umumnya berwatak transaksional-kerap memosisikan diri sebagai Pancasilais sejati, tanpa menyadari bahwa perilaku politik mereka sesungguhnya telah mendelegitimasi ajaran luhur Pancasila sebagai ideologi negara. Penghormatan dan penghargaan atas Pancasila seakan selesai ketika mimbar upacara dan peringatan digelar di sekolah atau kantor pemerintahan.</p>
<p>Dalam rentang perjalanan kebangsaan kita, eksperimentasi nasionalisme Indonesia hingga kini hanya fasih melafalkan wajah kemerdekaan dan integrasi nasional yang berhasil dirakit generasi Soekarno (1945-1966) di satu sisi, serta pencetus-an pembangunan nasional dan integrasi teritorial yang berhasil dipateri generasi Soeharto (1966-1998) pada sisi lain. Jika pada masa Soekarnoproyek nasionalisme digerakkan melalui jalan sosialisme Indonesia, di mana desain pembangunan negara-bangsa (nation-state) dilandasi oleh spirit persatuan nasional dengan nation and character building sebagai fundamennya; maka di era Soeharto konsep ini tedesak oleh ideologi &#8220;developmenial-ism&#8221;, sebuah ajaran politik pragmatik yang beroperasi di bawah logika negara korporatis (state-corporatism) .</p>
<p>Faktual, sejak era Soeharto hingga Yudhoyono saat ini, nilai-nilai dasar Pancasila dan nasionalisme Indonesia seakan tak berelasi dengan prinsip kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan. Logika pembangunan berwatak korporatik yang dipraktikkan Soeharto gagal mewujudkan daulat rakyat. Ideologi pembangunan Orde Baru yang berencana mewujudkan (meminjam tesis Soekarno &#8220;berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang budaya&#8221;), ternyata cuma sanggup melahirkan negara Leviathan; gurita besar yang melumat kebebasan dan melahap hak rakyat.</p>
<p>Pada era Habibie, nasionalisme Indonesia kembali terinterupsi oleh soal territorial state, dengan lepasnya Timor Timur dari peta NKRI. Situasi ini terus berlanjut pada masa pemerintahan Gus Dur yang terus menghadapi deraan separatisme Aceh dan Papua. Pemerintah Megawati kemudian mencoba merajut kembali semangat persatuan nasional, terutama pascalepas-nya Sipadan dan Ligitan dari NKRI. Sementara di masa Yudhoyono, kasus terorisme danradikalisme agama agaknya masih tenis mengancam.</p>
<p>Tantangan ganda<br />
Dalam konteks di atas, amat jelas Pancasila menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, ia harus membuktikan diri sebagai ideologi yang relevan di tengah gempuran keras globalisasi.</p>
<p>Di sisi lain, ia wajib menjaga martabat dan kedaulatan bangsa dari pelbagai rongrongan internal. Problemnya, Indonesia saat ini bukan cuma bagian dari jejeran negara-bangsa yang telah masuk dalam perangkap skenario ekonomi-politik global Barat, akan tetapi telah menjadi penerjemah fasih dari praktik kapitalisme-neoliberal.</p>
<p>Campur tangan lembaga keuangan internasional (World Bank, IMF, atau ADB) dalam kebijakan ekonomi negara serta penguasaan korporasi global (seperti Caltex, Freeport, atau Newmont) atas manajemen sumberdaya alam dan energi nasional adalah secuil bukti telah ter-gadaikannya kedaulatan politik bangsa.</p>
<p>Pancasila-yang diharapkan mampu menjaga kedaulatan politik dan kepentingan ekonomi bangsa-kini lunglai di hadapan rezim pasar dan korporasi global.-Nasionalisme Indonesia praktis tak berkutik dalam soal pengaturan produksi, konsumsi, dan distribusi yang berorientasi pada pemenuhan hak-hak politik, ekonomi, sosial dan budaya rakyat.</p>
<p>Pancasila menjadi kian paradoks ketika ia cuma bisa membisu saat menyaksikan rezim neoliberal yang memaksakan kebijakan deregulasi, privatisasi, dan liberalisasi. Kebijakan libertarian itu telahmemangkas peran negara dan hak rakyat sebagai regulator dan pemilik sah kedaulatan politik dan ekonomi negara. Dalam konteks ini, negara tak lebih sebagai penjaga malam [laissez-faire); sementara rakyat adalah entitas tanpa makna di hadapan rezim pasar yang berwatak liberal dan asosial.</p>
<p>Sebaliknya, arus nasio-nalisme-sosialisme- sebagai bentuk perlawanan terbuka terhadap doktrin global-isasi-neoliberal-kini menggeliat kuat di kawasan Amerika Latin. Pemimpin seperti Hugo Chavez (Venezuela), Evo Morales (Bolivia), Michele Bachelet (Chile), Lula da Silva (Brasil), Tabare Vasquez (Uruguay) atau Alfredo Palacio (Ekuador) adalah tokoh-tokoh sosialis kiri-tengah yang berani melawan kecongkakan Barat.</p>
<p>Pancasila kini bak goliath kurang gizi; tak bertenaga dalam mewujudkan emansipasi sosial, menggerakan proses demokrasi substansial, menopang kedaulatan politik dan ekonomi nasional, serta cerdas dan adaptif dalam menghadapi kecongkakan rezim globalisasi.</p>
<p>Tantangan aktual pembumi-an Pancasila dan eksperimentasi nasionalisme Indonesia barangkali adalah kesanggupannya untuk meng-impmve konsep democratic-constitutional state- sebuah ideologi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai demokrasi, kesejahteraan, keadilan sosial dan kedaulatan nasional secara konsisten.</p>
<p>OLEH LAUNA<br />
Direktur Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (KPMI)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/255/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/255/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/255/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=255&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/pancasila-di-tengah-pusaran-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menggali Kembali Makna Kesaktian Pancasila</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/menggali-kembali-kesaktian-pancasila/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/menggali-kembali-kesaktian-pancasila/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 10:42:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Minjem]]></category>
		<category><![CDATA[Problem Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaktian Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Makna kesaktian Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[PKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum, sehingga semua peraturan peraturan hukum/ketatanegaraan yang bertentangan dengan Pancasila haruslah dicabut Tepat tanggal 1 oktober, kita kembali memperingati hari yang sangat krusial bagi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Mungkin kini banyak yang lupa atau bahkan melupakan hari kesaktian Pancasila, sebab seiring perkembangan teknologi dan informasi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=251&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum, sehingga semua peraturan peraturan hukum/ketatanegaraan yang bertentangan dengan Pancasila haruslah dicabut</p>
<p>Tepat tanggal 1 oktober, kita kembali memperingati hari yang sangat krusial bagi terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Mungkin kini banyak yang lupa atau bahkan melupakan hari kesaktian Pancasila, sebab seiring perkembangan teknologi dan informasi yang semain pesat, kita pun seakan terbius untuk melupakan sejarah yang sangat penting sebagai wujud terbentuknya dasar negara kepulauan, Indonesia.</p>
<p>Peringatan Kesaktian Pancasila ini berakar pada sebuah peristiwa tanggal 30 September  1965. Konon, ini adalah awal dari Gerakan 30 September (G.30.S/PKI). Oleh pemerintah Indonesia, pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.</p>
<p>Pada saat itu setidaknya ada enam orang Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun, berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Maka, tanggal 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila dalam sejarah Republik Indonesia.</p>
<p>Pancasila tentulah mengandung nilai filosofi yang sejak dahulu telah lahir dan ditumbuhkembangkan oleh nenek moyang kita. Maka, sudah sepantasnya kita harus kembali merenungkan dan menelaah kembali sudah sejauh mana penyelenggaraan serta pencapaian bangsa dan negara ini dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Pancasila sebagai pandangan hidup</p>
<p>Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, merupakan pedoman tingkah laku bagi warga negara Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila yang telah diwariskan kepada bangsa Indonesia merupakan sari dan puncak dari sosial budaya yang senatiasa melandasi tata kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Tata nilai sosial budaya yang telah berkembang dan dianggap baik, serta diyakini kebenarannya ini dijadikan sebagai pandangan hidup dan sumber nilai bagi bangsa Indonesia. Sumber nilai yang terkandung tersebut yakni, (1) keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa, (2) asas kekeluargaan, (3) asas musyawarah mufakat, (4) asas gotong-royong, serta (5) asas tenggang rasa.</p>
<p>Dari nilai-nilai inilah kemudian lahir adanya sikap yang mengutamakan kerukunan, kehormonisan, dan kesejahteraan yang sebenarnya sudah lama dipraktekkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Pandangan hidup bagi suatu bangsa seperti Pancasila sangat penting artinya karena merupakan pegangan yang stabil agar tidak terombang-ambing oleh keadaan apapun, bahkan dalam era globalisasi kini yang semakin pesat melalui teknologi dan informasi muktahir.</p>
<p>Pancasila sebagai dasar negara negara digunakan sebagai dasar untuk mengatur  penyelenggaraan kehidupan penyelenggaraan ketatanegaraan yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, dan hukum-keamanan. Sebagai dasar negara, Pancasila diatur dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945 yang merupakan landasan yuridis konstitusional dan dapat disebut sebagai ideologi negara.</p>
<p>Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum, sehingga semua peraturan peraturan hukum/ketatanegaraan yang bertentangan dengan Pancasila haruslah dicabut. Perwujudan Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, dalam bentuk peraturan perundang-undangan bersifat imperatif (mengikat) bagi; (1) penyelenggara negara, (2) lembaga kenegaraan (3) lembaga kemasyarakatan, (4) warga negara Indonesia di mana pun berada, dan (5) penduduk di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Dalam tinjauan yuridis konstitusional, Pancasila sebagai dasar negara berkedudukan sebagai norma objektif dan norma tertinggi dalam negara, serta sebagai sumber dari segala sumber hukum sebagaimana yang tertuang di dalam Ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966, jo. Tap. MPR No.V/MPR/1973, jo. Tap. MPR No.IX/MPR/1978.</p>
<p>Makna Kesaktian Pancasila</p>
<p>Sebagai dasar negara, Pancasila tidak hanya merupakan sumber derivasi peraturan perundang-undangan. Melainkan juga Pancasila dapat dikatakan sebagai sumber moralitas terutama dalam hubungan dengan legitimasi kekuasaan, hukum, serta berbagai kebijakan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara. Pancasila mengandung berbagai makna dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Makna yang pertama Moralitas, sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa” mengandung pengertian bahwa negara Indonesia bukanlah negara teokrasi yang hanya berdasarkan kekuasaan negara dan penyelenggaraan negara pada legitimasi religius. Kekuasaan kepala negara tidak bersifat mutlak berdasarkan legitimasi religius, melainkan berdasarkan legitimasi hukum serta legitimasi demokrasi. Oleh karenanya asas sila pertama Pancasila lebih berkaitan dengan legitimasi moralitas.</p>
<p>Para pejabat eksekutif, anggota legislatif, maupun yudikatif, para pejabat negara, serta para penegak hukum, haruslah menyadari bahwa selain legitimasi hukum dan legitimasi demokratis yang kita junjung, juga harus diikutsertakan dengan legitimasi moral. Misalnya, suatu kebijakan sesuai hukum, tapi belum tentu sesuai dengan moral.</p>
<p>Salah satu contoh yang teranyar yakni gaji para pejabat penyelenggara negara itu sesuai dengan hukum, namun mengingat kondisi rakyat yang sangat menderita belum tentu layak secara moral (legitimasi moral).</p>
<p>Hal inilah yang membedakan negara yang berketuhanan Yang Maha Esa dengan negara teokrasi. Walaupun dalam negara Indonesia tidak mendasarkan pada legitimasi religius, namun secara moralitas kehidupan negara harus sesuai dengan nilai-nilai Tuhan terutama hukum serta moral dalam kehidupan bernegara.</p>
<p>Makna kedua Kemanusiaan, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” mengandung makna bahwa negara harus menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang beradab, selain terkait juga dengan nilai-nilai moralitas dalm kehidupan bernegara.</p>
<p>Negara pada prinsipnya adalah merupakan persekutuan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia sebagai bagian dari umat manusia di dunia hidup secara bersama-sama dalam suatu wilayah tertentu, dengan suatu cita-cita serta prinsip-prinsip hidup demi kesejahteraan bersama.</p>
<p>Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung nilai suatu kesadaran sikap moral dan tingkah laku manusia yang didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan norma-norma baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, maupun terhadap lingkungannya.</p>
<p>Oleh Karena itu, manusia pada hakikatnya merupakan asas yang bersifat fundamental dan mutlak dalam kehidupan negara dan hukum. Dalam kehidupan negara kemanusiaan harus mendapat jaminan hukum, maka hal inilah yang diistilahkan dengan jaminan atas hak-hak dasar (asas) manusia. Selain itu, asas kemanusiaan juga harus merupakan prinsip dasar moralitas dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara.</p>
<p>Makna ketiga, Keadilan. Sebagai bangsa yang hidup bersama dalam suatu negara, sudah barang tentu keadilan dalam hidup bersama sebagaimana yang terkandung dalam sila II dan V adalah merupakan tujuan dalam kehidupan negara. Nilai kemanusiaan yang adil mengandung suatu makna bahwa pada hakikatnya manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil.</p>
<p>Dalam pengertian hal ini juga bahwa hakikatnya manusia harus adil dalam hubungan dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap lingkungannya, adil terhadap bangsa dan negara, serta adil terhadap Tuhannya. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, segala kebijakan, kekuasaan, kewenangan, serta pembagian senantiasa harus berdasarkan atas keadilan. Pelanggaran atas prinsip-prinsip keadilan dalam kehidupan kenegaraan akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Makna keempat, Persatuan. Dalam sila “Persatuan Indonesia” sebagaimana yang terkandung dalam sila III, Pancasila mengandung nilai bahwa negara adalah sebagai penjelmaan sifat kodrat manusia monodualis, yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Negara merupakan suatu persekutuan hidup bersama diantara elemen-elemen yang membentuk negara berupa suku, ras, kelompok, golongan, dan agama. Konsekuensinya negara adalah beraneka ragam tetapi tetap satu sebagaimana yang tertuang dalam slogan negara yakni Bhinneka Tunggal Ika.</p>
<p>Makna kelima, Demokrasi. Negara adalah dari rakyat dan untuk rakyat, oleh karena itu rakyat adalah merupakan asal mula kekuasaan negara. Sehingga dalam sila kerakyatan terkandung makna demokrasi yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam kehidupan bernegara. Maka nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam Pancasila adalah adanya kebebasan dalam memeluk agama dan keyakinannya, adanya kebebasan berkelompok, adanya kebebasan berpendapat dan menyuarakan opininya, serta kebebasan yang secara moral dan etika harus sesuai dengan prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Seandainya nilai-nilai Pancasila tersebut dapat diimplementasikan sebagaimana yang terkandung di dalamnya, baik oleh rakyat biasa maupun para pejabat penyelenggara negara, niscayalah kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan secara nyata.</p>
<p>Terlebih lagi hingga kini kita selaku bangsa tentulah malu terhadap para pendiri negara yang telah bersusah payah meletakkan pondasi negara berupa Pancasila, sedangkan kita kini seakan lupa dengan tidak melaksanakan nilai-nilai Pancasila yang sangat sakti tersebut.</p>
<p>Perilaku KKN, kerusuhan antar sesama warga negara, ketidakadilan dan ketimpangan sosial, berebut jabatan, perilaku asusila, serta berbagai perilaku abmoral lainnya adalah segelintir perilaku yang hanya dapat merusak nilai Pancasila itu sendiri. Kini, Marilalah kita kembali junjung tinggi nilai-nilai Pancasila agar kita tetap dipandang sebagai bangsa dan negara yang beradap, beragama, beretika, dan bermoral. ***** (Andryan, SH : Penulis adalah Pemerhati Hukum Tata Negara )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=251&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/10/01/menggali-kembali-kesaktian-pancasila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer kepada Keith Foulcher</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/22/surat-terbuka-pramoedya-ananta-toer-kepada-keith-foulcher/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/22/surat-terbuka-pramoedya-ananta-toer-kepada-keith-foulcher/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2010 12:58:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan Minjem]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[pembebasan]]></category>
		<category><![CDATA[pramoedya ananta toer]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, 5 Maret 1985 Salam, Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga surat terbuka Achdiat K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang dilampirkan. Terimakasih. Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan semangat kaum manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan membela diri tanpa ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=217&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta, 5 Maret 1985</p>
<p>Salam,</p>
<p>Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga  surat terbuka Achdiat<br />
K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang  dilampirkan.<br />
Terimakasih. Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi<br />
menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan  semangat kaum<br />
manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan  membela diri tanpa<br />
ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa lalu,  yang<br />
sebenarnya lecet pun mereka tidak menderita sedikit  pun. Total jendral<br />
dari semua yang dialami oleh kaum manikebuis dalam  periode terganggu<br />
kesenangannya, belum lagi mengimbangi penganiayaan,  penindasan,<br />
penghinaan, perampasan dan perampokan yang dialami oleh  satu orang<br />
Pram. Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim  militer, dengan<br />
meminjam kata-kata dalam surat terbuka tsb.: &#8220;All  forgotten and<br />
forgiven&#8221; dan revisiannya: &#8220;We&#8217;ve forgiven but not  forgotten.&#8221; Saya<br />
hanya bisa mengelus dada. Kemunafikan dan keangkuhan  dalam paduan yang<br />
tepat, seimbang dengan kekecilan nyalinya dalam masa  ketakutan. Dan<br />
Bung sendiri tahu, perkembangan sosial-  budaya-politik&#8211;di sini<br />
Indonesia&#8211;bukan semata-mata ulah perorangan, lebih  banyak satu<br />
prosedur nasional dalam mendapatkan identitas nasional  dan mengisi<br />
kemerdekaan. Tak seorang pun di antara para manikebuis  pernah<br />
menyatakan simpati&#8211;jangan bayangkan protes&#8211;pada  lawannya yang<br />
dibunuhi, kias atau pun harfiah. Sampai sekarang.  Misalnya terhadap<br />
seniman nasional Trubus. Japo[?] Lampong. Apalagi  seniman daerah yang<br />
tak masuk hitungan mereka. Di mana mereka sekarang. Di  mana itu<br />
pengarang lagu Genjer-genjer? Soekarno mengatakan: Yo  sanak, yo<br />
kadang, yen mati m[?a]lu kelangan. Yang terjadi  adalah&#8211; masih<br />
menggunakan suasana Jawa: tego larane, tego patine.</p>
<p>Masalah pokok pada waktu itu sederhana saja:  perbenturan antara dua<br />
pendapat; revolusi sudah atau belum selesai. Yang  lain-lain adalah<br />
masalah ikutan daripadanya. Saya sendiri berpendapat,  memang belum<br />
selesai. Buktinya belum pernah muncul sejarah revolusi  Indonesia.<br />
Karena memang belum ada distansi dengannya. Belum  merupakan kebulatan<br />
yang selesai. Maka para sejarawan takut. Malah kata  revolusi nasional<br />
cenderung dinamai dan dibatasi sebagai perang  kemerdekaan.</p>
<p>Pertentangan manikebu dan pihak kami dulu tidak  lain cuma soal<br />
polemik. Memang keras, tapi tak sampai membunuh, kan?  Kan itu memang<br />
satu jalan untuk mendapatkan kebenaran umum, yang bisa  diterima oleh<br />
umum? Bahwa pada waktu itu terjadi teror yang dilakukan  oleh<br />
orang-orang Lekra sebagaimana dituduhkan sekarang,  betul- betul saya<br />
belum bisa diyakinkan. Beb Vuyk dalam koran Belanda  menuduh: teror<br />
telah dilakukan orang-orang Lekra terhadap beberapa  orang, antaranya<br />
Bernard IJzerdraad. Waktu ia datang ke Indonesia dan  menemuinya<br />
sendiri, IJzerdraad menjawab tidak pernah diteror. Dan  Beb Vuyk tidak<br />
pernah mengkoreksi tulisannya. Beb Vuyk sendiri  meninggalkan Indonesia<br />
setelah kegagalan pemberontakan PRRI-Permesta, kemudian  minta<br />
kewarganegaraan Belanda. Mungkin ia merasa begitu  pentingnya bagi<br />
Indonesia sehingga dalam usianya yang sudah lanjut  merasa<br />
berkepentingan untuk mendirikan kebohongan terutama  untuk menyudutkan<br />
saya. pada hal dalam polemik-polemik tsb. saya hanya  menggunakan hak<br />
saya sebagai warganegara merdeka untuk menyatakan  pendapat. Dan saya<br />
sadari hak saya. Seperti sering kali saya katakan:  kewarganegaraan<br />
saya peroleh dengan pergulatan bukan hadiah gratis.</p>
<p>Dan apa sesungguhnya kudeta gagal G-30S/PKI itu?  Saya sendiri tidak<br />
tahu. Sekitar tanggal 24 bulan lalu saya menerima  fotokopi dari<br />
seorang wartawan politik Eropa dari Journal of  Contemporary Asia,<br />
tanpa nomor dan tanpa tahun, berjudul: &#8220;Who&#8217;s Plot&#8211;New  Light on the<br />
1965 Events,&#8221; karangan W.F. Wertheim. Itulah untuk  pertama kali saya<br />
baca uraian dari orang yang tak berpihak. Juga itu  informasi pertama<br />
setelah 20 tahun belakangan ini. Rupa-rupanya karena  ketidaktahuan<br />
saya itu saya harus dirampas dari segala-galanya selama  14 tahun 2<br />
bulan + hampir 6 tahun tahanan kota (tanpa pernyataan  legal), tanpa<br />
pernah melihat dewan hakim yang mendengarkan pembelaan  saya. Memang<br />
sangat mahal harga kewarganegaraan yang harus saya  bayar. Maka juga<br />
kewarganegaraan saya saya pergunakan semaksimal  mungkin. Itu pun masih<br />
ada saja orang yang tidak rela. Juga surat pada Bung  ini saya tulis<br />
dengan menjunjung tinggi harga kewarganegaraan saya.</p>
<p>Sekarang akan saya tanggapi tulisan A.K.M. Ia tidak  ada di Indonesia<br />
waktu meletus peristiwa 1965 itu. Tetapi saya sendiri  mengalami. Saya<br />
akan ceritakan sejauh saya alami sendiri, untuk tidak  membuat terlalu<br />
banyak kesalahan.</p>
<p>Pada 1 Oktober 1965 pagihari saya dengar dari radio  adanya gerakan<br />
Untung. Kemudian berita tentang susunan nama Dewan  Revolusi. Sebelum<br />
itu pengumuman naik pangkat para prajurit yang ikut  dalam gerakan<br />
Untung dan penurunan pangkat bagi mereka yang jadi  perwira di atas<br />
letkol. Sudah pada waktu itu saya terheran-heran, kok  belum-belum<br />
sudah mengurusi pangkat? Ini gerakan apa, oleh siapa?  Saya lebih<br />
banyak di rumah daripada tidak. Kerja rutine ke luar  rumah adalah<br />
dalam rangka menyiapkan Lentera dan mengajar pada Res  Publika. Dan<br />
sangat kadang-kadang ke pabrik pensil di mana saya  &#8220;diangkat&#8221; jadi<br />
&#8220;penasihat.&#8221; Jadi di rumah itu saja saya &#8220;ketahui&#8221;  beberapa hal yang<br />
terjadi dari suara-suara luar yang datang. Mula-mula  datang Abdullah<br />
S.P., itu penantang Hamka, waktu itu baru saja bekerja  di sebuah surat<br />
kabar Islam yang baru diterbitkan, dan yang sekarang  saya lupa<br />
namanya. Ia mengatakan merasa tidak aman dan hendak  mengungsi ke<br />
tempatku. Saya keberatan, karena memang tidak tahu  situasi yang<br />
sesungguhnya. Seorang pegawai tatausaha Universitas Res  Publika datang<br />
ke rumah menyerahkan honor, dan mengatakan Universitas  ditutup karena<br />
keadaan tidak aman. Ia menyerahkan honor lipat dari  biasanya. Beberapa<br />
hari kemudian datang pegawai dari pabrik pensil, juga  menyerahkan<br />
honor, juga lipat dari biasanya, karena pabrik terpaksa  ditutup,<br />
keadaan gawat. Kemudian datang seorang teman yang  memberitakan, rumah<br />
Aidit dibakar, demikian juga beberapa rumah lain. Ia  juga memberitakan<br />
tentang cara massa bergerak. Mereka menyerang  rumahtangga orang,<br />
kemudian datang para petugas berseragam yang tidak  melindungi malah<br />
menangkap yang diserang. &#8220;Saya yakin Bung akan  diperlakukan begitu<br />
juga,&#8221; katanya. Soalnya apa dengan saya? tanyaku.  &#8220;Kesalahan bung,<br />
karena bung tokoh.&#8221; Itu saja? Tempatku di sini, kataku  akhirnya.</p>
<p>Seorang penjahit, yang pernah dibisiki larangan  menjahitkan pakaian<br />
saya oleh tetangga anggota PNI&#8211; penjahit itu juga<br />
tetangga&#8211;menawarkan tempat aman pada saya nun di  Brebes (kalau saya<br />
tidak salah ingat). Saya ucapkan terimakasih.  Mengherankan betapa<br />
orang lain dapat melihat, keamananku dalam ancaman.  Seorang teman lain<br />
datang dan menganjurkan agar saya lari. Mengapa lari?  tanya saya. Apa<br />
yang saya harus larikan? Diri saya? dan mengapa?</p>
<p>Kemudian datang seorang pengarang termuda yang saya  kenal. Biasanya ia<br />
langsung masuk ke belakang dan membuka sendiri lemari  makan. Ia tidak<br />
mengulangi kebiasaannya. Tingkahnya menimbulkan  kecurigaan. Saya masih<br />
ingat kata- kata yang saya ucapkan kepadanya: saya  seorang diri dari<br />
dulu, kalau pengeroyok memang hendak datangi saya akan  saya hadapi<br />
seorang diri; tempat saya di sini.</p>
<p>Keadaan makin lama makin gawat. Isteri saya baru  dua bulan melahirkan.<br />
adalah tepat bila ia dan anak-anak untuk sementara  menginap di rumah<br />
mertua. Papan nama saya, dari batu marmer,  bertahun-tahun hanya<br />
tergeletak, sengaja saya pasang di tembok depan dengan  lebih dahulu<br />
memahat tembok. Sebagai pernyataan: saya di sini,  jangan nyasar ke<br />
alamat yang salah.</p>
<p>Di tempat lain isteri kedua mertua saya mengadakan  selamatan untuk<br />
keselamatan saya. Sementara itu saya tetap tinggal di  rumah menyiapkan<br />
ensiklopedi <a href="http://sastrapembebasan.wordpress.com" target="_self"><strong>sastra</strong></a> Indonesia.  Dalam keadaan lelah saya saya beralih<br />
mempelajari Hadits Bukori. di malam hari semua lampu  saya padamkan dan<br />
saya duduk seorang diri di beranda. Teman saya hanya  seorang, adik<br />
saya yang pulang ke Indonesia untuk menyiapkan  disertasinya, Koesalah<br />
Soebagyo Toer.</p>
<p>Kemudian datang tanggal 13 Oktober 1965 jam 23.00.  Tahu-tahu rumah<br />
saya sudah dikepung. Lampu pagar dari 200 watt&#8211;waktu  tegangan hanya<br />
110, namun dapat dianggap terlalu mewah untuk kehidupan  kampung&#8211;saya<br />
nyalakan. Di depan pintu saya lihat orang lari  menghindari cahaya.<br />
Mukanya bertopeng. Tangannya membawa pikar.  Malam-malam, dengan topeng<br />
pula, langsung terpikir oleh saya, barang itu tentu  habis dirampoknya<br />
dari rumah yang habis diserbu. Saya tahu itu pikiran  jahat. apa boleh<br />
buat karena suara- suara gencar memberitakan ke rumah,  pihak militer<br />
mengangkuti anak-anak sekolah ke atas truk dan disuruh<br />
berteriak-teriak menentang Soekarno. Saya tidak pernah  melihat<br />
sendiri. Saya percaya, karena pelda (atau peltu?) yang  tinggal di<br />
depan rumah saya, sudah dua malam berturut- turut  bicara keras di gang<br />
depan rumah, bahwa militer punya politik sendiri,  Soekarno sudah tidak<br />
ada artinya. Konon ia bekas KNIL. Malah pada malam  kedua ia buka mulut<br />
keras-keras sambil mondar-mandir, dan saya merasa itu  ditujukan pada<br />
saya, rokok kretek saya cabut dari bibir dan saya  lemparkan padanya.<br />
Terdengar ia melompat sambil memekik. Jadi kalau saya  punya pikiran<br />
jahat seperti itu bukan tidak pada tempatnya. Nah,  setiap lampu pagar<br />
saya matikan, muncul gerombolan di depan pintu. Bila  saya nyalakan<br />
lagi mereka lari. Jelas mereka muka-muka yang saya  telah kenal. Tak<br />
lama kemudian batu-batu kali tetangga samping, yang  dipersiapkan untuk<br />
membangun rumah, berlayangan ke rumah saya. Itu tidak  mungkin<br />
dilemparkan oleh tenaga satu orang. Paling tidak dua  orang dengan<br />
jalan membandulnya dengan sarung atau dengan lainnya.  Kalau anak-anak<br />
saya masih di rumah, terutama bayi 2 bulan itu, saya  tak dapat<br />
bayangkan apa yang bakal terjadi. Batu besar berjatuhan  di dalam rumah<br />
menerobosi genteng dan langit-langit. Jadi benar-benar  orang<br />
menghendaki kematian saya. Saya ambil tongkat pengepel  dari kayu<br />
keras, juga mempersenjatai diri dengan samurai kecil  (pemberian<br />
Joebaar Ajoeb sekembalinya dari Jepang). Ini hari  terakhir saya, di<br />
sini, di tempat saya. Saya tahu, takkan mungkin dapat  melawan satu<br />
gerombolan, tapi saya toh harus membela diri? Jalan  kedua untuk<br />
bertahan adalah memberi gerombolan itu sesuatu yang  mereka ingat<br />
seumur hidup: kata-kata yang lebih ampuh dari senjata.</p>
<p>Dengan suara cukup keras saya memekik: Ini yang  kalian namai berjuang?<br />
Kalau hanya berjuang aku pun berjuang sejak muda. Tapi  bukan begini<br />
caranya. Datang ke sini pemimpin kalian! Berjuang macam  apa begini ini?</p>
<p>Ingar-bingar terhenti. Juga lemparan batu.  Tiba-tiba sebongkah besar<br />
batu kali menyambar paha saya dan melesat mengenai  pintu depan yang<br />
sekaligus hancur. Lemparan batu menjadi hebat kembali.  Lampu pagar<br />
sengaja dihancurkan dengan lemparan juga.</p>
<p>Saya dengar suara: Mana minyaknya. Sini, bakar  saja. Tetapi saya<br />
dengar juga suara orang tua tetangga sebelah kiri saya,  seorang dukun<br />
cinta: jangan, jangan dibakar, nanti rumah saya ikut  terbakar. Tak<br />
lama kemudian terdengar suara lagi: jangan lewat di  tanah saya. Waktu<br />
saya lihat ke dalam rumah adik saya sudah tidak ada.  Rupanya ia<br />
meloloskan diri dari pintu pagar belakang dan langsung  memasuki tanah<br />
sang dukun cinta.</p>
<p>Dan betul saja kata teman itu: kemudian datang  orang- orang<br />
berseragam. Metode kerja yang kelak akan terus- menerus  dapat dilihat.<br />
Mereka terdiri dari polisi dan militer. Saya belum lagi  sempat<br />
menggunakan tongkat dan samurai saya, mereka belum lagi  memasuki<br />
pekarangan rumah saya.</p>
<p>Komandan militer operasi dan gerombolannya saya  bukakan pintu. Mereka<br />
masuk dan langsung menyalahkan saya: sia- sia melawan  rakyat. Kontan<br />
saya jawab: Gerombolan, bukan rakyat.</p>
<p>Setelah mereka memeriksa seluruh rumah ia bilang  lagi: Siapkan, pak<br />
mari kami amankan, segera pergi dari sini. Saya  berteriak memanggil<br />
adik saya. Dia muncul, entah dari mana. Dijanjikan akan  diamankan,<br />
saya siapkan naskah saya Gadis Pantai untuk  diselesaikan dan mesin<br />
tulis. Pada seorang polisi dalam team itu saya  bertanya: kenal saya?<br />
Kenal, pak. Tolong selamatkan semua kertas dan  perpustakaan saya. di<br />
situ adalah perkerjaan Bung Karno (waktu itu saya belum  sampai selesai<br />
menghimpun cerpen-cerpen Bung Karno, dan korespondensi<br />
Soekarno-Sartono-Thamrin masih belum memadai untuk  diterbitkan). Dia<br />
berjanji untuk menyelamatkan.</p>
<p>Mereka giring kami berdua melalui gang. Gerombolan  itu berjalan<br />
mengepung di samping dan belakang. Ada yang membawa  tombak, keris,<br />
golok, belati. Benar, alat negara itu tidak menangkap  gerombolan<br />
penyerbu, malah menangkap yang diserbu. Dan sebanyak  itu dikerahkan<br />
untuk menumpas satu-dua orang. Hebat benar membikin  momentum qua<br />
perjuangan. Sampai di sebuah lapangan gang jurusan  belakang rumah,<br />
sebelum dinaikkan ke atas Nissan mereka ikat tanganku  ke belakang dan<br />
menyangkutkan ke leher, sehingga rontaan pada tangan  akan menjerat<br />
leher. Tali mati. Bukan simpul mati yang diajarkan di  kepanduan. Tali<br />
mati. Macam ikatan yang dipergunakan untuk tangkapan  yang akan dibunuh<br />
semasa revolusi dulu. Tentu saja saya menyesal akan  mati dalam keadaan<br />
seperti ini. Lebih indah bila dengan bertarung di atas  tanah tempat<br />
saya tinggal. Melewati jembatan depan rumahsakit umum  pusat Koptu<br />
Sulaiman menghantamkan gagang besi stennya pada mataku.  Cepat saya<br />
palingkan kepala dan besi segitiga itu tak berhasil  mencopot bola mata<br />
tetapi meretakkan tulang pipi. Saya memahami  kemarahannya, bukan<br />
padaku sebenarnya, tapi pada atasannya, karena tak  boleh ikut memasuki<br />
rumah saya. Mereka bawa kami ke Kostrad, kalau saya  tidak keliru. Yang<br />
sedang piket adalah seorang Letkol. Kami diturunkan di  situ, dan pada<br />
perwira itu saya minta agar kertas dokumentasi dan  perpustakaan<br />
diselamatkan. Kalau Pemerintah memang menghendaki agar  diambil, tapi<br />
jangan dirusak. Ia menyanggupi. Dari situ kami dibawa  memasuki sebuah<br />
kompleks perumahan yang saya tak tahu kompleks apa.  Dari jendela<br />
nampak puncak emas Monas. Kemudian saya dapat mengenali  rumah itu;<br />
hanya masuknya tidak berkelok- kelok melalui kompleks,  tetapi langsung<br />
dari jalan raya, karena pada 1955 di ruang yang sama  saya pernah<br />
menemui Erwin Baharuddin, bekas sesama tahanan Belanda  di penjara<br />
Bukitduri.</p>
<p>Piket mengambil semua yang saya bawa di tangan,  naskah dan mesin<br />
tulis, juga samurai yang tersisipkan dalam kaos kaki.  Waktu ia tinggal<br />
seorang diri rolex saya dikembalikan, berpesan supaya  jangan<br />
kelihatan, sembunyikan baik-baik. kami dipersilakan ke  sebuah ruangan<br />
tempat di mana sudah menggeloyor di lantai beberapa  orang. Seorang<br />
adalah Daryono dari suatu SB (entah SB apa) dan seorang  perjaka<br />
jangkung tetangga sendiri. Piket yang mengembalikan  jamtangan itu<br />
memasuki ruangan tempat kami tergolek di lantai. Di  sebuah papantulis<br />
besar tertulis dengan kapur: Ganyang PKI. Ia pergi ke  situ dan<br />
menghapus tulisan itu sambil berguman: apa saja ini!</p>
<p>Seorang bocah berpangkat kopral, bermuka manis,  menghampiri dan<br />
menanyai ini-itu. Saya tanyakan apa pangkatnya. Ia  menjawab dengan<br />
pukulan dan tempeleng, kemudian pergi. Kurang lebih dua  jam kemudian<br />
saya lihat Nissan patrol datang dan menurun-nurunkan  barang. Beberapa<br />
contoh ditaruh di atas meja di ruangan tempat kami  menggeletak di<br />
lantai. Saya kenal benda-benda itu: kartotik file saya  sendiri,<br />
dokumentasi potret sejarah, malah juga klise timah yang  saya siapkan<br />
untuk saya pergunakan dalam jangka panjang. Saya jadi  mengerti<br />
perpustakaan dan dokumentasi saya, jerih-payah selama  lima belas tahun<br />
telah dibongkar, 5.000 jilid buku dan beberapa ton  koleksi suratkabar.<br />
Angka-angka itu saya dapatkan dari sarjana perpustakaan  yang sekitar<br />
dua tahun membantu saya.</p>
<p>Tangkapan-tangkapan baru terus berdatangan. Ada  yang sudah tak bisa<br />
jalan dan dilemparkan ke lantai. Kemudian datang  tangkapan yang<br />
langsung mengenali saya. Ia bertanya mengapa saya  berlumuran darah.<br />
Baru waktu itu saya sadar kemejaku belang-bonteng kena  darah sendiri,<br />
demikian juga celana, yang rupanya teriris batu kali  yang dilemparkan.<br />
Dialah yang bercerita, semua kertas saya diangkuti  militer. Massa<br />
menyerbu dan merampok apa saja yang ada, sampai-sampai  mangga yang<br />
sedang sarat berbuah digoncang buahnya. Tak ada satu  cangkir atau<br />
piring tersisa. Rumah bung tinggal jadi bolongan kosong  blong.</p>
<p>Jangan dikira ada perasaan dendam pada saya; tidak.  Justru yang<br />
teringat adalah satu kalimat dari Njoto, yang A.K.M.  juga kenal:<br />
Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita cukup  rendah,<br />
memprihatinkan, kita perlu meningkatkannya. Saya juga  teringat pada<br />
kata-kata lain lagi: Kalau kau mendapatkan kebiadaban,  jangan beri<br />
kebiadaban balik, kalau mampu, beri dia keadilan  sebagai belasan.<br />
Dalam tahanan di RTM tahun 1960 saya mendapatkan kata  baru dari dunia<br />
kriminal: brengsek. Sekarang saya dapat kata baru pula:  di-aman-kan,<br />
yang berarti: dianiaya, sama sekali tidak punya  sangkut-paut dengan<br />
aman dan keamanan. Sebelum itu saya punya patokan  cadangan bila orang<br />
bicara denganku: ambil paling banyak 50% dari  omongannya sebagai<br />
benar. Sekarang saya mendapatkan tambahan patokan:  Kalau yang berkuasa<br />
bilang A, itu berarti minus A. Apa boleh buat,  pengalaman yang<br />
mengajarkan.</p>
<p>Di antara orang kesakitan di kiri dan kanan saya,  di mana orang tidak<br />
bisa dan tidak boleh ditolong, terbayang kembali  wartawan Afrika&#8211;saya<br />
sudah tidak ingat dari Mali, Ghana atau Pantai  Gading&#8211;yang waktu naik<br />
mobil pertanyakan: Apa Nasakom itu mungkin? Apa itu  bukan utopi? Saya<br />
jawab: di Indonesia diperlukan suatu jalan. Setiap  waktu bom waktu<br />
kolonial bisa meletus. Itu kami tidak kehendaki.  Nampaknya Nasakom<br />
sebagai kenyataan masih dalam pembinaan. Dia bilang:  Kalau Nasakom<br />
gagal? Bukankah itu berarti punahnya pemerintah sipil,  karena Nasakom<br />
tersapu? Jawabku: Kami hanya bisa berusaha. Dia bilang  lagi: Kalau<br />
Nasakom disapu, tidak akan lagi ada kekuatan  nasionalis, agama maupun<br />
komunis! Dialog selanjutnya saya sudah tak ingat.</p>
<p>Pagi itu-itu diawali kedatangan serombongan  wartawan Antara, tanpa<br />
sepatu, semua lututnya berdarah. Di antaranya paman  saya sendiri, R.<br />
Moedigdo, yang saya tumpangi hampir 3,5 tahun semasa  pendudukan<br />
Jepang. Dia pun tak terkecuali. Kemudian saya dengar,  mereka baru<br />
datang dari tangsi CPM Guntur dan habis dipaksa  merangkak di atas<br />
kerikil jalanan. Menyusul datang power. Orang- orang  militer<br />
melempar-lemparkan tangkapan baru itu dari atas geladak  dan terbanting<br />
ke tanah. Ruangan telah penuh- sesak dengan tangkapan  baru, sampai di<br />
gang-gang. Itu berarti semakin banyak erangan dan  rintihan. Di<br />
antaranya terdapat sejumlah wanita. Sedang gaung dari  pers yang<br />
menyokong militer sudah sejak belum ditangkap, tak  henti- hentinya<br />
menalu gendang untuk membangkitkan emosi rakyat  terhadap PKI dan<br />
organisasi massanya: Gerwani di Lubangbuaya memotongi  kemaluan para<br />
jendral dan melakukan tarian cabul dan semacamnya,  tipikal buah<br />
pikiran orang yang tak pernah mempunyai cita-cita. Bulu  kuduk berdiri<br />
bukan karena tak pernah menduga orang Indonesia bisa  membuat kreasi<br />
begitu kejinya.</p>
<p>Kemudian datang waktu pemeriksaan. Saya dibawa ke  ruang pemeriksaan,<br />
yang sepanjang jam, siang dan malam diisi oleh raungan  dan pekikan.<br />
Juga dari mulut wanita. Memang ruang yang saya masuki  waktu itu tidak<br />
seriuh biasanya. Alat-alat penyetrum tidak dikerahkan.  Di pojokan<br />
seorang KKO bertampang Arab, hitam, tinggi dan  langsing, dingan kaki<br />
bersepatu bot menginjak kaki telanjang yang  diperiksanya. Dan di<br />
antara jari-jemari pemuda malang itu disisipi batang  pensil dan tangan<br />
itu kemudian diremas si pemeriksa sambil tersenyum dan  bertanya: Ada<br />
apa? Ada apa kok memekik? Di samping pemuda itu adalah  saya, diperiksa<br />
oleh seorang letnan (atau kapten?) bernama Nusirwan  Adil.</p>
<p>Di luar dugaan pemeriksaan terhadap saya tidak  disertai penganiayaan<br />
seperti dideritakan pemuda malang di samping kiri saya.  Pemeriksa itu<br />
tenang dan sopan, dan mungkin cukup terpelajar dan  beradab. Ia memulai<br />
dengan pertanyaan mengapa saya berdarah-darah.</p>
<p>Jawab: terjatuh.</p>
<p>Tapi itu bukan termasuk dalam acara pemeriksaan.</p>
<p>Pertanyaan: Bagaimana pendapat tentang gerakan  Untung?</p>
<p>Jawab: tidak tahu sesuatu tentangnya.</p>
<p>Pertanyaan: Apa membenarkan gerakan itu?</p>
<p>Jawab: Kalau mendapat kesempatan mempelajari  kenyataan- kenyataannya<br />
yang authentik mungkin dalam lima tahun sesudahnya saya  akan bisa<br />
menjawab pertanyaan itu.</p>
<p>Sebelum meneruskan tentang pemeriksaan ini saya  sisipkan dulu beberapa<br />
hal sebelum penangkapan saya. Pertama: sejak semula  saya sependapat<br />
bahwa gerakan Untung, yang kemudian dinamai G-30S/PKI,  adalah gerakan<br />
dalam tubuh angkatan darat sendiri. Pendapat itu tetap  bertahan sampai<br />
sekarang, juga sebelum membaca tulisan Wertheim dalam  Journal of<br />
Contemporary Asia. Berita-berita pengejaran dan  pembunuhan semakin<br />
hari semakin banyak dan menekan. Kedua: seorang perwira  intel pernah<br />
datang berkunjung khusus untuk menyampaikan, bahwa  militer akan<br />
memainkan peranan kucing terhadap PKI sebagai tikus.  Tiga: dua<br />
mahasiswa UI telah dilynch di jalanan raya yang baru  dibangun, masih<br />
lengang, di sekitar kampus. Keempat: pemeriksaan  terhadap para<br />
tangkapan berkisar pada dua hal, pertama keterlibatan  dalam peristiwa<br />
Lubangbuaya, kedua keanggotaan Pemuda Rakyat dan PKI.  Kelima: beberapa<br />
hari sebelum penangkapan seorang pegawai Balai Pustaka  mengumumkan<br />
dalam harian Api Pancasila di Jakarta, bahwa saya  adalah tokoh Pemuda<br />
Rakyat. Karena sebagai pelapor ia menyebutkan diri  pegawai Balai<br />
Pustaka, jadi saya datang menemui direktur BP&#8211;waktu  itu Hutasuhut,<br />
kalau saya tidak salah ingat&#8211;dan mengajukan protes  karena BP<br />
dipergunakan sebagai benteng untuk menyebarkan  informasi yang salah<br />
tentang saya. Direktur BP menolak protes saya. Pegawai  yang menulis<br />
itu tinggal beberapa puluh langkah dari rumah saya.  Dalam peristiwa<br />
plagiat Hamka ia pernah mengirimkan surat pembelaan  untuk Hamka dan<br />
hanya sebagian daripadanya saya umumkan.</p>
<p>Dan memang ruangan rumah saya pernah dipinjam untuk  pendirian ranting<br />
Pemuda Rakyat. Tetapi itu bukan satu- satunya. Kalau  sore ruangan<br />
belakang juga menjadi tempat taman kanak-kanak  (reportase tentangnya<br />
pernah ditulis oleh Valentin Ostrovsky, kalau saya  tidak meleset<br />
mengingat). Setiap Kamis malam ruangan depan  dipergunakan untuk tempat<br />
diskusi Grup diskusi Simpat Sembilan. Setiap pertemuan  didahului<br />
dengan pemberitahuan pada kelurahan. Jadi tidak ada  sesuatu yang dapat<br />
dituduhkan illegal.</p>
<p>Keenam: seseorang menyampaikan pada saya, mungkin  juga pada sejumlah<br />
orang lagi, kalau diperiksa adakan anggota PKI atau  ormasnya, akui<br />
saja ya&#8211;tidak peduli benar atau tidak; soalnya mereka  tidak<br />
segan-segan membikin orang jadi invalid seumur hidup  untuk menjadi<br />
tidak berguna bagi dirinya sendiri pun untuk sisa  umurnya selanjutnya.<br />
Dan, tidak semua orang tsb., dapat saya sebut namanya,  karena memang<br />
tidak mampu mengingat&#8211;hampir 20 tahun telah liwat.</p>
<p>Jadi waktu pemeriksa menanyakan apakah saya anggota  PKI, saya jawab ya.</p>
<p>Pertanyaan: Apakah percaya negara ini akan jadi  negara komunis?</p>
<p>Jawab: Tidak dalam 40 tahun ini.</p>
<p>Sebabnya?</p>
<p>Faktor geografi dan konservativitas Indonesia.</p>
<p>Cuma itu sesungguhnya isi pemeriksaan pokok. Tetapi  karena selama<br />
dalam penahanan itu harian Duta Masyarakat memberitakan  reportase<br />
tentang penyerbuan gerombolan itu ke rumah saya dan  rumah S. Rukiah<br />
Kertapati, di mana disebutkan di rumah saya ditemukan  buku-buku curian<br />
dari musium pusat dan di rumah Rukiah setumpuk permata,  jadi<br />
pemeriksaan berpusat pada soal pencurian tsb. Memang  saya pernah<br />
meminjam satu beca majalah, harian dan buku dari musium  pusat. Yang<br />
belum saya kembalikan adalah Door Duisternis to Licht  Kartini dan<br />
harian Medan Prijaji tahun 1911 dan 1912. Kalau arsip  itu tersusun<br />
baik, akan bisa ditemukan, bahwa sumbangan saya ada 10  kali lebih<br />
banyak dari pada yang masih saya pinjam.</p>
<p>Dengan demikian pemeriksaan selesai. Benar-tidaknya  omongan saya ini<br />
dapat dicek pada proces verbal, sekiranya masih  tersimpan baik pada<br />
instansi yang berwenang.</p>
<p>Bila ada selisih, soalnya karena waktunya sudah  terlalu lama.</p>
<p>Mungkin Bung bertanya dari mana saya tahu ada  berita dalam Duta<br />
Masyarakat yang menuduh saya mencuri. Ya, pada suatu  pagi muncul<br />
seorang kapten di ruang tempat serombongan tahanan. Ia  langsung<br />
mengenali saya, sebaliknya saya mengenal dia sebagai  sersan di RTM<br />
tahun 1960. Ia bertubuh tinggi, berkulit langsat dan  bibir atasnya<br />
suwing. Saya tak dapat mengingat namanya. Suatu malam  ia kunjungi aku<br />
di kamar kapalselam (sel isolasi) di RTM itu. Banyak  mengobrol, antara<br />
lain ia bercerita pernah ikut pasukan merah dalam  Peristiwa Madiun.<br />
Pagi itu ternyata ia berpangkat kapten. Langsung ia  bertanya di mana<br />
Sjam. Itu untuk pertama kali saya dengar nama itu. Tapi  ia segera<br />
membatalkan pertanyaanya dengan kata-kata: Ah, Pak Pram  <strong>sastrawan</strong>,<br />
tentu tidak tahu siapa dia. Ramahnya luarbiasa,  bawahannya<br />
diperintahkannya untuk mengambilkan kopi dan  menyediakan veldbed untuk<br />
saya. Dan hanya perintah pertama yang dilaksanakan.  Setelah ia pergi<br />
seorang sersan gemuk yang terkenal galak, dari  Sulawesi, kalau tak<br />
salah ingat, juga seorang haji, memanggil saya dengan  ramahnya dan<br />
menyuruh saya membaca Duta Masyarakat itu.</p>
<p>Nah Bung, setelah pemeriksaan satu rombongan  dikirim ke CPM Guntur.<br />
Sebelum pergi saya minta pada Nusyirwan Adil untuk  membebaskan adik<br />
saya, karena baru saja datang ke Indonesia untuk  menyiapkan<br />
disertasinya. Ia luluskan permintaan saya, diketikkan  surat<br />
<strong>pembebasan</strong>. Sebelum pergi ia  saya titipi jam tangan saya, untuk<br />
dipergunakan belanja istri saya.</p>
<p>Di Guntur hanya untuk didaftar dan dirampas apa  yang ada dalam kantong<br />
para tangkapan. Sepatu sampai sikatgigi dan  ikatpinggang. Waktu itu<br />
baru saya sadari di dalam kantong saya masih tersimpan  honorarium dari<br />
Res Publika dan pabrik pensil. Semua dirampas dengan  alasan: nanti<br />
dalam tahanan agar tidak dicuri temannya. Dari guntur  kami dibawa ke<br />
Salemba. Tangan tetap di atas tengkuk dan tubuh harus  tertekuk, tidak<br />
boleh berdiri tegak, setinggi para penangkap. Dalam<br />
pelataran-pelataran penjara itu nama dibaca  satu-persatu oleh seorang<br />
militer. Waktu sampai pada giliran saya ia berhenti dan  berseru: Lho,<br />
Pak Pram, di sini ketemu lagi? Peltu (atau pelda) itu  adalah pengawal<br />
bersepedamotor yang mengawal sebuah sedan biru-tua  dalam bulan<br />
November 1960 dari Peperti Peganggsaan ke RTM Jl. Budi  Utomo. Dalam<br />
sedan itu saya, setelah diminta &#8220;diwawancarai&#8221; oleh  Sudharmono, mayor<br />
BC Hk. Dan peltu atau pelda di depanku Oktober 1965 itu  adalah Rompis.</p>
<p>Sejak itu berkelanjutan perampasan hak-hak  kewarganegaraan dan hak-hak<br />
sipil saya selama hampir 20 tahun ini. Dan Bung Keith,  tidak satu<br />
orang pun dari kaum manikebuis itu terkena lecet, tidak  kehilangan<br />
satu lembar kertas pun. Sampai sekarang pun mereka  masih tetap hidup<br />
dalam andaian, sekiranya kaum kiri menang. Dari menara  andaian itu<br />
mereka menghalalkan segala: perampasan, penganiayaan,  penghinaan,<br />
pembunuhan. Tetap hidup dalam kulit telur keamanan dan  kebersihan,<br />
suci, anak baik-baik para orangtua, dan anak emas dewa  kemenangan.<br />
Paling tidak sepuluh tahun lamanya saya melakukan  kerjapaksa, mereka<br />
satu jam pun tidak pernah. Nampaknya mereka masih tidak  rela melihat<br />
saya hidup keluar dari kesuraman. Waktu saya baru  pulang dari Buru,<br />
banyak di antaranya yang memperlihatkan sikap manis.  Bukan main.<br />
Tetapi setelah saya menerbitkan BM, wah, kembali muncul  keberingasan.</p>
<p>Tentang A.K.M. sendiri pertama kali saya  mengenalnya pada tahun 1946,<br />
di sebuah hotel di Garut. Ia tidak mengenal saya. Waktu  itu saya<br />
sedang dalam sebuah missi militer. Ia datang ke hotel  itu dan<br />
ngomong-ngomong dengan pemiliknya. Namanya tetap  teringat, karena<br />
waktu itu ia redaktur majalah Gelombang Zaman yang  terbit di Garut.</p>
<p>Pertemuan kedua ialah di Balai Pustaka, waktu ia  masih jadi pegawai<br />
Balai Pustaka yang dikuasai oleh kekuasaan pendudukan  Belanda. Setelah<br />
penyerahan kedaulatan ia jadi sep saya dalam kantor  yang sama&#8211;ya saya<br />
sebagai pegawai negeri dengan pengalaman semasa  revolusi sama sekali<br />
tidak diakui, karena semua pegawainya bekas pegawai  kekuasaan Belanda.<br />
Sewaktu ia hidup aman di Australia, ternyata ia masih  dalam hidup<br />
dalam andaian, dan sebagaimana yang lain- lain tetap  membiakkan<br />
pengalaman kecil-mengecil semasa Soekarno untuk jadi  gabus apung dalam<br />
menyudutkan orang- orang semacam saya. Titik tolaknya  tetap andaian.<br />
Semua tidak ada yang mencoba menghadapi saya secara  berdepan, dari<br />
dulu sampai detik saya menulis ini.</p>
<p>Dalam pada itu yang dirampas dari saya sampai detik  ini belum<br />
dikembalikan. Rumah saya diduduki oleh militer, dari  sejak berpangkat<br />
kapten sampai mayor atau letkol, bahkan bagian belakang  disewakan pada<br />
orang lain. Itu pun hanya rumah kampung, namun punya  nilai spiritual<br />
bagi keluarga dan saya sendiri. Barangkali ada gunanya  saya ceritakan.</p>
<p>Saya mendirikannya pada tahun 1958 bulan-bulan tua.  pajak Honoraria<br />
seorang pengarang adalah 15 persen, langsung dipotong  oleh penerbit.<br />
Waktu saya menyiarkan protes tentang tingginya pajak  yang 15 persen,<br />
tidak lebih dari seminggu kemudian perdana menteri  Djuanda<br />
menaikkannya jadi 20 persen, sama dengan pajak lotre.  Maka juga<br />
pendirian rumah itu melalui ancang-ancang panjang.  Kumpul-kumpul dulu<br />
kayu dari meter kubik pertama hingga sampai sepuluh  dst. Saya<br />
merencanakan rumah berdinding bambu sesuai dengan  kekuatan. Sepeda<br />
motor saya, BSA 500cc.&#8211;sepeda motor militer  sebenarnya&#8211;juga<br />
dikurbankan. Tiba-tiba mertua lelaki datang dan  mengecam: mengapa<br />
mesti bambu? Itu terlalu mahal biayanya. Menyusul  perintah: tembok!<br />
Ternyata bukan asal perintah. Ia tinggalkan pada saya  dua puluh ribu<br />
rupiah. Kalau sudah ada, kembalikan, katanya lagi. Maka  jadilah rumah<br />
tembok yang terbagus di seluruh gang. Ternyata tidak  sampai di situ<br />
ceritanya. Rekan-rekan yang tidak bisa mengerti,  seorang pengarang<br />
bisa mendirikan rumah, mulai dengan desas-desusnya.  Satu pihak<br />
mengatakan, saya telah kena sogok Rusia. ada yang  mengatakan RRT.<br />
Teman-teman yang dekat mengatakan saya telah kena sogok  Amerika. Orang<br />
tetap tidak percaya seorang pengarang bisa membangun  rumah sendiri.<br />
Mereka lupa, dalam Bukan Pasar Malam telah saya  janjikan pada ayah<br />
saya untuk memperbaiki rumah, dalam tahun pertama saya  keluar dari<br />
penjara Belanda. yang saya lakukan lebih daripada apa  yang saya<br />
janjikan, saya bangun baru, dan pada masanya adalah  rumah terbagus di<br />
seluruh kompleks, sekali pun hanya berdinding kayu  jati. (Sekarang<br />
memang jati lebih mahal dari tembok).</p>
<p>Kami sempat meninggali rumah kampung itu hanya  sampai tahun 1965 atau<br />
7 tahun. Orang yang tidak berhak justru selama hampir  20 tahun.<br />
Iseng-iseng pernah saya tanyakan; jawabnya seenaknya:  apa bisa<br />
membuktikan rumah itu bukan pemberian partai? Habis  sampai di situ.<br />
Pada yang lain mendapat jawaban: jual saja rumah itu,  separohnya<br />
berikan pada penghuninya. Dan saya bilang: saya tidak  ada prasangka<br />
orang yang menghuni rumah saya itu dari golongan  pelacur. Walhasil<br />
sampai sekarang tetap begitu saja.</p>
<p>Baik, kaum manikebuis masih belum puas dengan  segala yang saya alami.<br />
Saya sama sekali tidak punya sedikitpun perasaan  dendam. Setiap dan<br />
semua pengalaman indrawi mau pun jiwai, bukan hanya  sekedar modal,<br />
malah menjadi fondasi bagi seorang pengarang.</p>
<p>Apa yang dialamai A.K.M. semasa Soekarno masih  belum apa-apa<br />
dibandingkan yang saya alami. Peristiwa Kemayoran? Pada  1958 sepulang<br />
dari Konferensi Pengarang A- A di Tasykent lewat  Tiongkok saya tidak<br />
diperkenankan lewat Hongkong dan terpaksa lewat  Mandalay, Burma.<br />
Artinya, dengan kesulitan tak terduga. Sampai di  Rangoon pihak<br />
Kedutaan RI tidak mau membantu memecahkan kesulitan  saya. Apa boleh<br />
buat, tidak ada jalan bagi saya daripada mengancam akan  memanggil para<br />
wartawan Rangoon dan Jawatan Imigrasi Burma, memberikan  pernyataan,<br />
bahwa ada kedutaan yang tak mau mengurus warganegaranya  yang<br />
terdampar. Mereka terpaksa mengurus saya sampai tiba di  Jakarta. Dari<br />
Rangoon kemudian datang surat yang menuntut macam-  macam. Saya hanya<br />
menjawab dengan caci-maki dengan tembusan pada menteri  luarnegeri,<br />
waktu itu Dr. Subandrio. Saya harap surat itu masih  tersimpan dalam<br />
arsip. Peristiwa itu terjadi berdekatan dengan hari  saya menghadap<br />
Bung Karno untuk menyerahkan dokumen keputusan  Konferensi di samping<br />
juga bingkisan dari Ketua Dewan Menteri Uzbekistan,  Syaraf Rasyidov,<br />
kepadanya, disaksikan oleh beberapa orang, diantaranya  Menteri Hanafi.<br />
Tak terduga dalam pertemuan itu terjadi sedikit  pertikaian dengan Bung<br />
Karno. Ia memberi saya suatu instruksi dan saya  menolak, karena<br />
sebagai pengarang saya punya porsi kerja sendiri.  Pertikaian ini<br />
kemudian melarut, yang saya anggap wajar, sampai  akhirnya atas<br />
perintah Nasution saya ditahan di RTM, kemudian ke  tempat lebih keras<br />
di Cipinang, karena menentang PP 10. Hampir satu tahun  dalam penjara,<br />
kemudian dilepaskan dalam satu rombongan dan dengan  satu nafas dengan<br />
para pemberontak PRRI-Permesta sebagai hadiah  terbebasnya Irian Barat.<br />
Pada hal tidak lebih dari 3 tahun sebelumnya Nasution  itu-itu juga<br />
memberi saya surat penghargaan no. 0002 untuk bantuan  pada angkatan<br />
perang dalam melawan PRRI di SumBar.</p>
<p>Penahanan 1960-61 itu merupakan pukulan pahit bagi  saya. Bukan saya<br />
yang melakukan adalah kekuasaan Pemerintah saya  sendiri. Juga sama<br />
sekali tidak ada setitik pun keadilan di dalamnya. Saya  merasa hanya<br />
menuliskan apa yang saya anggap saya ketahui, dan  berdasarkan padanya<br />
pendapat saya sendiri. Dengan nama jelas, lengkap.  Alamat saya pun<br />
jelas, bukan seekor keong yang setiap waktu dapat  memindahkan<br />
rumahnya. Saya membutuhkan pengadilan. Dan itu tidak  diberikan kepada<br />
saya. Dalam isolasi ketat di Cipinang saya kirimkan  surat pada Bung<br />
Karno melalui Ngadino, kemudian mengganti nama jadi  Armunanto, kepala<br />
redaksi Bintang Timur dan anggota DPA. Surat itu  bertujuan untuk<br />
mendapat hukuman yang justified, entah sebagai  pengacau, entahlah<br />
sebagai penipu. Setidak-tidaknya bukan yang seperti  sekarang. Ia tidak<br />
meneruskannya, dengan alasan ada orang lain menyimpan  tembusannya.<br />
Orang itu adalah H.B. Jassin. Saya yakin surat itu  masih tersimpan.</p>
<p>Dapat Bung bandingkan, bahwa andaian kesulitan  semasa Soekarno masih<br />
tidak berarti dengan kenyataan kesulitan yang saya  sendiri alami.</p>
<p>Saya heran, bahwa di dalam halaman 2 A.K.M.  menyatakan keheranannya<br />
mengapa namanya dicoret dari daftar pencalonan Front  Nasional. Terasa<br />
lucu dan naif, selama ia sendiri tidak punya kekuasaan  untuk<br />
menentukannya. Katanya Lekra membakari bukunya? Saya  baru tahu dari<br />
halaman itu. Mungkin Boen S. Oemarjati yang berhak  memberi penjelasan.</p>
<p>Di halaman 3 alinea pertama terdapat kisah yang  mengagumkan tentang<br />
Taslim Ali. Saya sering datang ke tempatnya di gedung  perusahaan<br />
Intrabu. Jadi dalam gambaran saya orang yang &#8220;selalu  menterornya<br />
dengan meletakkan pestol di atas meja&#8221; -nya itu adalah  saya. Pramoedya<br />
Ananta Toer. Soalnya surat Goenawan Muhammad tertanggal  28 November<br />
1980 pada Sumartana mengatakan (hlm.3): &#8220;Achdiat pernah  bercerita,<br />
bahwa Pram pernah datang ke Balai Pustaka dengan  meletakkan pistol di<br />
meja.&#8221; Kapan itu terjadi? Pestol siapa? Siapa yang saya  temui dan saya<br />
teror? Kiranya, kalau Goenawan tak berandai- andai,  A.K.M. sendiri<br />
yang berhak menjawab. Dalam alam kemerdekaan nasional  memang pernah<br />
saya bersenjata api. Suatu hari dalam 1958. Bukan  pestol, tapi<br />
parabellum. Tempat: dalam sebuah jeep dalam perjalanan  antara Bayah<br />
dengan Cikotok. Saksi: seorang letnan angkatan darat.  Ia membutuhkan<br />
bantuan saya untuk menyelidiki benar- tidaknya ada  boulyon-boulyon<br />
emas disembunyikan oleh Belanda sebelum meninggalkan  Jawa pada 1942 di<br />
dasar tambang mas Cikotok, dengan kesimpulan, bahwa  semua itu omong<br />
kosong belaka. Mengapa bersenjata? Karena sebelumnya  sebuah kendaraan<br />
umum telah dicegat DI, dibakar. Dan bangkainya masih  nongkrong di<br />
pinggir jalan. Sebagai pengarang saya masih lebih  percaya kepada<br />
kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya  hanya akan<br />
berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik. Dan  saya pun tidak<br />
pernah bisa diyakinkan ada orang datang untuk menteror  Taslim Ali. Apa<br />
yang bisa didapatkan dari dia? Sebaiknya A.K.M.  menyebut jelas siapa<br />
nama penteror itu.</p>
<p>Di halaman 5 tulisan A.K.M. alinea terbawah ditulis  bahwa: &#8220;di depan<br />
rumahnya saya sempat menyusukan selembar 10 ribu rupiah  ke dalam<br />
kepalannya. Dia agaknya begitu terharu, sehingga nampak  matanya basah<br />
tergenang,&#8221; dan &#8220;saya tahu Pram tentu butuh duit ketika  itu.&#8221; Memang<br />
agak janggal menampilkan saya saya semacam itu. Pada  waktu itu saya<br />
tidak dapat dikatakan dalam kesulitan keuangan. Segera  setelah pulang<br />
dari Buru sejumlah bekas tahanan Buru datang pada saya  minta dibantu<br />
memecahkan kesulitan mereka mencari penghidupan. Memang  pihak gereja<br />
telah banyak membantu, dan saya menghormati dan  menghargai jasanya<br />
pada mereka dengan tulus. Tetapi selama status dan  namanya bantuan<br />
barang tentu tidak mencukupi kebutuhan apalagi untuk  keluarganya. Jadi<br />
saya dirikan sebuah PT pemborong bangunan, sebuah usaha  yang bisa<br />
menampung banyak tenaga. Pada waktu A.K.M. datang ke  rumah telah 36<br />
orang ditampung, sebagian berkeluarga. Tidak kurang  dari 5 rumah<br />
dikerjakan, di antara 2 rumah mewah. Ada di antara  mereka menumpang<br />
ada saya. Usaha ini telah dapat memberi hidup  (terakhir) 60 orang<br />
dengan keluarganya. Tapi kesulitan itu? Beberapa kali  datang intel,<br />
yang dengan lisan mengatakan, rumah saya jadi tempat  berkumpul tapol.<br />
Beberapa orang dari kantor kotapraja memberi ultimatum  untuk<br />
menyediakan uang sekian ratus ribu dalam sekian hari.  Seseorang datang<br />
dan mengibar-ngibarkan kartu identitasnya sebagai intel  Hankam.<br />
Seorang datang mengaku sebagai pegawai sospol Depdag  dengan tambahan<br />
keterangan, teman-temannya orang Batak banyak, dan  orang tidak<br />
selamanya waspada. Tak akan saya katakan apa maksud  kedatangan mereka.<br />
Itu yang datang dari luar. Kesulitan dari dalam pun tak  kalah<br />
banyaknya. Teman-teman bekas tapol rata-rata sudah  surut tenaganya<br />
karena tua. Mereka belum terbiasa dengan teknik baru  pembangunan rumah<br />
sekarang. Mereka tidak terbiasa dengan material baru  dan<br />
pengerjaannya. Di samping itu kerjapaksa berbelas tahun  tanpa imbalan<br />
tanpa penghargaan, setiap hari terancam hukuman, telah  berhasil<br />
merusakkan mental sebagian dari mereka. Dalam pekerjaan  yang mereka<br />
hadapi mereka tidak berbekal ketrampilan vak. Sedang  impian berbelas<br />
tahun dalam posisinya sebagai budak-budak Firaun adalah  terlalu indah.<br />
Seorang yang di Buru mempunyai setiakawan begitu tinggi  dan diangkat<br />
jadi kepala kerja, kemudian lari membawa uang, dan  bukan sedikit.<br />
Seorang yang relatif masih muda, suatu malam datang  dengan membawa<br />
truk dan mengangkuti material bangunan yang telah  tersedia dan<br />
menjualnya di tempat lain dengan harga rendah untuk  dirinya sendiri.<br />
Seorang lagi yang juga tergolong muda, sama sekali  tanpa ketrampilan<br />
tukang, mendadak mengorganisasi pemogokan dengan  tuntutan berlipat<br />
dari hasil kerjanya. Pick-up Luv Chevrolet, sumbangan  teman- teman<br />
Savitri, dalam 3 bulan sudah berban gundul dan  penyok-penyok.</p>
<p>Pukulan lain yang tak kurang menyulitkan datang.  Memang sudah<br />
diselesaikan sekitar 8 rumah dengan keadaan seperti  itu. Kemudian dua<br />
di antara yang dibangunkan rumahnya tidak mau melunasi  kewajibannya,<br />
mengetahui kedudukan hukum kami lemah. Berkali-kali  Savitri minta<br />
pertanggungjawaban atas bantuan teman-temannya yang  diberikan. Saya<br />
tak mampu lakukan itu. Tidak lain dari saya sendiri  yang akan merasa<br />
malu, dan semua harus saya telan sendiri. Akhirnya saya  perintahkan<br />
pembubaran PT itu tanpa pernah memberikan  pertanggungjawaban pada<br />
teman- teman Savitri.</p>
<p>Nah Bung, seperti itu situasi waktu terima selembar  sepuluh ribu itu,<br />
yang sama sekali tidak pernah saya kira akan  dipergunakan oleh A.K.M.<br />
untuk memperindah gambaran tentang dirinya. Semua  kebaikan tidak akan<br />
sia-sia memang bila tidak berpamrih. Dengan pamrih pun  tentu saja<br />
tidak mengapa, sejauh setiap tindak manusia yang sadar  pasti mempunyai<br />
motif. Tetapi bila pemberian dipergunakan sebagai  investasi, yang<br />
setiap waktu dikutip ribanya, sekalipun hanya riba  moril, itu memang<br />
betul-betul investasi, bukan pemberian. Dan siapa di  dunia ini tidak<br />
pernah menerima? Waktu saya baru datang dari Buru dan  sejumlah orang<br />
yang datang hanya untuk bersumbang. Jumlahnya dari 60  sampai 100 ribu,<br />
di antaranya 3 mesin tulis, yang tiga-tiganya langsung  diteruskan<br />
untuk tapol yang lebih memerlukan. Demikian juga halnya  dengan uang<br />
pemberian. Saya pribadi praktis tidak ada uang dalam  kantong. Itu akan<br />
kelihatan bila berada di luar rumah. Di Buru pun ada  sejumlah pemberi,<br />
dari lingkungan dalam dan luar tapol, dari satu sampai  sepuluh ribu.<br />
Dalam keadaan sulit di Buru pun orang normal tidak bisa  tinggal jadi<br />
penerima saja. Terutama pihak gereja Katholik pernah  memberi keperluan<br />
tulis-menulis saya setiap bulan. Bahkan pernah saya  terima 2 kali<br />
berturut satu kardus besar berisi kacamata, dan pakaian  untuk saya<br />
pribadi. (Sampai sekarang saya simpan.) Maksud saya  hanya untuk<br />
menerangkan, pada bangsa-bangsa terkebelakang, atau  menurut redaksi<br />
baru bangsa-bangsa yang berkembang, memberi adalah  keluarbiasaan dan<br />
menerima adalah kebiasaan yang perlu dinyatakan.</p>
<p>Jangan dikira saya menulis demikian dengan emosi.  Tidak. Suatu dialog<br />
bagi saya tetap lebih menyenangkan daripada monolog.  Setidak-tidaknya<br />
dialog adalah pencerminan jiwa demokratis. Tetapi  ucapan all forgiven<br />
and forgotten atau we&#8217;ve forgiven but not forgotten,  benar- benar<br />
produk megalomaniak yang disebabkan mendadak bisa  melesat dari<br />
kompleks inferiornya, bukan karena kekuatan dalam, tapi  luar dirinya.</p>
<p>Tentang Pancasila di hlm. 6, saya takkan banyak  bicara kecuali<br />
menyarankan untuk membuka-buka kembali pers Indonesia  semasa Soekarno,<br />
khususnya sekitar sebab mengapa presiden RI membubarkan  konstituante<br />
itu. Golongan mana yang menolak dan mana yang menerima  Pancasila<br />
sebelum dapat interpretasi atau pun revisi, formal  ataupun non- formal.</p>
<p>Dalam hubungan ini saya teringat pada ucapan Nyoto,  kalau tidak salah<br />
di alun-alun Klaten pada tahun 1964, bahwa nampak ada  kecenderungan<br />
pada suatu golongan masyarakat (saya takkan mungkin  mampu mereproduksi<br />
redaksinya) yang membaca kalimat-kalimat Pancasila  menjadi: Satu,<br />
Ketuhanan yang Maha Esa; Dua, Ketuhanan yang Maha Esa;  Tiga, Ketuhanan<br />
yang Maha Esa; Empat, Ketuhanan yang Maha Esa; dan  Lima, Ketuhanan<br />
yang Maha Esa. Dia tidak dalam keadaan bergurau.</p>
<p>Selama 14 tahun dalam tahanan ucapan Nyoto bukan  saja menjadi<br />
kebenaran, lebih dari itu. Dakwah-dakwah yang  diberikan, atau lebih<br />
tepatnya dengan istilah orde baru santiaji, orang tidak  menyinggung<br />
sila-sila lain sesudah sila pertama, kalau menyinggung  pun hanya<br />
sekedar penyumbat botol kosong: beragama dan tidak  beragama berarti<br />
sembahyang. Tidak bersembahyang berarti tidak  pancasilais, bisa juga<br />
anti-pancasila. Ya, buntut panjang itu rupanya  diperlukan untuk<br />
menterjemahkan alam pikiran formalis Pribumi Indonesia,  tidak mampu<br />
membebaskan diri dari lambang-lambang, upacara, hari  peringatan,<br />
pangkat dan tanda-tandanya&#8211;dan bagi suku Jawa cukup  lengkap di<br />
dideretkan dalam <strong>sastra</strong> wayang.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman sendiri saya dapat katakan:  Revolusi Indonesia<br />
tidak digerakkan oleh Pancasila; ia digerakkan oleh  patriotisme dan<br />
nasionalisme. Baru pada 1946 saya pernah mendapat tugas  untuk memberi<br />
penerangan tentang Pancasila dan PBB kepada pasukan.  Selanjutnya tetap<br />
tidak ada pertautan antara Pancasila dengan Revolusi.</p>
<p>Saya menghormati pandangan A.K.M. tentang Pancasila  yang ia yakini,<br />
sekali pun dengan Pancasila itu juga orang- orang  sejenis kami<br />
di-buru-kan sampai 10 tahun, dan A.K.M. tidak pernah  melakukan sesuatu<br />
protes. Dan pertanyaan kemudian, apakah ia tetap  berpandangan<br />
demikian&#8211;artinya tak perlu melaksanakannya dalam  praktek&#8211;pada waktu<br />
kepentingan dan keselamatan jiwanya terancam? Bicara di  lingkungan<br />
aman memang lebih mudah untuk siapapun, dan: tanpa  pembuktian.</p>
<p>Dalam hubungan Pancasila dengan demokrasi barat di  hlm. 7 sebagai<br />
pesan A.K.M. pada rekan-rekannya sarjana Australia saya  mempunyai kisah.</p>
<p>Pada 1984, Mr. Moh. Roem terkena serangan jantung  dan dirawat di RSCM.<br />
Seorang dokter menjemput saya, mengatakan, Pak Roem  menginginkan<br />
kedatangan saya. Saya tak pernah mengkaji apakah itu  keinginan Pak<br />
Roem atau ambisi si dokter itu saja. Langsung saya  berangkat bersama<br />
dengannya. Di ruang itu Pak Roem tidur dalam keadaan  masih dihubungkan<br />
pada alat pengontrol jantung. Penjemput saya langsung  menemani perawat<br />
sehingga hanya kami berdua di situ tanpa saksi.  Menghadapi orang dalam<br />
keadaan gawat tentu saja saya tidak bicara apa-apa.  hanya beliau yang<br />
bicara sampai lelah, sebagai pertanda saya harus  mengundurkan diri<br />
untuk menghemat tenaga yang beliau perlukan sendiri.  Terlalu banyak<br />
yang disampaikannya pada saya untuk orang dalam keadaan  gawat seperti<br />
itu. Satu hal yang berhubungan dengan Pancasila dan  demokrasi Barat,<br />
dan beliau sebagai ahli hukum, adalah: 50 + 1? Ya, biar  begitu perlu<br />
dipertimbangkan dengan adil, tidak seperti selama ini  dinilai. Dalam<br />
sejarah kita telah dibuktikan, bahwa kesatuan Indonesia  terwujud hanya<br />
karena demokrasi parlementer Barat.</p>
<p>Nah, Bung Keith, inti persoalan dengan kaum  manikebu cukup jelas: saya<br />
menggunakan hak saya sebagai warganegara Indonesia, hak  yang juga ada<br />
pada kaum manikebu. Omong kosong bila dikatakan pada  waktu itu mereka<br />
tak punya media untuk menerbitkan sanggahan. Waktu  sekarang, waktu<br />
secara formal hak sanggah melalui mass media tidak ada,  saya tetap<br />
menyanggah dengan berbagai cara yang mungkin, kalau  memang ada yang<br />
perlu disanggah. Sedang ucapan Pak Roem tsb., ternyata  adalah pesan<br />
politik terakhir. Beberapa minggu kemudian beliau  meninggal dunia.</p>
<p>Saya belum selesai. Masih ada satu hal yang perlu  disampaikan, hanya<br />
di luar hubungan dengan surat terbuka Achdiat K.  Mihardja.</p>
<p>Tak lama setelah pertemuan kita terakhir saya  menerima surat dari<br />
M.L., yang intinya tepat suatu jawaban terhadap saya.  Tentu saja saya<br />
mendapat kesan kuat, pembicaraan kita Bung teruskan  padanya. Terima<br />
kasih, bahwa hal-hal yang tidak jelas sudah dibikin  terang olehnya.</p>
<p>Untuk tidak keliru membikin estimate tentang saya  dalam persoalan<br />
khusus ataupun umum ada manfaatnya saya sampaikan bahwa  saya<br />
menyetujui kehidupan bipoler. Saya membenarkan adanya  dua superpower,<br />
bukan saja sebagai kenyataan, juga sebagai pernyataan  makro nurani<br />
politik ummat manusia. Kalau hanya ada satu superpower  akibatnya<br />
seluruh dunia akan jadi bebeknya. Dua superpower  mewakili kekuatan ya<br />
dan kekuatan tidak, kekuasaan dan opposisi. Dalam  tingkat nasional<br />
saya menyetujui kehidupan bipoler. Ada kekuasaan ada  opposisi. Kalau<br />
tidak, rakyat akan jadi bebek pengambang, dengan  kepribadian tidak<br />
berkembang. Demokrasi dengan opposisi adalah juga  pernyataan makro<br />
nurani politik nasional. Dia adalah juga pencerminan  mikro nurani<br />
pribadi manusia, yang tindakannya ditentukan oleh ya  atau tidak. Hewan<br />
dengan serba naluri tak memerlukan nurani. Ia tak  mengenal ya ataupun<br />
tidak.</p>
<p>Semoga surat kelewat panjang ini&#8211;lebih tepat usaha  pendokumentasian<br />
diri sendiri&#8211;ada manfaatnya. Saya tidak ada keberatan  bila diperbanyak.</p>
<p>Salam pada semua yang saya kenal, juga pada M.L.  dan Savitri yang<br />
pernah saya kecewakan.</p>
<p>Belakangan ini kesehatan saya agak membaik. Soalnya  saya menggunakan<br />
ramuan tradisional yang ternyata mengagumkan. Dengan  pengamatan<br />
melalui tes urine dengan benedict kadar gula yang  positif dalam 24 jam<br />
dapat menjadi negatif, yang tidak dapat saya peroleh  melalui sport dan<br />
kerja badan selama 2 minggu.</p>
<p>Salam hangat untuk Bung sendiri dan keluarga.</p>
<p>Tetap (tanda tangan).</p>
<p>Demi Demokrasi 2 (1985); an English translation is in Indonesia<br />
Reports, cultural and social supplement (August 1986)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/217/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/217/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/217/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=217&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/22/surat-terbuka-pramoedya-ananta-toer-kepada-keith-foulcher/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budaya Pembebasan di Indonesia Sejarah, metode dan bentuk</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/22/budaya-pembebasan-di-indonesia-sejarah-metode-dan-bentuk/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/22/budaya-pembebasan-di-indonesia-sejarah-metode-dan-bentuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2010 12:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan Minjem]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pembebasan]]></category>
		<category><![CDATA[ibu kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Max Havelaar]]></category>
		<category><![CDATA[ronggo warsito]]></category>
		<category><![CDATA[sastra pembebasan]]></category>
		<category><![CDATA[Soe Hok Gie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Budaya tak sekadar warisan seni dalam kertas berdebu minta dicetak ulang, batu-batu rapuh minta dipugar atau juga gagasan beku nenek-moyang minta dielus atau dikritik bahkan dihancurkan, tapi ia adalah semua dalam material dan immaterial yang cahayanya memancar tanpa diminta atau dijelaskan bahkan. Bukankah kita sering mendengar Bali, pulau dewata, Jawa: halus-lembut, eropa: liberal, soviet: revolusioner, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=211&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Budaya tak sekadar warisan seni dalam kertas berdebu minta dicetak  ulang, batu-batu rapuh minta dipugar atau juga gagasan beku nenek-moyang  minta dielus atau dikritik bahkan dihancurkan, tapi ia  adalah semua  dalam material dan immaterial yang cahayanya memancar tanpa diminta atau  dijelaskan bahkan. Bukankah kita sering mendengar Bali, pulau dewata,  Jawa: halus-lembut, eropa: liberal, soviet: revolusioner, Padang:  cinanya Indonesia alias pintar dagang dan lain-lain. Semuanya itu sering  disebut Ethos. Dicitrakan dalam karya-karya seni: sastra-sastranya,  musik-musiknya, tari-tariannya, rumah-rumahnya, gedung-gedungnya,  taman-tamannya, pesta-pestanya, jalan-jalannya, tingkah-lakunya,  humor-humornya dan akhirnya kosmos keseluruhan dalam alam pikirannya  untuk memahami ontologi keberadaan dirinya dan alam semesta ruang dan  waktu tempat ia berdiri hidup, bernafas dan mati. Atau singkatnya  Filsafat.</p>
<p>Dalam praktek hidup manusia yang panjang itu sampai  juga pada pemahaman masyarakat berkelas: penindas dan kaum tertindas  bahkan kesimpulan dari hidupnya: sejarah manusia adalah sejarah  perjuangan klas yaitu perjuangan dan pemberontakan antara kaum tertindas  kepada kaum penindas. Tanpa penindasan tentu tak akan ada perjuangan  pembebasan. Itulah yang menggerakkan roda kemajuan zaman. Pemahaman ini  dimulai oleh Hegel dan diteruskan para pengikutnya terutama yang  bergerak di lingkaran Hegelian Kiri, termasuk Karl Marx.</p>
<p>Di sini,  dimulai peletakan batu fondasi budaya pembebasan. Heine menyatakan  dalam syair:</p>
<p>Terimakasih bagi Hegel<br />
Yang mengajari saya<br />
Bahwa  Tuhan yang baik<br />
Tidak bermukim di dalam surga<br />
Seperti yang  dikatakan nenek<br />
Tapi saya sendiri<br />
Dapat jadi Tuhan yang baik</p>
<p>Bangunan  budaya pembebasan pun terus menemukan bentuk. Gerakan pembebasan ini  berkait erat dengan perlawanan-perlawanan rakyat dalam berbagai bentuk  termasuk  seni yang berkehendak membebaskan diri dari sistem  penindasan  dan penghisapan bahkan menemukan jenis manusia yang menjadi juru-slamat  seni dari penindasan Kapitalisme yakni klas pekerja.</p>
<p>Itulah  capaian filsafat abad ke-19. Ia seperti menara tinggi yang sanggup  melihat capaian kebudayaan masa lalu dan masa depan.  Kebudayaan masa  lalu yang bagaimana yang harus dimaknai sebagai hasil kemerdekaan  manusiawi atau harus dihancurkan karena bermakna anti-manusia dan  bagaimana kebudayaan masa depan harus dibangun yaitu  budaya yang  membebaskan manusia dari sistem penindasan dan penghisapan.</p>
<p>Kearifan  pembebasan macam itu sampai juga pada kita yang berada di persimpangan  budaya: nusantara. Sneevlit membawa api baru dalam gerakan pembebasan.  Ia membangunkan organisasi yang berlawan pada tahun 1914. Membangkit  orang-orang pribumi untuk menyadari sistem penindasan dan penghisapan  yang berlaku atas negeri dan rakyat nusantara serta melawannya. Hasil  dari olahan tangannya adalah Semaun: remaja non akademik yang  berkesadaran maju, di bidang  ideologi, politik dan organisasi pada usia  13 tahun. Pada usia remaja ini, Semaun telah dipercaya menjadi  sekretaris SI cabang Semarang. Tentu ini suatu kemampuan yang ajaib yang  tak akan ditemukan pada masa sekarang. Pada masa lalu kalau kita  percaya tentu yang dapat menyaingi adalah Yesus yang sanggup berdebat  dengan para rabbi Yerusalem pada usia 12 tahun. Obor pembebasan di  nusantara ini terus menjalar, meretas jalan pembebasan dan berusaha  memahami detail keringat untuk kerja pembebasan yang telah ditempuh para  pekerja sebelumnya. Alat-alatnya telah ditaburkan ISDV minimal arah  pembebasan  manusia secara komprehensif.</p>
<p>***</p>
<p>Tanpa Obor:  Kegelapan pun Harus dimaknai</p>
<p>Beberapa orang menolak ada basis  budaya pembebasan di Indonesia (di Nusantara). Yang ada melulu budaya  pembodohan, penindasan. Semua budaya yang membebaskan datang dari luar  yang datang bersama imperialisme: Belanda menghapuskan budaya sutee dan  melarang kanibalisme, Inggris menghancurkan pemilikan tanah yang feodal.  Bersama mereka juga dibawa nilai-nilai baru: demokrasi, sosialisme,  nasionalisme, pendidikan: zending yang kemudian ditiru Muhamaddiyah.  Rapat, kongres, pertemuan, notulensi dan vergadering, termasuk teater  pun dibawa oleh mereka. Pramoedya juga berada dalam posisi seperti ini.  Tapi benarkah begitu? Kalau ukurannya adalah gerakan pembebasan modern  dengan cara pikir yang modern: rasionalitas. Tentu pendapat ini  dibenarkan. Logika modern sendiri baru dikembangkan Aristoteles pada  abad 4 SM. Cara berpikir yang berangkat dari kesimpulan atas perenungan  manusia sendiri baru berkembang pada beberapa abad sebelum Aristoteles.  Semua itu terjadi di Asia kecil dengan Yunani sebagai bintangnya.  Kebudayaan ini meluas bersamaan meluasnya kerajaan Macedonia di bawah  Alexander Agung: Helenisme yang sampai juga di India. India kelak  menjadi kiblat kebudayaan berabad-abad  kerajaan-kerajaan nusantara.  Pengaruhnya sampai kini terasa terutama dalam bahasa. Bahkan pernah   menguasai bahasanya,  Sangskerta dianggap menguasai bahasa dewa,  kemudian bahasa yang indah dan menjadi kembangnya bahasa Jawi yang  menjadi syarat bila ingin menjadi pujangga.</p>
<p>India memperkenalkan  huruf, cara berhitung dan pengaturan masyarakat dan tentu saja cara  berpikir dan kepercayaanya. Pram memaknai ini sebagai perubahan dari  kondisi komunal purba ke feodalisme sebagai penindasan pertama. Semua  ini dipastikan dilakukan dengan cara kekerasan. (Baca Hoa Kiau di  Indonesia) Bagaimana ini berjalan belum pernah ada penelitian.  Kebanyakan penulis Kebudayan Indonesia, Pengaruh India berlaku dengan  perdagangan dan penyebaran agama yang selanjutnya berkembang di  masyarakat karena diterima dengan damai. Perlawanan yang ada adalah  perlawanan budaya dengan tetap mempertahankan ciri-ciri lokal yang  dianggap dikerjakan oleh para genius lokal yang tak ingin larut dalam  indianisasi. Misalnya Candi yang berundak, dengan pundennya dianggap  budaya asli. Lantas: cara penguburan bujur selatan-utara, bahkan  dianggap sebagai simbol perlawanan dan kehati-hatian karena dari  utaralah datang kematian dan kehidupan.</p>
<p>Masa-masa gelap di bawah  feodalisme ini berlangsung lama tanpa kepemimpinan yang jelas. Tak ada  terang budaya yang membebaskan. Intrik-intrik kotor khas feodal  berlangsung terus: mulai dari rebutan kerajaan sampai selir. Walau  begitu kegelapan ini diterangi dengan:  peribahasa,  cerita dan dongeng  perlawanan tanpa akhir dari para pengembara ksatria yang setia pada  rakyat kecil: seperti Joko Umboro, Joko Lelono dan seringkali dengan  mengangkat cerita budaya di luar mainstream Kraton:  seperti Syech Siti  Jenar, Arya Penangsang, Mangir, atau Centhini atau menulis satir dengan  nama-nama gelap seperti yang disinyalir dikerjakan oleh Ronggo Warsito.   Sampai pada Cipto, Mangir dijadikan tokoh untuk melawan feodalisme  Kraton,  Ronggo Warsito sampai pada lekra masih harus diteliti dan  diterjemahkan syair-syair kerakyatannya. Arya Penangsang oleh Pram  melalui Tirto dijadikan tokoh acuan yang memberontak terhadap Kebudayaan  yang beku, pedalaman.</p>
<p>Beberapa peribahasa yang dianggap maju,  progresif menjelaskan ketertindasan rakyat dan memberi ruang kesadaran  untuk melawan misalnya:</p>
<p>Nek awan duweke sing nata nek wengi  duweke dursila<br />
Mutiara asli tetap berkilau, meski ditutupi lumpur  kebohongan.<br />
Becik ketitik ala ketara<br />
Siapa menanam angin, akan  menuai badai<br />
Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian –  Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian<br />
Berat sama dipikul,  ringan sama dijinjing, ,<br />
Ada udang dibalik batu<br />
Sedia payung  sebelum hujan</p>
<p>Peribahasa-peribahasa ini belum diteliti  latar-belakang kemunculannya dan kapan. Cuma alat budaya yang muncul  pada masa seperti ini kebanyakan berupa puisi yang kemudian disarikan  dalam pepatah dan peribahasa. Atau malah sebaliknya: hanya pesan-pesan  bijak.</p>
<p>Melawan Budaya Penjajah</p>
<p>Kedatangan kolonialisme  Barat yang padamulanya karena rempah-rempah menimbulkan derita bagi  rakyat. Tak seperti Jepang yang berusaha melawan kekuatan Barat dengan  pengiriman rakyatnya yang cerdas untuk menimba ilmu di Barat atau dengan  usaha menterjemahkan buku-buku barat ke bahasa Jepang secara massal,  kaum feodal Indonesia justru bekerja sama dengan kolonial menindas  rakyat. Rakyat tanpa kepemimpinan modern melawan dengan caranya  sendiri-sendiri. Terkadang bersekutu dengan bangsawan yang kecewa karena  tak dapat warisan kekuasaan seperti kaum tani yang rela menjadi  prajurit Pangeran Diponegoro 1825-1830.</p>
<p>Perang Diponegoro yang  didukung kaum tani ini membekas dalam ingatan rakyat. Terlebih  penangkapan Dipo sendiri telah diabadikan dalam lukisan Raden Saleh,  seorang pelukis pribumi yang sanggup menguasai teknik melukis Barat.  Chairil Anwar pun membangunkan Ode buat Dipo dalam Sajak Diponegoro di  tahun 1945. Berbagai perlawanan atau cerita paska perlawanan Diponegoro  terus membekas dan menjadi inpirasi para pejuang. Beberapa bahkan bangga  menjadi keturunan prajurit Diponegoro: lihat film Dua Ksatria.  Prajurit-prajurit Dipo yang kalah perang enggan pulang dan meneruskan  dengan caranya sendiri termasuk dengan bentuk-bentuk kesenian. Sebagian  lagi menjadi basis bagi kemunculan semi proletar di kota-kota Jawa.</p>
<p>Kedatangan  kolonialisme</p>
<p>Peranan Max Havelaar</p>
<p>Diskriminasi sosial  yang sangat mencolok misalnya telah menyadarkan Mas Marco akan harga  dirinya sebagai manusia. Perlakuan sewenang-wenang di stasiun kereta api  dan penempelengan kuli-kuli telah merangsang Marco untuk bergerak.  Pembacaannya tentang sejarah dunia, buku-buku Multatuli, Veth dan  lain-lain telah ikut mempercepat kesadaran akan kebebasan Indonesia  (Soe, dblm)</p>
<p>Kartini: Ibu Budaya Pembebasan<br />
Kartini dalam  berbagai surat-suratnya yang kemudian diterbitkan menjadi bacaan kaum  pergerakan sekaligus bahkan memberi arah gerakan, memberi jiwa.  Karenanyalah Kartini menjadi sumber inspirasi gerakan budaya pembebasan.</p>
<p>Djawa  Dipa 1914, sebuah gerakan anti feodal Jawa yang berkembang menjadi  gerakan anti kolonialisme Belanda; dilanjutkan dengan pergulatan Ki  Hadjar Dewantara membangun Taman Siswa, gerakan pendidikan modern yang  berbasiskan kebudayaan asli (Jawa) bagi rakyat jajahan; dan terakhir  tentang pilihan &#8220;Barat&#8221; dan &#8220;Timur&#8221; dalam polemik kebudayaan tahun  1930-an. (Supartono)</p>
<p>Selamanja saja hidoep, selamanja<br />
saja aan  berichtiar menjerahkan djiwa<br />
saja goena keperloean ra&#8217;jat<br />
Boeat  orang jang merasa perboetannja baik<br />
goena sesama manoesia, boeat  orang seperti<br />
itoe, tiada ada maksoed takloek dan teroes<br />
TETAP  menerangkan ichtiarnja mentjapai<br />
Maksoednja jaitoe<br />
HINDIA MERDIKA  DAN SLAMAT<br />
SAMA RATA SAMA KAJA<br />
SEMOEA RA&#8217;JAT HINDIA<br />
(Semaoen,  24 Djoeli 1919)</p>
<p>Soe Hok Gie<br />
Di Bawah Lentera Merah, Yayasan  Bentang Budaya, Yogyakarta, 1999<br />
Dan waktu itu juga sering terbaca  betapa keadaan orang-orang buangan di Digul. Saya pernah membaca betapa  kerasnya watak Mas Marco, Boedisoetjitro, Winanta dan Najoan yang  menolak utusan Gubernur jenderal menemui mereka. Padahal pertemuan  dengan utusan Hilman itu mungkin akan membebaskan mereka dari neraka  Digul. Kadang-kadang saya membaca beberapa segi dari kehidupan  tokoh-tokoh komunis ini. Misalnya, tentang kebandelan Mas Marco dan  kedermawanan Najoan, kesemuanya sangat menarik hati<br />
Itulah sebabnya  maka studi mengenai pemberontakan 1926, harus dimulai dari studi  terhadap awal mulanya pergerakan kaum &#8220;Marxis&#8221; Indonesia. Dan dalam hal  ini kita harus mulai dengan Sarekat Islam Semarang. Permulaan abad  keduapuluh merupakan salah satu periode yang paling menarik dalam  sejarah Indonesia, karena sekitar tahun-tahun itulah terjadi  perubahan-perubahan sosial yang besar di tanah air kita. Pesatnya  perkembangan pendidikan Barat, pertumbuhan penduduk yang meningkat cepat  dan mulai digunakan teknologi modern, kesemuanya menimbulkan perubahan  sosial di Indonesia. Nilai-nilai tradisional yang telah mengakar di bumi  Indonesia, tiba-tiba dikonfrontasikan secara intensif dengan  nilai-nilai tradisional mereka dan malah ada yang sudah mulai  melepaskannya, walaupun pegangan yang baru belum mereka peroleh.  Ketiadaan pegangan menciptakan rangsangan untuk mendapatkan suatu  pegangan. Sebagian dari mereka mencarinya di dalam pemikiran-pemikiran  Islam, sedang yang lain mencari dengan menggali kembali kebudayaan lama  untuk disesuaikan dengan dunia mereka yang modern. Sebagian lainnya lagi  mencarinya di dalam alam pemikiran Barat.<br />
Suatu gerakan hanya  mungkin berhasil bila dasar-dasar dari gerakan tersebut mempunyai  akar-akarnya di bumi tempat ia tumbuh. Ide yang jatuh dari langit tidak  mungkin subur tumbuhnya. Hanya ide yang berakar ke bumi yang mungkin  tumbuh dengan baik. Demikian juga halnya dengan gerakan sosialistik  Sarekat Islam Semarang. Saya pikir, bukanlah hal yang kebetulan saja  menghebatnya gerakan-gerakan Samin di tahun 1917, bersamaan waktunya  dengan munculnya ide-ide sosialis Sarekat Islam Semarang. Bahkan Sarekat  Islam merasa adanya persamaan dasar, walaupun yang satu dicetuskan  dalam suasana tradisional, sedang yang lainnya dengan jubah modern.  Gerakan komunis bahkan mereka terjemahkan dengan gerakan Saminis.2) Dan  jika kaum Saminis menggunakan bahasa Jawa kasar untuk siapa saja, maka  dalam masa yang bersamaan kita juga menemui gerakan Jawa Dwipa. Yang  satu bergerak di desa, sedang yang lainnya di Surabaya.</p>
<p>Dalam  kata pengantarnya mereka menyatakan bahwa haluan Sinar Djawa akan lebih  radikal dan terhadap pemerintah mereka akan menilainya secara jujur,  sedangkan terhadap kaum kapitalis dan kaum priyayi yang memeras akan  mereka musuhi.2)<br />
Tetapi ada pula kelompok yang mengajukan konsepsi  Marxistis dalam membahas realitas sosial ini, dan tokoh utamanya adalah  Hendricus Fransiscus Marei Sneevliet, ketua ISDV.3) Sneevliet bersama  kaum ISDVnya berhasil mempengaruhi sekelompok angkatan muda dari Sl baik  di Semarang (Semaoen, Darsono, dan lain-lain), Jakarta (Alimin dan  Muso), Solo (H. Misbach) maupun di kota-kota lainnya.<br />
Dari  Sneevliet-lah mereka belajar menggunakan analisis Marxistis untuk  memahami realitas sosial yang dialami. Mereka berpendapat bahwa sebab  dari kesengsaraan rakyat Indonesia adalah akibat dari struktur  kemasyarakatan yang ada, yaitu struktur masyarakat tanah jajahan yang  diperas oleh kaum kapitalis.<br />
Dengan kekuasaan keuangannya, sejumlah  orang berhasil memeras kekayaaan alam Indonesia, sekaligus memeras  rakyatnya. Kemiskinan yang lahir sebagai akibatnya menumbuhkan  kriminalitas di kalangan rakyat Indonesia dalam bentuk perampokan dan  kelaparan.4) Kesengsaraan itu menjadi semakin berat lagi oleh peperangan  (Perang Dunia I). Perang ini disebabkan adanya persaingan antara  kepentingan kaum kapitalis Eropa (Kapitalis Inggris melawan Jerman). Di  dalam analisisnya mereka melihat perkebunan, terutama perkebunan tebu  sebagai penyebab kemiskinan yang nyata. Dan cara untuk mengatasinya  hanyalah dengan sosialisme, yaitu menasionalisasikan  perusahaan-perusahaan yang penting bagi hajat hidup rakyat.<br />
Pernerintah  yang seyogyanya memperhatikan kepentingan rakyat terbanyak, tidak  memperhatikannya dan malah memihak kepada kaum kapitalis. Menurut mereka  pemerintah masa itu mewakili kaum uang.5) Karena itu ia bertentangan  dengan kepentingan kaum Kromo, dengan rakyat terbanyak.6) Bahkan para  anggota Tweede Kamer sendiri, berkepentingan dengan adanya pabrik-pabrik  gula. Mereka mempunyai saham-sahamnya di sana.7) Pemerintah dan para  pengusaha tidak memperhatikan rakyat dan bahkan karena mempunyai banyak  uang mereka dapat membeli dan menyogok pegawai-pegawai pemerintah.<br />
Tetapi  ketika adanya bahaya yang mengancam dari luar. Tanpa malu-malu kaum  kapitalis/pemerintah menganjurkan adanya milisi Bumiputra. Padahal  milisi ini bertujuan untuk melindungi kapital mereka sendiri, dengan  menjadikan orang Indonesia sebagai umpan peluru.12) Secara sarkastis Mas  Macro mensajakkan:<br />
Indie Weebaar jang dibitjarakan<br />
Sana sini sama  mengatakan<br />
Indie Weerbaar akan memasoekkan<br />
anak Hindia di lobang  meriam.13)<br />
Karena itu, demi kepentingan Indonesia sendiri, Indie  Weerbaar harus dilawan. Dalam bidang perburuhan pun Pemerintah berpihak  kepada kaum majikan. Dan tidak mau peduli pada pihak kaum buruh.<br />
Aksi-Aksi  Sarekat Islam Semarang (Mei 1917-Oktober 1918)<br />
Goena apa menoelis  soerat<br />
Kalau masih dapat berjoempa<br />
Goena apa dapat Volksraad<br />
Kalau  masih koerang Sempoerna<br />
Tindakan-Tindakan Pemerintah<br />
. Marco,  musuh tradisional Belanda, hampir-hampir pula dijerat Asisten Residen  karena ia menulis sebuah sajak yang dapat ditafsirkan sebagai anjuran  mengusir kaum &#8220;kafir&#8221;.8).l0)</p>
<p>Sastra Liar Yang Membebaskan</p>
<p>Beberapa  tahun yang lalu, ketika meneliti koran-koran awal tahun tiga puluhan,  saya kadang-kadang membaca berita-berita di sekitar proses pengadilan  terhadap kaum komunis. Mereka ini, bukanlah tokoh-tokoh utamanya,  melainkan hanya peserta biasa saja. Di dalam mengemukakan alasan mengapa  mereka ikut memberontak di tahun-tahun 1926-1927, kebanyakan data  menunjukkan kepada sebab-sebab kemiskinan. Biografi &#8220;rakyat kecil&#8221; ini  pun sangat menarik. Terkadang, hanya karena hutang 50 sen, atau karena  soal-soal kecil lainnya, mereka berani melawan Belanda. (soe)</p>
<p>Oleh: <a href="http://lmnd.blogspot.com" target="_blank">Rudi</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=211&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/22/budaya-pembebasan-di-indonesia-sejarah-metode-dan-bentuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Santri</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/santri/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/santri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 21:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Coretan Minjem]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[santri politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Bila kita mendengar kata santri maka yang melintas di benak adalah sekelompok anak muda yang sedang belajar di pesantren. Santri juga bisa di katakan suatu komunitas muslim yang kesehariannya ”bergelut” dengan kitab kuning. Kitab kuning adalah sebuah slogan yang telah membumi di dunia pesantren dan juga merupakan hasil kreativitas sarjana muslim dalam mengembangkan khazanah Islam. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=203&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila kita mendengar kata santri maka yang melintas di benak adalah sekelompok anak muda yang sedang belajar di pesantren. Santri juga bisa di katakan suatu komunitas muslim yang kesehariannya ”bergelut” dengan kitab kuning. Kitab kuning adalah sebuah slogan yang telah membumi di dunia pesantren dan juga merupakan hasil kreativitas sarjana muslim dalam mengembangkan khazanah Islam.</p>
<p><a href="http://al-kirom.blogspot.com" target="_blank">Santri </a>dalam perjalanannya memang di cetak untuk menjadi generasi ulama yang bertanggungjawab menyebarkan ilmunya pada masyarakat. Dalam realitas sosial, santri juga dapat dikatakan kelompok elit yang berwawasan keislaman luas. Sehingga santri yang telah menyelesaikan studi-nya di pesantren di pandang lebih tinggi status sosialnya dari pada mereka yang tidak pernah belajar di pesantren. Walaupun dari aspek pendidikan formal santri selalu di pandang rendah karena tidak dapat menggunakan ijazahnya untuk melanjutkan pada pendidikan formal atau masuk ke sebuan instansi untuk melamar sebuah pekerjaan.</p>
<p>Pada awal masa kemerdekaan ada pemilahan antara ilmu umum dan ilmu agama. Dalam hal ini intervensi Belanda sangat dominan. Inilah awal mula penyebab ruang gerak santri dibatasi setelah ia keluar dari peasntren. Seakan-akan tugas santri hanya mengajarkan agama pada masyarakat pedesaan, sedangkan mereka yang dapat mengenyam pendidikan formal lebih mendominasi pada instansi pemerintahan dan seakan-akan merekalah yang layak dikatakan telah melakukan suatu perubahan di negeri ini terutama di wilayah perkotaan dan santri hanya dapat mengikuti tradisi lama yang telah tertingal jauh.</p>
<p>Santri dan Masyarakat</p>
<p>Pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan yang pertama kali ada di nusantara, pendiri pertama pesantren dilakukan oleh penyiar Islam yang ada di pulau Jawa. Pada perkembangannya pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling efektif dalam mengembangkan dan mengkaji ajaran Islam. Disini pula para santri di persiapkan untuk dapat merubah kondisi sosial daerah mereka masing-masing dengan ilmu-ilmu yang telah meraka pelajari di pesantren. Dalam kondisi masyarakat yang masih awam kehadiran para santri pun sangat diharapkan dan dapat menciptakan mayarakat yang betul-betul religius. Peran santri dalam masyarakat tidak dapat di pandang sebelah mata, kondisi bangsa ini sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia merupakan hasil jerih payah santri dalam melakukan suatu perubahan sosial yang sebelumnya masih dipengaruhi peninggalan tradisi nenek moyangnya.</p>
<p>Pola interaksi kaum sarungan dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat marupakan hasil suatu sistem pendidikan yang dapat menyentuh dengan masyarakat lokal. Islam juga mengajarkan dalam menghadapi orang yang belum mengetahui agama harus dengan lemah lembut dan menyampaikan pesan-pesan agama tanpa ada paksaan.</p>
<p>Santri yang kehidupan kesehariannya menerapkan etika yang baik dalam bergaul merupakan salah satu tradisi yang telah ”membumi” di pesantren. Karena pesantren sebagai media belajar bersama salalu mencoba membiasakan para santrinya dalam berdialektika dan berinteraksi dengan siapapun.</p>
<p>Santri memegang peran penting dalam melakukan perubahan sosial. Kaum sarungan ini mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat sebagai generasi ulama yang selalu siap dalam kondisi apapun. Inilah salah satu keberhasilan pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional telah melahirkan banyak generasi ulama dan pemimpin bangsa di negeri ini. Dan santripun harus selalu berbenah seiring perkembangan jaman dan selulu siap tampil di permukaan sebagai leader yang dibutuhkan umat dan yang bertanggungjawab menyebarkan agama Allah SWT.</p>
<p>Santri Dalam Ranah Politik</p>
<p>Banyaknya santri yang terjun dalam dunia politik sebetulnya bukan hal yang baru di negeri ini, sejak awal kemerdekaan banyak tokoh-tokoh nasional yang berasal dari kalangan santri (Wahid Hasyim, Saifuddin Zuhri, dll). Hal ini pun terus berlanjut hingga sekarang. Peran politik santri dalam konteks nasional tidak diragukan lagi, saat ini mempunyai daya tawar masa di bawah sangat menggiurkan. Karena politisi yang berasal dari kalangan santri biasanya tokoh-tokoh yang sudah dikenal masyarakat luas dan mempunyai basis masa yang cukup kuat pula.</p>
<p>Tidak heran jika santri tampil dalam dunia politik praktis. Karena saat ini banyak pesantren yang mengadakan pengajian yang biasanya membicarakan tema isu-isu politik kontemporer. Inilah embrio yang telah tertanam di dunia santri sehingga saat tampil di dunia politik praktis mempunyai basis yang kuat. Sejak dini (maksudnya semenjak di pesantren) telah ada pembelajaran politik sehingga memahami politik pun bukan dunia kotor yang penuh intrik sebagaimana sering terjadi kesalahpahaman di masyarakat. Melainkan suatu media perjuangan dalam menciptakan politik etis.</p>
<p>Oleh: Ali. S (Penulis Adalah Anggota Matrik Yogyakarta, Alumni MDHY ’06)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=203&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/santri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERAN PENDIDIKAN GUNA MENOPANG KEARIFAN LOKAL; MENUJU KEMANDIRIAN INDONESIA DALAM PERSAINGAN GLOBAL</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/peran-pendidikan-guna-menopang-kearifan-lokal-menuju-kemandirian-indonesia-dalam-persaingan-global/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/peran-pendidikan-guna-menopang-kearifan-lokal-menuju-kemandirian-indonesia-dalam-persaingan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 21:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coretan Minjem]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[era globalisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan adalah budaya]]></category>
		<category><![CDATA[peran pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[A. Pendidikan Adalah Kebudayaan Terdapat ratusan suku bangsa yang ada di Indonesia, secara signifikan perlu dilihat sebagai aset negara berkat pemahaman akan lingkungan alamnya, tradisinya, serta potensi-potensi budaya yang dimilikinya, yang keseluruhannya perlu dapat didayagunakan bagi pembangunan nasional. Di pihak lain, setiap suku bangsa juga memiliki hambatan budayanya masing-masing, yang berbeda antara suku bangsa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=199&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Pendidikan Adalah Kebudayaan</p>
<p>Terdapat ratusan suku bangsa yang ada di Indonesia, secara signifikan perlu dilihat sebagai aset negara berkat pemahaman akan<br />
lingkungan alamnya, tradisinya, serta potensi-potensi budaya yang<br />
dimilikinya, yang keseluruhannya perlu dapat didayagunakan bagi<br />
pembangunan nasional. Di pihak lain, setiap suku bangsa juga memiliki<br />
hambatan budayanya masing-masing, yang berbeda antara suku bangsa<br />
yang satu dengan yang lainnya. Maka menjadi tugas negaralah untuk<br />
memahami, selanjutnya mengatasi hambatan-hambatan budaya masing-<br />
masing suku bangsa, dan secara aktif memberi dorongan dan peluang<br />
bagi munculnya potensi-potensi budaya baru sebagai kekuatan bangsa.</p>
<p>Hal ini merupakan fungsi dari keragaman yang ada di Indonesia, sehingga aspek kebudayaan harus menemukan eksistensinya pada cara pandang (world view) masyarakat Indonesia. Fungsi pendidikan kemudian, bagaimana menjadikan kekuatan kebudayaan itu melalui kerafian lokal masing-masing suku bangsa dapat eksis dan mengalami dinamisasi yang produktif.</p>
<p>Produktifitas kebudayaan yang dimaksudkan adalah transformasi kearifan lokal dalam kanca Internasional, hal ini memungkinkan jika ditopang oleh peran pendidikan dan aktor intelektualnya. Sehingga menjadi tindakan yang keliru kemudian memisahkan antara proses pendidikan dan kebudayaan.</p>
<p>Setiap situasi pendidikan memuat empat unsur pokok: guru, agen utama yang bertujuan, yang mengarahkan, yang memikul tanggung jawab atas proses pendidikan; murid, yang menjadi obyek upaya pendidikan, dalam arti perilakunya akan diubah, sikap-sikapnya akan dipupuk dan dimodifikasi; bahan pengajaran, atau bidang studi, atau pengetahuan, yang akan ditanamkan pada murid; tujuan, sasaran, cita-cita, hasil akhir yang diharapkan dari proses pendidikan, yang menjadi sumber penentu arah pendidikan.</p>
<p>Renungan dan eksplorasi diatas dapat dianalisis bahwa kekuatan pendidikan dalam prakteknya harus memiliki target dan sasaran yang jelas. Untuk itu aspek kebudayaan dalam praktek pendidikan dapat ditempatkan dan diposisikan pada instrumen yang terarah pada penguatan kebudayaan. Sehingga inkorporasi kearifan lokal menjadi perbincangan yang hangat dalam praktek pendidikan, dari situ kemudian kekuatan budaya menjadi daya saing di era global.</p>
<p>Kebudayaan lazimnya dipahami sebagai ekspresi dari kepribadian yang terdiri dari unsur-unsur cipta, rasa dan karsa atau singkatnya akal-budi. Jika diasumsikan bahwa kalbu itu sudah tercakup dalam akal, pemberian Tuhan yang tertinggi kepada makhluk manusia, maka kebudayaan adalah hasil proses bekerjanya akal. Dalam pemahaman ini, kebudayaan bukanlah statis melainkan dinamis, yaitu terus berubah seiring perkembangan zaman. Logika sederhana ini dapat digiring pada pemberdayaan kearifan lokal yang secara integral menyatu dengan semangat zaman.</p>
<p>Di era sekarang ini kebudayaan secara tidak sadar diperlakukan sebagai “kata benda”, dalam artian bahwa kebudayaan diartikulasikan sebagai warisan budaya berupa tradisi dan obyek wisata. Kebudayaan dipariwisatakan. Kebudayaan tidak dilihat sebagai sesuatu yang dinamis untuk mendorong perubahan bangsa dalam persaingan dunia Internasional. Akibatnya kemudian, pendidikan tidak diagendakan untuk merubah mentalitas bangsa.</p>
<p>B. Kearifan Lokal; Menuai Intisari Masyarakat Madani Indonesia.</p>
<p>Membincang mengenai kearifan lokal, maka kita akan masuk pada sebuah mainstream yang sangat erat hubungannya dengan kebudayaan. Aspek ini merupakan varian utama guna membentuk apa yang dicitakan, yakni penciptaan sebuah tatanan masyarakat madani. Masyarakat madani adalah manifestasi sebuah corak kemasyarakatan dalam sebuah negara, dalam hal ini masyarakat madani memiliki ciri tertentu, yang secara spesifik terbagi dalam beberapa bagian yaitu, masyarakat kritis dan obyektif, terbuka dan dinamis, berbudaya dalam aktifitas sosialnya.</p>
<p>Aspek pertama kemudian memuat masyarakat yang kritis terhadap realitas eksternal di sekelilingnya, selalu berupaya memposisikan perbedaan sebagai rahmat dan bukan konflik. Ciri kedua kemudian mengandung muatan dalam arti terbuka atas segala bentuk local wisdom yang ada serta mampu memberikan reformulasi budaya seiring perkembangan zamannya.<br />
Sedangkan ciri yang ketiga adalah masyarakat dimana aktifitas sosialnya ditopang oleh mentalitas kebudayaan yang membentuk filosofi pandangan hidupnya.</p>
<p>Proses pendidikan yang berakar dari kebudayaan, berbeda dengan praksis pendidikan yang terjadi dewasa ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma (paradigm shift) dari pendidikan nasional untuk menghadapi proses globalisasi dan menata kembali kehidupan masyarakat Indonesia. Cita-cita era reformasi tidak lain ialah membangun suatu masyarakat madani Indonesia. Oleh sebab itu paradigma baru pendidikan nasional harus diarahkan kepada terbentuknya masyarakat madani Indonesia tersebut.<br />
Telah disebutkan diatas bahwa paradigma pendidikan nasional harus mengalami paradigm shift, secara eksploratif bisa kita analisis bahwa interpretasi awal yang dilakukan adalah menjadikan nuansa kearifan lokal sebagai corak pembentukan paradigma pendidikan. Pendidikan dalam hal ini berperan sebagai ruang penopang dari peradaban masyarakat madani.</p>
<p>Sebuah paradigma yang meniscayakan adanya nilai-nilai kearifan lokal dalam teori dan prakteknya. Pendikan pada dasarnya memiliki keterkaitan nilai dengan kebudayaan, maka dari itu penopang penciptaan masyarakat madani adalah upaya pengembangan kearifan lokal dalam ruang lingkup pendidikan.</p>
<p>Keragaman masyarakat Indonesia, mengharuskan struktur sosial kita untuk terbiasa dengan perbedaan. Disinilah letak kekayaan sumber daya yang ada di Indonesia. Persoalannya kemudian adalah aspek pragmatisme dalam pola hubungan kemasyarakat juga ditopang oleh kecendrungan kepada materi yang berlebihan oleh struktur pemerintahan. Sehingga kekayaan dari kearifan lokal itu secara tidak sadar menjadi “barang dagangan” kepada para wisatawan. Sehingga pemaknaan terhadap kearifan lokal secara serentak disikapi oleh masyarakat sebagai simbol etnisitas yang dimanifestasikan lewat pakaian adat, bahasa daerah dan situs kebuayaan. Jadi secara sederhana orang yang berbudaya adalah orang yang memiliki pakaian dan mampu berbahasa daerah. Inilah yang kami sebut sebagai kelemahan kita dalam menyikapi kebudayaan, sehingga perubahan paradigma mennjadi<br />
penting dalam tata nilai pendidikan dan kebudayaan.</p>
<p>Masyarakat madani Indonesia seperti yang kami jelaskan diatas adalah masyarakat yang secara adat istiadan beragam namun memiliki semangat persatuan dalam konstelasi persaingan global. Pengintegrasian atau akultirasi kebudayaan suku bangsa yang ada di Indonesia bukan berarti menyatukan adat istiadat itu dalam satu dominasi kebudayaan. Namun bagaimana menjadikan keragaman local wisdom sebagai tali pemersatu dari suku bangsa yang ada di Indonesia. Dengan begitu masyarakat madani adalah masyarakat yang mampu terbuka dan menghargai keragaman budaya bangsanya seindiri.</p>
<p>C. Bisakah Indonesia Bersaing di Dunia Internasional?</p>
<p>Setelah bangsa Indonesia melakukan refitalisasi kebudayaan yang direpresentasikan oleh kearifan lokal melalui wadah pendidikan. Maka pertanyaan selanjutnya yang mesti dijawab adalah, bisakah Indonesia bersaing di dunia Internasional? Pada uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multi dimensi sehingga aspek pluralistik menjadi karakter yang melekat dalam masyarakat Indonesia. Sehingga kita sudah tidak heran lagi di era milenium ini bayak pergaulan lintas etnis yang begitu intim kita temukan. Persoalannya kemudian adalah arus globalisasi dengan corak budaya populernya secara sadar atau tidak telah mengikis dimensi kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.</p>
<p>Pertanyaan utama yang masih tersisa: apakah mind Asia mampu mengembangkan paduan nilai yang tepat, yang akan memelihara kekuatan tradisional niali-nilai Asia (semisal kasih sayang pada keluarga sebagai sebuah isntitusi, rasa hormat kepentingan sosial, sifat berhemat, konservatisme dalam adat istiadat sosial, rasa horhat pada pemimpin) seperti halnya penyerapan terhadap nilai-nilai Barat (penekanan pada prestasi individu, kebebasan politik dan ekonomi, rasa hormat pada hukum dan institusi-institusi nasional). Itulah tantangan yang kompleks yang dihadapi bangsa Asia.</p>
<p>Indonesia merupakan negara kesatuan yang secara geografis merupakan bagian dari Asia, corak masyarakat Asia di mata Internasional adalah masyarakat dengan latar belakang budaya yang memiliki kesamaan secara garis besar seperti dikemukakan diatas. Aspek kebudayaan itu sering diistilahkan sebagai kebudayaan Timur. Hal ini merupakan ciri dari masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi pola tenggag rasa dan gotong royong. Sehingga dalam konstelasi Internasional, Indonesia seringkali menjadikan kekuatan keragaman budaya sebagai ruang dimana karakteristik tersebut dijadikan “senjata” untuk bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain.</p>
<p>Menuju persaingan dalam konstelasi Indternasional adalah sebuah upaya yang cukup signifikan untuk membangun kemandirian bagsa. Namun hal ini secara intern juga harus memiliki persiapan akan tantangan yang akan dihadapi kedepannya. Jika kemudian kebudayaan menjadi sebuah acuan dalam melakukan sebuah upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam pola pembangunan jati diri bangsa. Maka secara eksplisit juga harus dirumuskan beberapa antisipasi terhadap beberapa persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.</p>
<p>Pentingnya kesadaran kemajemukan atau pluralisme. Pluralisme tidak benar sekadar pengakuan (pasif) akan kenyataan kemajemukan atau pluralitas. Lebih dari itu, kesadaran kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif kepada kenyataan kemajemukan itu sendiri secara aktif. Seseorang akan dapat menyesuaikan diri kepada cara hidup demokratis jika ia mampu mendisiplin dirinya kearah jenis persaruan dan kesatuan yang diperoleh melalui penggunaan kreatif dinamika dari segi-segi positif kemajemukan.</p>
<p>Berekenaan dengan itu, tantangan yang nyata bagi bangsa Indonesia agaknya ialah bahwa kita berada dalam sebuah dimensi dimana penyikapan terhadap aspek kebudayaan yang telah dipariwisatakan tidak hanya secara politik namun juga pada aspek pengembangan kebudayaan itu sendiri mengalami stagnasi. Tantangan yang nyata ini adalah buah dari kehidupan modern yang secara sepihak tidak mampu diimbangi oleh penguatan kembali aspek kearifan lokal suku bangsa Indonesia. Secara sederhana generasi sudah merasa asing dengan intisari dari kebudayaan lokal yang berada disekelilingnya. Untuk itu menjadikan kebudayaan dalam semangat pemersatu dan pembentuk kemandirian bangsa melalui pendidikan merupakan sebuah alternatif pemikiran dan model oprasionalisasi dari pembentukan peradaban bangsa Indonesia yang lebih mandiri dan mampu bersaing di era globalisasi.</p>
<p><strong>Oleh: Taufiq Saifuddin (ketua HMI KORKOM UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2008/2009, sekaligus Pengamat Pendidikan)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/199/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/199/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/199/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=199&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/peran-pendidikan-guna-menopang-kearifan-lokal-menuju-kemandirian-indonesia-dalam-persaingan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sastra Dalam Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/sastra-dalam-al-quran/</link>
		<comments>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/sastra-dalam-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 21:32:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sokaktifis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Coret doang]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[sastra dalam al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sokaktifis.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[l-Qur’an merupakan mukjizar terbesar Rasulullah Muhammad saw, aspek kemukjizatan al-Qur’an meliputi: aspek bahasa (lughowi/), aspek ilmiah (‘ilmi) dan aspek tasyri’ (penetapan hukum syariat). Menurut Muhammad Ali Ash Shabumi dalam kitab At-Tibyan menyebutkan segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an sebagai berikut : 1. Susunan kalimatnya indah 2. Terdapat uslub (cita rasa bahasa) yang unik, berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=197&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h6>l-Qur’an merupakan mukjizar terbesar Rasulullah Muhammad saw, aspek kemukjizatan al-Qur’an meliputi: aspek bahasa (lughowi/), aspek ilmiah (‘ilmi) dan aspek tasyri’ (penetapan hukum syariat). Menurut Muhammad Ali Ash Shabumi dalam kitab At-Tibyan menyebutkan segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an sebagai berikut :<br />
1. Susunan kalimatnya indah<br />
2. Terdapat uslub (cita rasa bahasa) yang unik, berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab.<br />
3. Menantang semua mahkluk untuk membuat satu ayat saja yang bisa menyamai Al-Qur’an, tapi tantangan itu tidak pernah bisa dipenuhi sampai sekarang ini.<br />
4. Bentuk perundang-undangan yang memuat prinsip dasar dan sebagian memuat detail rinci yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia melebihi setiap undang-undang ciptaan manusia<br />
5. Menerangkan hal-hal ghaib yang tidak diketahui bila mengandalkan akal semata-mata.<br />
6. Tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah (ilmu pasti, science).<br />
7. Tepat terbukti semua janji (ramalan) yang dikhabarkan dalam Al-Qur’an.<br />
8. Mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan ilmiah didalamnya.<br />
9. Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuhnya.</p>
<p>Pada masa-masa awal dakwah Nabi di Makkah, kemukjizatan Al-Qur’an sangat terlihat pada sisi-sisi keindahan bahasanya. Gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada saat itu kagum dan terpesona. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak diantara mereka masuk islam. Bahkan, Umar bin Abu Thalib pun yang mulanya dikenal sebagai seorang yang paling memusuhi Nabi Muhammad SAW dan bahkan berusaha untuk membunuhnya, memutuskan untuk masuk islam dan beriman pada kerasulan Muhammad hanya karena membaca petikan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidaklah aneh jika Sayyid Quthb menyebutnya sebagai sihir Al-Qur’an yang tak terkalahkan. Tidaklah mengherankan apabila pada periode Makkah Al-Qur’an sangat menonjolkan sisi-sisi sastranya, sebab masyarakat Makkah saat itu sangat mahir dalam dunia sastra. Bahkan konon para penyair Makkah sudah terbiasa menggubah syair-syair yang indah secara spontan.<br />
Daya pesona al-Qur’an lewat dimensi keindahan bahasa inilah yang menarik minat para intelektual muslim untuk mengkaji al-Quran, sebagai cara lain untuk membumikan pesan-pesan Ilahi yang ada dalam al-Qur’an. Karenanya lahirlah ilmu-ilmu tentang kebahasaan : Ilmu Nahwu, al-Lughah (linguistik), ash-Syarfu, al-Balaghatu, al-Qiraatu, ar Rasmu, at-Tafsir, al-Ushul, dan lainnya.<br />
Untuk mengapresiasi sastra Al-Qur’an, kita membutuhkan dua bekal. Pertama, penguasaan bahasa Arab untuk bisa memahami makna ayat-ayatnya. Kedua, ketajaman dan sensitivitas perasaan. Tanpa bekal kedua ini, kita akan mengalami kesulitan dalam menikmati keindahan dan kelezatan lantunan ayat-ayatnya. Berikut ini kita akan melihat beberapa bentuk gaya pengungkapan Al-Qur’an yang sangat tinggi nilai sastranya. Bentuk-bentuk yang akan disuguhkan terutama adalah bentuk-bentuk yang sederhana, yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang awam dalam ilmu balaghah sekalipun.<br />
PERSAJAKAN<br />
Hampir seluruh ayat-ayat makkiyah menyerupai untaian bait-bait syair, yang salah satu cirinya ialah adanya kesamaan qafiyah (rima). Sekedar sebagai contoh, kita bisa melihat surat Al-Naas, Al-Ikhlash, Al-Qadr, Al-Syams, dan Al-Qadr. Hal lain yang cukup menarik ialah bahwa dalam kebanyakan ayat pergantian sajak senantiasa dibarengi pergantian tema (kalau dalam prosa, mirip dengan pergantian paragraf).<br />
KESEIMBANGAN PANJANG AYAT<br />
Sekedar sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Alam Nasyrah atau Al-Syams. Panjang ayat yang satu dan yang lainnya bisa dikatakan seimbang atau sama. Apabila untaian ayat-ayat tersebut dilantunkan, keseimbangan panjang ayat tersebut akan menghasilkan irama yang sangat nikmat.<br />
PARALELISME DAN KESEIMBANGAN IRAMA ANTAR AYAT<br />
Contoh : QS Al-Zalzalah ayat 7-8<br />
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ×<br />
ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره ×<br />
Repetisi (perulangan)<br />
Repetisi yang dimaksudkan disini mempunyai beberapa bentuk. Yang pertama ialah repetisi kata, seperti yang terdapat pada awal surat Al-Nazi’at, Al-Mursalat, dan Al-Waqi’ah.<br />
Awal surat Al-Nazi’at :<br />
و النشطات نشطا ×<br />
و السبحت سبحا ×<br />
فالسبقت سبقا ×<br />
Bentuk-bentuk repetisi tersebut tidak hanya menyatakan penegasan dari sisi makna, namun juga menghasilkan keindahan dari sisi irama.<br />
KECERMATAN MAKNA PADA DIKSI (PILIHAN KATA)<br />
Sebagai contoh, kata Rabb, Ilah, dan lafzhul jalalah Allah, tidaklah bisa dipertukarkan begitu saja satu sama lain. Kata Rabb, misalnya, digunakan dalam konteks bahwa Allah ingin menunjukkan fungsi tarbiyahnya. Demikian seterusnya.<br />
Contoh lain ialah penggunaan kata bani Adam, al-insaan, al-basyar, dan al-naas. Masing-masing dari kata tersebut tidak dapat dipertukarkan begitu saja karena masing-masing memiliki makna khasnya sendiri-sendiri.<br />
Demikian juga antara kata bashara dan nazhara, antara al-‘afw, al-ghufraan, al-mushaafahah, dan al-kaffaarah, antara hamma dan araada, antara al-wudd (al-mawaddah), al-hubb, dan al-rahmah, antara Al-Bashiir, Al-‘Aliim dan Al-Khabiir, dan sebagainya.<br />
PEMAKAIAN HURUF-HURUF DALAM KATA YANG SANGAT REPRESENTATIF TERHADAP MAKNA ATAU SUASANA MAKNA<br />
Sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Al-Naas. Rima dan dominasi huruf siin disana menggambarkan suasana hati yang diliputi rasa was-was. Demikian pula kalau kita perhatikan QS Al-Qiyamah ayat 26-30 berikut ini.<br />
كلا اذا بلغت التراقى ×<br />
( Sekali-kali tidak. Apabila nafas telah [mendesak] sampai ke kerongkongan)<br />
و قيل من _ راق ×<br />
(Dan dikatakan kepadanya: “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”)<br />
و ظن أنه الفراق ×<br />
(Dan dia yakin bahwa itulah saat perpisahan)<br />
و التفت الساق بالساق ×<br />
(Saat bertaut betis [kiri] dengan betis [kanan])<br />
الى ربك يومئذ المساق ×<br />
(Kepada Rabb-mu pada hari itu kamu dihalau)<br />
Rima dan dominasi huruf qaaf disitu menggambarkan suasana sesak di saat-saat sakaratul maut ! Bayangkan sebuah belati bergerigi tajam yang ditusukkan kedalam daging lalu ditarik kembali !!<br />
Dari sini pula, kita menjadi paham betapa pentingnya menjaga makhraj dan sifat huruf saat membaca Al-Qur’an. Kesalahan dalam makhraj dan sifat huruf bukan hanya bisa menimbulkan perubahan makna namun juga bisa menghilangkan suasana maknanya sebagaimana yang kita lihat dalam beberapa contoh diatas.<br />
KONTRADIKSI<br />
Gaya bahasa kontradiksi banyak dipakai dalam Al-Qur’an, misalnya antara orang beruntung dan orang yang malang, antara mukmin dan kafir, antara surga dan neraka, dan sebagainya. Sebagai contoh, perhatikan kontradiksi yang disuguhkan mengenai orang yang menerima kitab dengan tangan kanan versus orang yang menerima kitab dengan tangan kiri atau dari belakang dalam QS. Al-Haaqqah ayat 19-37 dan QS Al-Insyiqaq ayat 7 &#8211; 15.<br />
Sebagai contoh lain, mari kita perhatikan QS Al-Ghaasyiyah ayat 2 sampai 16 yang menyuguhkan kontradiksi antara wajah berseri orang-orang beriman dan wajah muram orang-orang kafir. Contoh-contoh yang lain bisa kita cari sendiri tersebar dalam lembaran-lembaran mushaf.<br />
Gaya bahasa kontradiksi mempunyai efek yang kuat dan mendalam pada jiwa. Jiwa kita mengalami cita rasa yang berubah secara drastis, dari senang lalu tiba-tiba gembira, dari takut lalu tiba-tiba berharap, dan seterusnya.<br />
Bentuk lain kontradiksi ialah seperti yang terlihat pada ayat-ayat sumpah yang dialektik. Perhatikan QS Al-Syams ayat 1-6 berikut ini.<br />
والشمس وضحها × والقمر اذا تلها ×<br />
والنهار اذا جلها × واليل اذا يغشها ×<br />
والسماء وما بنها × والأرض وما طحها ×<br />
Pada ayat-ayat diatas, kita melihat kontradiksi antara matahari dan bulan (ayat 1-2), antara siang dan malam (ayat 3-4), lalu antara langit dan bumi (ayat 3 sampai 4).<br />
KESELARASAN ANTARA TEMPO DAN MAKNA ATAU SUASANA MAKNA<br />
Salah satu cara Al-Qur’an dalam menunjang makna yang ingin disampaikan ialah dengan menggunakan tempo yang sesuai. Mari kita perhatikan bagaimana Allah menyebut Hari Kiamat dalam Al-Qur’an. Disana kita menjumpai bahwa Hari Kiamat disebut dengan kata الطامة, الصاخة atau الحاقة . Irama kata-kata tersebut panjang melenakan sekaligus membuat penasaran ada apa sesudahnya, diikuti dengan sentakan atau hentakan yang berat (ditandai dengan tasydid). Irama tersebut menggambarkan peristiwa Hari Kiamat yang kapan datangnya tidak ada yang tahu disamping manusia memang seringkali terlena dan lupa akan datangnya hari yang pasti tersebut. Namun begitu ia datang, kehadirannya begitu mengagetkan, dahsyat, dan serentak.<br />
Sebagai contoh lain, mari kita perhatikan awal-awal surat Al-Takwir dan Al-Infithar. QS Al-Infithar ayat 2-3:<br />
اذا السماء انفطرت× واذا الكواكب انتثرت<br />
Kata (انفطرت) dan (انتثرت) pada kedua ayat tersusun atas banyak huruf namun tidak mengandung bacaan madd sama sekali. Yang demikian itu menggambarkan bahwa peristiwa Hari Kehancuran berlangsung sangat cepat, sehingga mengagetkan setiap orang. Begitu ia datang, maka ia tidak bisa dibendung lagi.<br />
Agar adil, mari kita lihat juga tempo lambat pada QS Al-Fajr ayat 27 –30.<br />
يأيتها النفس المطمئنة ×<br />
ارجعى الى ربك راضية مرضية ×<br />
فا دخلى فى عبادى ×<br />
و ادخلى جنتى ×<br />
Ghunnah ( pada nun dan mim) dan madd (dengan alif atau ya) membuat tempo jadi lambat, yang menimbulkan nuansa tenang, kalem, dan lembut, seperti ucapan seseorang terhadap kekasihnya.<br />
Dari pemahaman kita tentang tempo, kita pun akan sadar betapa pentingnya menjaga madd, tasydid, dan ghunnah saat membaca Al-Qur’an. Pengabaian terhadap hal-hal tersebut bukan hanya bisa menimbulkan perubahan makna namun juga bisa mengurangi suasana makna sebagaimana terlihat pada beberapa contoh diatas.<br />
PENGGAMBARAN YANG SANGAT HIDUP DAN BERKESAN<br />
Sayyid Quthb menyebut gaya bahasa ini sebagai التصوير الفنى (penggambaran artistik). Penggambaran merupakan instrumen utama dalam gaya bahasa Al-Qur’an. Ia berusaha menampilkan makna-makna abstrak dalam bentuk gambaran yang dapat diindera, nyata, hidup, aktual, berwarna-warni, dan bergerak. Diantara bentuk penggambaran yang banyak ditemui dalam Al-Qur’an ialah permisalan dan cerita dialog. Dengan adanya penggambaran, seseorang yang membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an akan terlena dengan segenap imajinasinya, sehingga ia merasa benar-benar menyaksikan secara nyata atau bahkan merasa berada di tengah-tengah peristiwa yang ada, lupa bahwa yang dibaca atau didengar ternyata hanyalah susunan huruf atau lafazh saja. Tentang hal ini, Sayyid Quthb mengatakan,”Disini (dalam Al-Qur’an) ada kehidupan dan bukan kisah tentang kehidupan”.<br />
KESELARASAN ANTARA OBYEK SUMPAH DAN TEMA YANG MENGIKUTINYA<br />
Sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Al-Dhuha. Disana Allah bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam. Waktu dhuha yang terang dan indah, waktu malam yang gelap dan menimbulkan kesempitan jiwa. Ayat-ayat berikutnya mengetengahkan permulaan, kedukaan, keyatiman, kebingungan, dan kekurangan yang identik dengan waktu malam. Sebaliknya, akhiran, keridhaan, asuhan, petunjuk, dan kecukupan identik dengan waktu dhuha.<br />
BEBERAPA CONTOH DARI ASPEK-ASPEK BALAGHAH YANG LAIN<br />
Dalam hal ini, kita hanya akan mencoba melihat gaya bahasa hiperbolik dan pengalihan kata ganti secara mendadak. (al-iltifaat), yang sudah sering dibahas dalam buku-buku balaghah.<br />
Sebagai contoh bagi gaya bahasa hiperbolik, mari kita perhatikan QS Maryam ayat 4, yang melukiskan keadaan Nabi Zakaria yang sudah lanjut usia: … واشتعل الرأس شيبا …<br />
اشتعل artinya telah menyala karena terbakar rata, berfungsi sebagai fi’il. الرأس artinya kepala, berfungsi sebagai fa’il. شيبا artinya uban, berfungsi sebagai tamyiz dimana yang menjadi mumayyaz ialah الرأس . (اشتعل الرأس شيبا) artinya ‘Kepalanya menyala karena putih ubannya’. Tatkala sampai pada اشتعل الرأس)), orang akan bertanya,”Kepalanya menyala?” Maka diucapkanlah (شيبا), “Ya, karena putih ubannya”. Susunan seperti ini menimbulkan efek hiperbolik. Berbeda halnya jika kita mengubahnya menjadi اشتعل شيب الرأس)) (Uban di kepalanya menyala). Yang terakhir ini tidak mesti berarti bahwa seluruh rambutnya beruban. Lain halnya dengan (اشتعل الرأس شيبا), yang mengesankan bahwa seluruh rambut di kepalanya telah memutih tanpa ada sehelai pun yang masih hitam.<br />
Mengenai iltifaat, orang-orang yang tidak memahami keindahan dan keunikan sastra Arab telah meniupkan syubhat bahwa hal tersebut menunjukkan inkonsistensi Al-Qur’an dalam hal kata ganti atau sudut pandang Sang Penutur. Namun bagi mereka yang paham, iltifaat sebagai gaya bahasa Al-Qur’an justru telah mampu menimbulkan efek yang luar biasa. Diantara efek itu ialah menarik perhatian dan memberikan efek imajinasi yang hidup dan dinamis.<br />
Wallahu A’lam bil-Showab.</p>
<p>Nukilan<br />
1. Idris, Mardjoko. Ilmu Balaghah: Kajian Khusus Uslub dan Iqtibas, Yogyakarta: Penerbit Teras, 2007<br />
2. Al-Iskandary, Syeh Ahmad &amp; Musthafa Anamay. Al-Wasith fi al-Adab al-Araby wa Tarikhuhu, Mesir: Dar al-Maarif, 1916<br />
3. Abdurrahman, ‘Aisyah. I’jazul al-bayani lil Qur’ani, Mesir : Dar al-Maarif, 1971<br />
4. <a rel="nofollow" href="http://menaraislam.com/" target="_blank">http://menaraislam.com/</a></h6>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sokaktifis.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sokaktifis.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sokaktifis.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sokaktifis.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sokaktifis.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sokaktifis.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sokaktifis.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sokaktifis.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sokaktifis.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sokaktifis.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sokaktifis.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sokaktifis.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sokaktifis.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sokaktifis.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sokaktifis.wordpress.com&amp;blog=6665829&amp;post=197&amp;subd=sokaktifis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sokaktifis.wordpress.com/2010/09/21/sastra-dalam-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bf60089f9ff87d7f28e09031b970c324?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sokaktifis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
