Category: Coret doang


Sastra Dalam Al-Qur’an

l-Qur’an merupakan mukjizar terbesar Rasulullah Muhammad saw, aspek kemukjizatan al-Qur’an meliputi: aspek bahasa (lughowi/), aspek ilmiah (‘ilmi) dan aspek tasyri’ (penetapan hukum syariat). Menurut Muhammad Ali Ash Shabumi dalam kitab At-Tibyan menyebutkan segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an sebagai berikut :
1. Susunan kalimatnya indah
2. Terdapat uslub (cita rasa bahasa) yang unik, berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab.
3. Menantang semua mahkluk untuk membuat satu ayat saja yang bisa menyamai Al-Qur’an, tapi tantangan itu tidak pernah bisa dipenuhi sampai sekarang ini.
4. Bentuk perundang-undangan yang memuat prinsip dasar dan sebagian memuat detail rinci yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia melebihi setiap undang-undang ciptaan manusia
5. Menerangkan hal-hal ghaib yang tidak diketahui bila mengandalkan akal semata-mata.
6. Tidak bertentangan dengan pengetahuan ilmiah (ilmu pasti, science).
7. Tepat terbukti semua janji (ramalan) yang dikhabarkan dalam Al-Qur’an.
8. Mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan ilmiah didalamnya.
9. Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuhnya.

Pada masa-masa awal dakwah Nabi di Makkah, kemukjizatan Al-Qur’an sangat terlihat pada sisi-sisi keindahan bahasanya. Gaya bahasa Al-Qur’an membuat orang Arab pada saat itu kagum dan terpesona. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak diantara mereka masuk islam. Bahkan, Umar bin Abu Thalib pun yang mulanya dikenal sebagai seorang yang paling memusuhi Nabi Muhammad SAW dan bahkan berusaha untuk membunuhnya, memutuskan untuk masuk islam dan beriman pada kerasulan Muhammad hanya karena membaca petikan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidaklah aneh jika Sayyid Quthb menyebutnya sebagai sihir Al-Qur’an yang tak terkalahkan. Tidaklah mengherankan apabila pada periode Makkah Al-Qur’an sangat menonjolkan sisi-sisi sastranya, sebab masyarakat Makkah saat itu sangat mahir dalam dunia sastra. Bahkan konon para penyair Makkah sudah terbiasa menggubah syair-syair yang indah secara spontan.
Daya pesona al-Qur’an lewat dimensi keindahan bahasa inilah yang menarik minat para intelektual muslim untuk mengkaji al-Quran, sebagai cara lain untuk membumikan pesan-pesan Ilahi yang ada dalam al-Qur’an. Karenanya lahirlah ilmu-ilmu tentang kebahasaan : Ilmu Nahwu, al-Lughah (linguistik), ash-Syarfu, al-Balaghatu, al-Qiraatu, ar Rasmu, at-Tafsir, al-Ushul, dan lainnya.
Untuk mengapresiasi sastra Al-Qur’an, kita membutuhkan dua bekal. Pertama, penguasaan bahasa Arab untuk bisa memahami makna ayat-ayatnya. Kedua, ketajaman dan sensitivitas perasaan. Tanpa bekal kedua ini, kita akan mengalami kesulitan dalam menikmati keindahan dan kelezatan lantunan ayat-ayatnya. Berikut ini kita akan melihat beberapa bentuk gaya pengungkapan Al-Qur’an yang sangat tinggi nilai sastranya. Bentuk-bentuk yang akan disuguhkan terutama adalah bentuk-bentuk yang sederhana, yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang awam dalam ilmu balaghah sekalipun.
PERSAJAKAN
Hampir seluruh ayat-ayat makkiyah menyerupai untaian bait-bait syair, yang salah satu cirinya ialah adanya kesamaan qafiyah (rima). Sekedar sebagai contoh, kita bisa melihat surat Al-Naas, Al-Ikhlash, Al-Qadr, Al-Syams, dan Al-Qadr. Hal lain yang cukup menarik ialah bahwa dalam kebanyakan ayat pergantian sajak senantiasa dibarengi pergantian tema (kalau dalam prosa, mirip dengan pergantian paragraf).
KESEIMBANGAN PANJANG AYAT
Sekedar sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Alam Nasyrah atau Al-Syams. Panjang ayat yang satu dan yang lainnya bisa dikatakan seimbang atau sama. Apabila untaian ayat-ayat tersebut dilantunkan, keseimbangan panjang ayat tersebut akan menghasilkan irama yang sangat nikmat.
PARALELISME DAN KESEIMBANGAN IRAMA ANTAR AYAT
Contoh : QS Al-Zalzalah ayat 7-8
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ×
ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره ×
Repetisi (perulangan)
Repetisi yang dimaksudkan disini mempunyai beberapa bentuk. Yang pertama ialah repetisi kata, seperti yang terdapat pada awal surat Al-Nazi’at, Al-Mursalat, dan Al-Waqi’ah.
Awal surat Al-Nazi’at :
و النشطات نشطا ×
و السبحت سبحا ×
فالسبقت سبقا ×
Bentuk-bentuk repetisi tersebut tidak hanya menyatakan penegasan dari sisi makna, namun juga menghasilkan keindahan dari sisi irama.
KECERMATAN MAKNA PADA DIKSI (PILIHAN KATA)
Sebagai contoh, kata Rabb, Ilah, dan lafzhul jalalah Allah, tidaklah bisa dipertukarkan begitu saja satu sama lain. Kata Rabb, misalnya, digunakan dalam konteks bahwa Allah ingin menunjukkan fungsi tarbiyahnya. Demikian seterusnya.
Contoh lain ialah penggunaan kata bani Adam, al-insaan, al-basyar, dan al-naas. Masing-masing dari kata tersebut tidak dapat dipertukarkan begitu saja karena masing-masing memiliki makna khasnya sendiri-sendiri.
Demikian juga antara kata bashara dan nazhara, antara al-‘afw, al-ghufraan, al-mushaafahah, dan al-kaffaarah, antara hamma dan araada, antara al-wudd (al-mawaddah), al-hubb, dan al-rahmah, antara Al-Bashiir, Al-‘Aliim dan Al-Khabiir, dan sebagainya.
PEMAKAIAN HURUF-HURUF DALAM KATA YANG SANGAT REPRESENTATIF TERHADAP MAKNA ATAU SUASANA MAKNA
Sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Al-Naas. Rima dan dominasi huruf siin disana menggambarkan suasana hati yang diliputi rasa was-was. Demikian pula kalau kita perhatikan QS Al-Qiyamah ayat 26-30 berikut ini.
كلا اذا بلغت التراقى ×
( Sekali-kali tidak. Apabila nafas telah [mendesak] sampai ke kerongkongan)
و قيل من _ راق ×
(Dan dikatakan kepadanya: “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”)
و ظن أنه الفراق ×
(Dan dia yakin bahwa itulah saat perpisahan)
و التفت الساق بالساق ×
(Saat bertaut betis [kiri] dengan betis [kanan])
الى ربك يومئذ المساق ×
(Kepada Rabb-mu pada hari itu kamu dihalau)
Rima dan dominasi huruf qaaf disitu menggambarkan suasana sesak di saat-saat sakaratul maut ! Bayangkan sebuah belati bergerigi tajam yang ditusukkan kedalam daging lalu ditarik kembali !!
Dari sini pula, kita menjadi paham betapa pentingnya menjaga makhraj dan sifat huruf saat membaca Al-Qur’an. Kesalahan dalam makhraj dan sifat huruf bukan hanya bisa menimbulkan perubahan makna namun juga bisa menghilangkan suasana maknanya sebagaimana yang kita lihat dalam beberapa contoh diatas.
KONTRADIKSI
Gaya bahasa kontradiksi banyak dipakai dalam Al-Qur’an, misalnya antara orang beruntung dan orang yang malang, antara mukmin dan kafir, antara surga dan neraka, dan sebagainya. Sebagai contoh, perhatikan kontradiksi yang disuguhkan mengenai orang yang menerima kitab dengan tangan kanan versus orang yang menerima kitab dengan tangan kiri atau dari belakang dalam QS. Al-Haaqqah ayat 19-37 dan QS Al-Insyiqaq ayat 7 – 15.
Sebagai contoh lain, mari kita perhatikan QS Al-Ghaasyiyah ayat 2 sampai 16 yang menyuguhkan kontradiksi antara wajah berseri orang-orang beriman dan wajah muram orang-orang kafir. Contoh-contoh yang lain bisa kita cari sendiri tersebar dalam lembaran-lembaran mushaf.
Gaya bahasa kontradiksi mempunyai efek yang kuat dan mendalam pada jiwa. Jiwa kita mengalami cita rasa yang berubah secara drastis, dari senang lalu tiba-tiba gembira, dari takut lalu tiba-tiba berharap, dan seterusnya.
Bentuk lain kontradiksi ialah seperti yang terlihat pada ayat-ayat sumpah yang dialektik. Perhatikan QS Al-Syams ayat 1-6 berikut ini.
والشمس وضحها × والقمر اذا تلها ×
والنهار اذا جلها × واليل اذا يغشها ×
والسماء وما بنها × والأرض وما طحها ×
Pada ayat-ayat diatas, kita melihat kontradiksi antara matahari dan bulan (ayat 1-2), antara siang dan malam (ayat 3-4), lalu antara langit dan bumi (ayat 3 sampai 4).
KESELARASAN ANTARA TEMPO DAN MAKNA ATAU SUASANA MAKNA
Salah satu cara Al-Qur’an dalam menunjang makna yang ingin disampaikan ialah dengan menggunakan tempo yang sesuai. Mari kita perhatikan bagaimana Allah menyebut Hari Kiamat dalam Al-Qur’an. Disana kita menjumpai bahwa Hari Kiamat disebut dengan kata الطامة, الصاخة atau الحاقة . Irama kata-kata tersebut panjang melenakan sekaligus membuat penasaran ada apa sesudahnya, diikuti dengan sentakan atau hentakan yang berat (ditandai dengan tasydid). Irama tersebut menggambarkan peristiwa Hari Kiamat yang kapan datangnya tidak ada yang tahu disamping manusia memang seringkali terlena dan lupa akan datangnya hari yang pasti tersebut. Namun begitu ia datang, kehadirannya begitu mengagetkan, dahsyat, dan serentak.
Sebagai contoh lain, mari kita perhatikan awal-awal surat Al-Takwir dan Al-Infithar. QS Al-Infithar ayat 2-3:
اذا السماء انفطرت× واذا الكواكب انتثرت
Kata (انفطرت) dan (انتثرت) pada kedua ayat tersusun atas banyak huruf namun tidak mengandung bacaan madd sama sekali. Yang demikian itu menggambarkan bahwa peristiwa Hari Kehancuran berlangsung sangat cepat, sehingga mengagetkan setiap orang. Begitu ia datang, maka ia tidak bisa dibendung lagi.
Agar adil, mari kita lihat juga tempo lambat pada QS Al-Fajr ayat 27 –30.
يأيتها النفس المطمئنة ×
ارجعى الى ربك راضية مرضية ×
فا دخلى فى عبادى ×
و ادخلى جنتى ×
Ghunnah ( pada nun dan mim) dan madd (dengan alif atau ya) membuat tempo jadi lambat, yang menimbulkan nuansa tenang, kalem, dan lembut, seperti ucapan seseorang terhadap kekasihnya.
Dari pemahaman kita tentang tempo, kita pun akan sadar betapa pentingnya menjaga madd, tasydid, dan ghunnah saat membaca Al-Qur’an. Pengabaian terhadap hal-hal tersebut bukan hanya bisa menimbulkan perubahan makna namun juga bisa mengurangi suasana makna sebagaimana terlihat pada beberapa contoh diatas.
PENGGAMBARAN YANG SANGAT HIDUP DAN BERKESAN
Sayyid Quthb menyebut gaya bahasa ini sebagai التصوير الفنى (penggambaran artistik). Penggambaran merupakan instrumen utama dalam gaya bahasa Al-Qur’an. Ia berusaha menampilkan makna-makna abstrak dalam bentuk gambaran yang dapat diindera, nyata, hidup, aktual, berwarna-warni, dan bergerak. Diantara bentuk penggambaran yang banyak ditemui dalam Al-Qur’an ialah permisalan dan cerita dialog. Dengan adanya penggambaran, seseorang yang membaca atau mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an akan terlena dengan segenap imajinasinya, sehingga ia merasa benar-benar menyaksikan secara nyata atau bahkan merasa berada di tengah-tengah peristiwa yang ada, lupa bahwa yang dibaca atau didengar ternyata hanyalah susunan huruf atau lafazh saja. Tentang hal ini, Sayyid Quthb mengatakan,”Disini (dalam Al-Qur’an) ada kehidupan dan bukan kisah tentang kehidupan”.
KESELARASAN ANTARA OBYEK SUMPAH DAN TEMA YANG MENGIKUTINYA
Sebagai contoh, mari kita perhatikan surat Al-Dhuha. Disana Allah bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam. Waktu dhuha yang terang dan indah, waktu malam yang gelap dan menimbulkan kesempitan jiwa. Ayat-ayat berikutnya mengetengahkan permulaan, kedukaan, keyatiman, kebingungan, dan kekurangan yang identik dengan waktu malam. Sebaliknya, akhiran, keridhaan, asuhan, petunjuk, dan kecukupan identik dengan waktu dhuha.
BEBERAPA CONTOH DARI ASPEK-ASPEK BALAGHAH YANG LAIN
Dalam hal ini, kita hanya akan mencoba melihat gaya bahasa hiperbolik dan pengalihan kata ganti secara mendadak. (al-iltifaat), yang sudah sering dibahas dalam buku-buku balaghah.
Sebagai contoh bagi gaya bahasa hiperbolik, mari kita perhatikan QS Maryam ayat 4, yang melukiskan keadaan Nabi Zakaria yang sudah lanjut usia: … واشتعل الرأس شيبا …
اشتعل artinya telah menyala karena terbakar rata, berfungsi sebagai fi’il. الرأس artinya kepala, berfungsi sebagai fa’il. شيبا artinya uban, berfungsi sebagai tamyiz dimana yang menjadi mumayyaz ialah الرأس . (اشتعل الرأس شيبا) artinya ‘Kepalanya menyala karena putih ubannya’. Tatkala sampai pada اشتعل الرأس)), orang akan bertanya,”Kepalanya menyala?” Maka diucapkanlah (شيبا), “Ya, karena putih ubannya”. Susunan seperti ini menimbulkan efek hiperbolik. Berbeda halnya jika kita mengubahnya menjadi اشتعل شيب الرأس)) (Uban di kepalanya menyala). Yang terakhir ini tidak mesti berarti bahwa seluruh rambutnya beruban. Lain halnya dengan (اشتعل الرأس شيبا), yang mengesankan bahwa seluruh rambut di kepalanya telah memutih tanpa ada sehelai pun yang masih hitam.
Mengenai iltifaat, orang-orang yang tidak memahami keindahan dan keunikan sastra Arab telah meniupkan syubhat bahwa hal tersebut menunjukkan inkonsistensi Al-Qur’an dalam hal kata ganti atau sudut pandang Sang Penutur. Namun bagi mereka yang paham, iltifaat sebagai gaya bahasa Al-Qur’an justru telah mampu menimbulkan efek yang luar biasa. Diantara efek itu ialah menarik perhatian dan memberikan efek imajinasi yang hidup dan dinamis.
Wallahu A’lam bil-Showab.

Nukilan
1. Idris, Mardjoko. Ilmu Balaghah: Kajian Khusus Uslub dan Iqtibas, Yogyakarta: Penerbit Teras, 2007
2. Al-Iskandary, Syeh Ahmad & Musthafa Anamay. Al-Wasith fi al-Adab al-Araby wa Tarikhuhu, Mesir: Dar al-Maarif, 1916
3. Abdurrahman, ‘Aisyah. I’jazul al-bayani lil Qur’ani, Mesir : Dar al-Maarif, 1971
4. http://menaraislam.com/

Budaya Sebagai Cermin Bangsa

Budaya iku dadi kaca benggalaning bangsa  (Kebudayaan itu menjadi cermin besar yang menggambarkan peradaban suatu bangsa) setiap bangsa atau suku bangsa itu memiliki kebudayaan sendiri yang berbeda dengan kebudayaan bangsa atau suku bangsa yang lainnya membuktikan bahwa peradaban suatu bangsa yang bersangkutan memiliki pengetahuan, dasar-dasar pemikiran dan sejarah peradaban yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Dalam teori-teori kebudayaan ada keyakinan bahwa seni adalah tanda penting dalam suatu kebudayaan. Seni itu tidak terpisah dari kebudayaan manusia dan setiap kebudayaan itu menghasilkan seni.
Seni merupakan kata yang sering kita dengar dan tidak asing dalam kehidupan kita. seni selalu ada dalam kehidupan perkembangan manusia sehingga seni dari masa ke masa selalu berubah-ubah, baik dari kegunaannya maupun kepentingannya. Seni pada awal-awal kemunculannya sebagai suatu cara untuk menunjukkan kegiatan manusia (realitas sosial) pada masanya kemudian pada perkembangan manusia seni dijadikan sebagai alat untuk propaganda produk kapital dan pada sisi lain digunakan sebagi alat untuk melawan penindasan. Saat ini tidak sedikit pekerja seni yang memanfaatkan seni untuk mencari kepuasan pribadi, jika kepuasaan sudah didapat maka baginya adalah suatu pencapai yang luar biasa, tanpa mengindahkan pesan dan efek dari suatu hasil karya seni itu kepada masyarakat sebagai konsumen dari hasil karya seni. Kemudian ada juga seni dijadikan sebagai  alat untuk mencari materi semata, sehingga hasil karya seni itu cenderung tidak bebobot dan berkarakter dan hanya mengikuti selera pasar saja. Maraknya group band yang bermunculan di Indonesia merupakan salah satu contoh dari tujuan berkesenian yang hanya ingin mendapatkan materi semata. Bagaimana fenomena bersinar dan redupnya suatu group band itu terjadi hanya dalam kurun waktu yang singkat, hal ini mengindikasikan bahwa hasil karya seni mereka dalam hal ini lagu tidak dapat membawa pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat. Mereka kosong, tidak menghayati makna seni secara total sehingga hasil karya seni (lagu) yang dihasilkan hanya sebagai “sampah” yang tidak bermanfaat bagi masyarakat.
Suatu Karya Seni seharusnya mampu membuat masyarakat penikmat seni berfikir dan memahami, jangan hanya sebatas mengajak masyarakat penikmat seni untuk menangis, bahagia dan terkagum-kagum. “Jika seni di rumuskan sebagai daya ungkapan rasa, maka seni tersebut mampu membuka wawasan dan pikiran masyarakat sebagai metode pendekatan dalam proses belajar yang memberikan sebuah wacana dan suasana baru pada nilai-nilai budaya masyarakat dengan perkembangan lingkungannya saat ini”. Saat ini banyak orang-orang yang menganggap dirinya seniman tapi tidak menghasilkan karya, kalaupun ada karyanya, itu tidak dapat memberikan manfaat dan kontribusi kepada masyarakat. Hasil karyanya hanya dinikmati dirinya sendiri dan tidak mampu memberikan dampak  yang positif kepada masyarakat.
Seni mempunyai fungsi yang sangat banyak dan luas dalam kehidupan. Selain sebagai  pembentukan karakter, media ekspresi dan ritual, seni juga berfungsi sebagai kontrol sosial. Melalui media seni, kondisi dan sistem yang sedang terjadi bisa dikontrol secara estetis dengan lagu, sastra, tari, teater,  lukisan, dan lain sebagainya. Tapi sangat disayangkan, peran-peran itu kurang berjalan dengan baik. Seniman hanya berseni pada aspek keindahan atau asyik dengan karya seninya, tidak mau repot ikut menjalankan kontrol sosial dan mendidik masyarakat. Bahkan tidak memberi kontribusi bermanfaat bagi masyarakat.
Sejauh mana kita (SIM) yang katanya bergelut dalam dunia seni,  mampu menyikapi dan memberikan kontrol terhadap berbagai permasalahan yang ada disekitar kita (HMI dan Indonesia)? Pertanyaan besar yang tidak perlu dijawab dengan berbagai argumen-argumen yang hanya membuat kita tidak berbuat apa-apa dan hanya sibuk memberikan jawaban-jawaban yang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi dengan tindakan dan kegiatan berkesenian yang mampu melahirkan karya seni berkarater dan berbobot yang mampu membawa dampak positif tentunya.

oleh: Ucok Mesiah Haryanto
Divisi kepenulisan Sanggar Insan Musika (SIM)
Yogyakarta

“Maju mundurnya sutu peradaban tergantung pada pendidikannya”
Lembaga pendidikan yang sering disebut  sekolah, memang diharapkan mencetak  manusia-manusia yang dapat berpikir, bermoral  dan paham akan peran dan fungsinya sebagai  manusia. Pendidikan membentuk manusia ‘sadar’  akan keberadaan dirinya, peka terhadap perubahan  realitas sosial, serta dapat membangun lingkungan
dengan pengetahuan yang dimiliki.  Dasar tujuan mulia itu pada kenyataannya  kini telah berubah, manakala banyak kepentingan  turut mewarnai dunia pendidikan kita (Indonesia). Elemen pendidikan pun pada akhirnya menunjukkan  sikap pragmatisnya terhadap sistem yang dibuat  oleh penguasa. Ironisnya, mereka yang mengenyam  pendidikan selama ini tidak sadar bahwa haknya  akan pendidikan telah dijajah dari berbagai segi.
Pendidikan merupakan proses pembentukan  karakter manusia seperti yang diungkap Bung Hatta.  Karakter seperti apa? tentu lah karakter seorang  yang bermoral dan beradab sebagai manusia  terdidik. Karakter yang siap menghadapi  permasalahan pada masyarakat dan bangsanya.  Dimana pemerintah sangat berperan dalam hal ini
dengan berbagai kebijakan yang dibuat.
“Jauh panggang dari api”, mungkin itu yang kita rasakan saat ini. Tujuan pendidikan yang diharapkan oleh para founding Father kita ternyata tidak sampai pada taraf aplikasi. Lihat saja bagaimana institusi pendidikan saat ini hanya sebagai ladang bisnis yang menguntungkan para pemilik modal (kapitalis). Ada lagi pendidikan yang digunakan seperti ajang  bisnis dengan sitem lelang. Bagi siapa yang  mengeluarkan uang paling banyak memiliki peluang tinggi untuk dapat mengenyam pendidikan di institusi  pendidikan tertentu. Contoh konkrit, terlihat jelas bagaimana suatu perguruan tinggi menawarkan beberapa jalur masuk untuk menjadi mahasiswa, dan yang sangat memilukan praktek seperti ini terjadi pada perguruan tinggi mentereng dan ternama. Dengan hanya membayar lebih calon mahasiswa bisa menjadi mahasiswa. Nah, tentu ini sangat merugikan bagi para mahasiswa yang tak mempunyai modal lebih dan berprestasi.
Eisentandt dalam Faisal dan Yasik (1985), pernah menuturkan bahwa institusionalisasi merupakan proses penting untuk membantu berlangsungnya transformasi potensi-potensi umum perubahan sehingga menjadi kenyataan sejarah. Pendidikan adalah suatu institusi pengkonservasian yang berupaya menjembatani dan
memelihara warisan budaya suatu masyarakat.
Dalam proses perubahan sosial modifikasi yang terjadi seringkali tidak teratur dan tidak menyeluruh, meskipun sendi-sendi yang berubah itu saling berkaitan secara erat, sehinggamelahirkan ketimpangan kebudayaan.Dikatakan pula olehnya bahwa cepatnya perubahan teknologi jelas akan membawa dam-pak luas ke seluruh institusi-institusi masyarakat sehingga mun-culnya kemiskinan, kejahatan, kriminalitas dan lain sebagainya merupakan dampak negatif yang tidak bisa dicegah.Untuk itulah pendidikan harus mampu melakukan analisis kebutuhan nilai, pengetahuan dan teknologi yang paling mendesak dapat mengantisipasi kesiapan masyarakat dalam mengha-dapi perubahan.
Karl Manheim dalam Faisal dan Yasik (1985) memfokuskan pandangannya untuk melihat aktivitas sekolah dalam melaksanakan proses pengajaran kepada para peserta didik. Secara jeli Manheim mengisyaratkan adanya semacam penyimpangan, di mana para siswa seolah-olah terobsesi pada angka prestasi, padahal tujuan pendidikan bukan itu.  Masalah UN merupakan contoh nyata yang disebutkan oleh Manheim tadi sebagai penyimpangan. Kita lihat bagaimana para siswa terlihat lebih rajin dalam belajar ketika menjelang UN. Mereka sibuk mengadakan doa dan zikir bersama yang biasanya tidak pernah diadakan agar mendapat nilai bagus dan lulus. Kegiatan menjelang UN menjadi begitu sibuk dan padat sehingga membawa tekanan tersendiri bagi peserta didik. Akhirnya pada hari H pelaksanaan UN sebagian siswa telah kehabisan energi dan tak kemudian tak mampu mengerjakan soal-soal UN.

nah…bagaimana kita akan melakukan perubahan jika sistem pendidikan kita tidak mampu memfasilitasi itu semua.

Pesta demokrasi atau pemilu 2009 telah di depan mata. 34 Parpol peserta pemilu tentunya sudah jauh-jauh hari menyusun strategi jitu dan mengumpulkan kekuatan, dengan tujuan untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya demi memenangi pemilu 2009. Dari mulai tebar pesona melalui kader-kadernya yang duduk di pemerintahan sampai pemasang iklan politk di media massa yang acap kali menimbulkan kontroversi. Lihat saja, pertarungan antar elit politik sangat kencang dan kental, saling menjatuhkan anatara satu dengan yang lain. Nah, itu semua merupakan bagian dari kehidupan berpolitik. Berpolitik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kita membutuhkankan politik sebagai dinamika hidup. Makanya, manusia disebut juga zoon-politicon.

Oleh sebab itu, sebagai mahasiswa sudah sewajarnya kita belajar memahami politik itu sendiri dan bisa ikut andil di dalamnya (“andil” bukan berarti kita harus menjadi anggota salah satu parpol)  .  Menurut Arbi Sanit ada empat faktor pendorong bagi peningkatan peranan mahasiswa dalam kehidupan politik. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai wawasan  yang luas diantara masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama menduduki bangku sekolah, sampai di universitas mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik yang terpanjang diantara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup yang unik di kalangan mahasiswa. Di Universitas, mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa dan agama terjalin dalam kegiatan kampus sehari-hari. Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise dalam masyarakat dengan sendirinya merupakan elit di dalam kalangan angkatan muda.  Posisi strategis mahasiswa berada pada statusnya sebagai kaum terpelajar yang kritis. Demonstrasi adalah salah bentuk dari sikap kritis mahasiswa atas ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Seringkali atas perannya yang strategis, mahasiswa digadang-gadangkan dengan titel “agent of change”.

Menuju Pemilu 2009, diperkirakan jumlah mahasiswa Indonesia saat ini sekitar 3,5 juta orang, hanya 1,6 % dari 210 juta penduduk Indonesia (data Depdiknas tahun 2008). Jumlah ini kalau dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang memiliki hak pilih (sekitar 180 juta orang ), maka persentasenya cuma 1,9 %. Tentu saja dilihat dari segi kuantitas, jumlah ini tidak memberikan perubahan signifikan dalam penghitungan pemenangan pemilu yang didasarkan pada perolehan suara terbanyak. Dengan jumlah sedikit itu agaknya mahasiswa

tidak perlu berkecil hati. Selama ini masyarakat kita terlalu mudah dipengaruhi oleh janji-janji manis  dan iming-iming uang, sehingga siapa yang pandai bermulut manis dan memberikan kompensasi ekonomis tentunya akan besarlah perolehan suaranya nanti. Seringkali mahasiswa kecewa karena rakyat lebih cendrung kepada calon yang menurut mereka tak layak untuk menang. Menghadapi situasi ini, sebagai komunitas yang melek teknologi dan mendapatkan informasi yang lebih dari masyarakat biasanya, seharusnya mahasiswa bisa berperan lebih dalam upaya penyadaran politik kepada rakyat.

Usaha itu dapat dilakukan dengan memberikan penerangan kepada masyarakat awam (yang merupakan kelas pemilih terbanyak dalam pemilu) tentang sepak terjang parpol dan tokoh-tokoh yang berlomba dalam perebutan kursi legislatif dan eksekutif. Bukan dalam artian sebagai jubir parpol atau calon tertentu, namun lebih kepada pemberian data objektif kepada masyarakat tentang keberadaan dan biografi kontestan, sehingga masyarakat bisa menyalurkan suaranya dengan tepat.

Belakangan ini mahasiswa sering dicibir karena cuma pintar teori tapi kurang praktek. Pergaulan yang cendrung eksklusif dan hedonis semakin menguatkan stigma negatif mahasiswa. Oleh karena itu, untuk mengembalikan imaje (kesan) positif mahasiswa sebagai motor perbaikan bangsa, agaknya terlibat aktif melakukan kampanye-kampanye penyadaran harus dilakoni sebagai katalisator kampanye retoris ala parpol. Hidup mahasiswa!!!

Ditulis Menjelang PEMILU 2009

oleh: HARYANTO*

*Sekretaris Umum HMI Komisariat Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, juga Mahasiswa Fakultas Adab Jurusan BSA.

Panasnya suhu Pemilwa di UIN Sunan Kalijaga sudah kian terasa. Partai-partai yang ada di kampus mulai bergerilaya untuk mencari massa sebanyak-banyak guna menjadi yang nomor satu pada pesta demokrasi kampus kali ini. Memang, pemilu yang diadakan kampus tidak sepanas pemilu yang akan diadakan oleh negara tahun ini, dikarenakan wilayahnya lebih kecil dan tentunya dana yang dikeluarkan untuk hajatan demokrasi kampus ini tidak terlalu besar, bisa dibilang kecil dan terbatas. Tapi itu semua tidak mengurangi semangat partai peserta pemilwa untuk menempatkan kader-kadernya di pemerintahan mahasiswa. Sebelum kita membahas pesta demokrasi kampus ini ada baiknya kita mengetahui sejarah pemilwa di UIN Sunan Kalijaga itu sendiri. Sebelum tahun 2000 pemilwa (Pemilu Mahasiswa) di UIN Sunan Kalijaga menggunakan sistem perwakilan kelas kemudian sebagai hasil refelksi yang berangkat dari kegelisahan karena tidak adanya organ politik untuk memenuhi aspirasi mahasiswa, barulah pada tahun 2001 Pemilwa di UIN Sunan Kalijaga yang bertujuan untuk memilih presiden (ketua) DEMA yang berfungsi sebagai ekskutif dilakukan melalui sistem partai maka terbentuklah beberapa partai yang dua diantaranya mengikuti proses pemilu yaitu  PSI (Partai Solidaritas IAIN) dan PRM (Partai Rakyat Merdeka). Pada tahun 2003 ada 8 Organ Partai yang mengikuti pesta demokrasi kampus sehingga proses pemilu di tingkatan kampus ini menjadi semakin meriah. Seiring berjalannya waktu, partai peserta pemilu semakin banyak,  Kurang lebih ada 10 partai yang mengikuti pemilu pada tahun 2005 diantaranya adalah Paratai Pencerahan, Partai Proletar, Partai

Mawar, Partai Rakyat Merdeka dan lain-lain. Pada Pemilwa tahun ini ada 12 organ politik yang mengikuti pesta demokrasi kampus ini. Masing-masing partai yang ada saling menunjukkan eksistensi, kreatifitas dan program yang ditawarkan kepada seluruh mahasiswa, tentunya dengan tujuan untuk mendulang suara pada pemilihan nanti.

Dalam Pemilwa tahun 2005 lalu tentu kita masih ingat insiden yang memalukan dunia demokrasi kampus. Seharusnya kampus sebagai tempat pembelajaran demokrasi yang dijadikan contoh oleh masyarakat dan mampu memberikan sesuatu yang berharga pada proses demokrasi di Indonesia, malah menjadi tempat adu jotos untuk memperebutkan kekuasaan demi kepentingan golongan atau kelompok. Pembelajaran politik di tingkatan kampus bukan hanya berorientasi pada politik semata tapi lebih kepada peningkata mutu  akedemik mahasiswa. Dengan adanya pemilwa, mahasiswa diharapakan lebih mengerti makna dari demokrasi sehingga nantinya ketika mahasiswa terjun dalam kehidupan yang nyata mereka tidak buta akan demokrasi dan bisa mentarformasikan kepada masyarakat  apa –apa yang telah dia dapat dari kampus. Pemilwa sebagai ajang pembelajaran bukan ajang politik yang memperebutkan kekuasaan. Di sini mahasiswa dituntut sebagai seorang akedemisi bukan sebagai seorang politisi, sehingga diharapkan pemilwa  akan berlangsung secara jujur, adil dan lebih elegan tentunya. Bukan hanya bagaimana caranya meraih kemenangan dengan segala cara dan upaya dengan mengesampingkan nilai-nilai luhur demokrasi itu sendiri.  Dalam berpolitik,

salah satu semangat yang perlu dikembangkan adalah mutu berdemokrasi. Dalam berdemokrasi kita menginginkan tumbuhnya etika dan sopan santun berpolitik, sehat, fair dan berakhlak. Begitu juga proses pembelajaran demokrasi yang ada di UIN Sunan Kalijaga ini, mahasiswa diharapkan lebih menghormati mekanisme dan prosedur berpolitik. Selain itu, perlu dijaga nilai-nialai idealisme dalam berpolitik.

Terus terang, dapatkah semangat etika berpolitik mewarnai PEMILWA kali ini. Dapatkah kita memainkan etika berpolitik yang luhur, jujur, elegan dan bermartabat. Termasuk tidak melakukan tindakan anarkisme, dan tindakan represif. Semoga saja tidak terjadi.

ditulis dalam rangka Proses PEMILWA di kampus UIN SUNAN KALIJAGA JOGJAKARTA

oleh : HARYANTO

Sekretaris umum HMI Komisariat Fakultas Adab

dan Mahasiswa fakultas Adab Jurusan BSA

UIN  SUNAN KALIJAGA Yogyakarta


Perilaku sosial merupakan aktivitas membangun pribadi manusia secara utuh (mutakalimah). Maka aplikasi sosial merupakan aktivitas yang dilandasi suatu kesadaran untuk menerima dan mau melakukan perubahan, baik yang berkait dengan perilaku pribadi (suluk fardi) maupun perilaku kolektif (suluk jama’i)nya sehingga tumbuh keseimbangan yang menjadikan kemanusiaanya terbentuk secara utuh.

Sosial mahasiswa memandang tumbuh dan berkembangnya kemanusiaan manusia merupakan karya sosial yang selalu terkait dengan hakekat sifat dasar manusia. Oleh karena itu, secara natural konsep-konsep sifat dasar manusia telah memberikan kontribusi pada dunia sosial yang pada umumnya berkaitan dengan masalah dan tanggung jawab manusia di dunia, potensi orisinal, etika, kebebasan, kebersamaan. Bentuk kemanusiaan manusia itu biasanya tunduk pada orientasi masyarakatnya.

Mahasiswa sebagai anggota dari elemen masyarakat memiliki peran dalam masyarakat untuk memperjuangkan aspirasi dan cita-cita sosial masyarakat yang lebih dari sekedar naluriah, melainkan juga sistematis deanj aktualis.

Urgensi Sosial Mahasiswa

Dalam konteks dunia, sosial mahasiswa yang dimaksud, disebut social intercourse (معملة اجتماعية ). Kenyataan alamiah menunjukan bahwa kesempurnaan kemanusiaan manusia dapat diwujudkan melalui proses pergaulan. Termasuk didalamnya upaya memastikan dirinya sebagai makhluk sosial. Maka proses  social intercourse yang dilakukan pada mahasiswa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaya mahasiswa menuju Atholib al-kamil;المتعلمون .

Selanjutnya social intercourse bagi gerakan mahasiswa menjadi sangat penting ketika mahasiswa memasuki wilayah masyarakat aktif. Sebab, gerakan mahasiswa yang dipandu oleh nilai-nilai intelektualitas memastikan mahasiswa memiliki ikatan sosial yang kuat. Memang telah menjadi tugas setiap mahasiswa untuk memberdayakan masyarakatnya dalam menuju cita-cita sosialnya, yaitu sebuah kehidupan masyarakat yang sejahtera secara pendidikan, ekonomi, dan pergaulan.

Dalam kerangka memenuhi keperluan itu maka urgensi sosial mahasiswa semakin tidak dapat ditawar-tawar. Ia telah menjadi suatu kemestian yang harus dijalankan oleh setiap mahasiswa

Pada kenyataanya mahasiswa secara praktispun juga memasuki apa yang disebut wilayah sosial, sebuah wilayah yang tidak didapati secara utuh di kampus (class room), yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kenyataan ini juga menunjukan sebuah indikasi bahwa mahasiswa telah siap memasuki pusat-pusat yang sangat sesitif dan menantang, yaitu sosial itu sendiri. Berarti mahasiswa telah membuka diri untuk menerima segala macam resiko yang akan dihadapinya. Hal ini merupakan konsekwensi logis keterlibatanya dalam sosial masyarakat, yang pada praktiknya penuh trik dan intrik.

Secara umum sosial mahasiswa didefinisikan sebagai proses belajar, menambah informasi, pengetahuan dan melatih kecakapan dalam aksi-aksi.

Atas dasar itu, mahasiswa sebagai salah satu anggota masyarakat yang memiliki perbedaan dalam intelekutalitas, harus dapat berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (teori; نظرية), maupun secara tidak langsung (berupa imam/ keteladanan normatif).

Mengingat proses sosial sebuah realitas aktif, pada umumnya masyarakat (-tradisionalis) hanya tunduk pada orientasi area, maka tujuan-tujuanya hanya berorientasi area. Misalnya, saat segolongan masyarakat yang satu dipertemukan dengan masyarakat lain yang berbeda kebudayaan ataupun keyakinannya, sosialpun dipertaruhkan. Sosial mahasiswa, perannya disini, ditujukan untuk menjabarkan secara ontentik terhadap tujuan sosial dengan bahasa edukatif.

Oleh sebab itu sosial mahasiswa dapat dikategorikan pada tujuan permanent dan tujuan temporal. Tujuan permanent ialah yang menyangkut penjabaran dan penerapan dalam rangka mewujudkan tujuan sosial masyarakat itu sendiri. Sedangkan tujuan temporal ialah berkaitan dengan pengamatan terhadap arus berbagai nilai yang mewarnai masyarakat, agar mahasiswa memiliki kemampuan bagaimana mencari perangkat yang dapat digunakan unuk menghadapi sosial masyarakatnya. Selain itu sosial mahasiswa juga lebih menekankan kemampuan dalam memahami eksistensi dirinya ditengah-tengah masyarakat dan menilai segala sesuatu yang terjadi pada sosial masyarakat secara kritis untuk selanjutnya menentukan sikap yang benar terhadapnya, serta mampu memberikan kontribusi pada penentuan kebijakan dalam pemecahan masalah-masalah sosial yang ada pada masyarakat.

Baik mahasiswa maupun sosial (objek dan wadah mahasiswa), akan mengalami kesulitan atau ketidak berdayaan apabila disalah fungsikan. Demikian pula jika sosial hanya dijadikan aspek komplementer. Sebab, hakekat sosial adalah transformasi nilai dan sekaligus mengembangkan budaya plural masyarakat. Maka, kenyataan ini, menunjukan hubungan antara mahasiswa dan sosial menjadi hubungan interakif.

Oleh: Wahyu Nurhidyat Al-aly*

Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 2008/2009

1_629442904lTak terasa sudah 5 tahun konversi IAIN ke UIN berjalan tapi masih banyak saja pihak yang tidak puas dengan berjalannya konversi ini. Ada juga yang menganggap konversi ini tak lain hanya sebagai upaya untuk melegitimasi proses sekulerisasi di Indonesia. Kebijakan ini (IAIN-UIN) setidaknya memperoleh landasan legitimasi dari paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan yang saat ini telah menjadi prototipe ideal pengembangan keilmuan kampus. Paradigma integrasi – interkoneksi ini dapat melepaskan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang selama dianggap sebagai penghambat kemajuan peradaban Islam, tapi apakah paradigma integrasi-interkoneksi yang diterapkan di UIN Sunan Kalijaga bisa melepaskan diri dari proses islamisasi ilmu?

Menurut Amin Abdullah: Paradigma ini mencakup tiga dimensi pengembangan keilmuan, yaitu hadrlah al-nas, hadrlah al-‘ilm, dan hadrlah al-falasafah. Tiga demensi pengembangan keilmuan ini bertujuan untuk mempertemukan kembali ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu keislmanan. Jika memang tujuan dari keluarnya kebijakan ini (integrasi-interkoneksi) sebagai modal nilai untuk mendukung penguatan pondasi dan basis epistemologi keilmuan islam kampus, sebelum kelak siap disandingkan dengan ilmu umum, seharusnya sudah dilakukan ketika kampus ini masih berstatus Institus Islam (IAIN). Mengapa harus menunggu konversi IAIN ke UIN?

Kebijakan ini mengharuskan mahasiswa yang ingin lulus dalam tugas akhir (skripsi) menukil atau mengambil kosakata islam atau mengajukan proposal tokoh barat dalam metodologinya dan harus dilihat dari perspektif islam. Terlihat jelas bagaimana ngototnya pardigma ini diterapkan dan nampak didasari pertimbangan pragmatis semata. Mahasiswa dipaksa untuk mengislamkan diskursus keilmuan barat yang selama ini mereka pelajari.

Konversi yang bertujuan untuk mengahapuskan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, malah terjebak dalam pandangan dikotomis dan reduksioner itu sendiri dan mengunggulkan keilmuan islam daripada keilmuan yang berasal dari tradisi barat. Nampak jelas di sini bahwa wacana paradigma integrasi-interkoneksi yang selama 5 tahun telah dipraktekan hanya berhenti pada tataran teoritis.

Amin Abdullah menyatakan bahwa jaring laba-laba keilmuan yang dia cetuskan adalah sebagai ekplorasi lebih dalam, upaya untuk menjadikan Islam sebagai paradigma ilmu umum. Agama di sini sebagai kontrol terhadap perkembangan ilmu bukan sebagai penghambat ilmu. Agama tanpa ilmu hanya akan bermakna ranah ritual ibadah dan aqidah semata, sedangkan ilmu tanpa agam akan menjadikan seorang ilmuan hanya sebagai robot, asing terhadap nilai dan moralatis terhadap apa yang telah dia kerjakan dan dampaknya terhadap umat manusia.

Dalam tataran prakteknya, kurikulum yang diberlakukan pada fakultas agama dikaitkan dengan metode keilmuan yang baru dengan pendekatan ilmu sosial humaniora dan ilmu umum lainnya. Sedangkan pada fakultas umum dibekali muatan spiritualitas dan dasar-dasar keagamaan yang lebih kritis.

Perjalanan bangsa Indonesia menuju bangsa yang lebih mandiri dan sejahtera tentu bukan hal yang mudah untuk dijalani, banyak sekali rintangan yang harus kita lalui. Reformasi yang katanya sebagai tonggak awal berdirinya Indonesia sebagai Negara demokrasi malah menjadi boomerang bagi penghambat kemajuan. Demokarsi  seharusnya bisa menjadi alat untuk mensejahterakan rakyat dan bisa membawa kita kepada sebuah Negara  maju bukan malah sebaliknya. Kurangnya konsep yang ditawarkan oleh para pembawa reformasi ini membuat kita terombang-ambing dalam lautan masalah yang tak kunjung selesai. Banyak jalan menuju roma, tampaknya tidak dipikirkan lagi oleh para tokoh nasional kita.  Mau kemana bangsa kita ini?

Proses demokrasi di Indonesia ditandai dengan adanya pemilu legislatif dan pilpres yang  langsung dipilih oleh rakyat. Ketidak siapan pihak  penyelenggara pemilu (KPU) dan fasilitator dalam hal in pemrintah, hanya membuat kisruh proses deomkrasi. Masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang tidak valid dan banyaknya masyarakat yang tidak terdftar dalam DPT adalah salah satu indikasi kurang siapnya KPU dan Pemerintah dalam menyelenggarakan Pemilu 9 April lalu sehingga banyak masyarkat yang dipaksa Golput (administratif). Ditambah lagi banyaknya surat suara yang tertukar dengan Dapil lain pada proses pemilihan lalu. Tidak mengherakan jika banyak pihak yang meniliai Pemilu kali ini adalah pemilu yang terburuk sejak reformasi. Pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab atas permasalahan ini justru malah melemparkan tanggung jawab sepenuhnya kepada KPU. Carut marutnya proses pemilu kali ini tentu tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan negara,  triliun sunggunh angka yang fantastis (bisa membeli klub MU dan tambahan 20 Pemain sekelas CR7 daripada dipakai buat sesuatu yang tidak jelas).  Ditambah lagi dengan Proses penghitungan suara yang lamban baik di tingkatan daerah dan pusat. tercatat 14juta suara yang baru masuk di pusat Tabulasi KPU di hotel Borobudur, setelah 1 minggu lebih pemilu dilaksanakan. (wuah)

Banyaknya partai politik yang mengikuti proses pemilu pun menjadi masalah tersendiri bagi para pemilih. Maka tak heran jika banyak para pemilih yang pusing ketika ada di bilik suara karena saking banyaknya gambar parpol serta gambar caleg yang ada dalam kertas suara.  Sosialisasi pemilih cerdas sebelum pemilu dilaksanakan terbilang sukses, buktinya banyak caleg yang stress (gila) bahkan bunuh diri karena kurangnya suara yang dia peroleh, padahal telah mengeluarkan banyak sekali uang untuk suksesi kemenangannya. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak masyarakat Indonesia yang mulai pintar dalam menentukan siapa yang akan mewakili suaranya di parlemen nanti.

Kekuatan Cinta

Ada kekuatan di dalam cinta, Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan keinginannya Untuk mementingkan diri sendiri. Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan. Ada kekuatan di dalam kedamaian diri Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah tergoyahkan Dan tidak mudah diombang-ambingkan. Ada kekuatan di dalam kesabaran, Orang yang sabar adalah orang yang kuat Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu Dan ia tidak pernah merasa disakiti. Ada kekuatan di dalam kemurahan, Orang yang murah hati adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya. Ada kekuatan di dalam kebaikan, Orang yang baik adalah orang yang kuat Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang. Ada kekuatan di dalam kesetiaan, Orang yang setia adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama. Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan, Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam. Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian. ……….. Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup Kekuatan untuk mengatasi segala peAda kekuatan di dalam cinta, Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan keinginannya Untuk mementingkan diri sendiri. Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan. Ada kekuatan di dalam kedamaian diri Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah tergoyahkan Dan tidak mudah diombang-ambingkan. Ada kekuatan di dalam kesabaran, Orang yang sabar adalah orang yang kuat Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu Dan ia tidak pernah merasa disakiti. Ada kekuatan di dalam kemurahan, Orang yang murah hati adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya. Ada kekuatan di dalam kebaikan, Orang yang baik adalah orang yang kuat Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang. Ada kekuatan di dalam kesetiaan, Orang yang setia adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama. Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan, Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam. Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian. ……….. Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup KeAda kekuatan di dalam cinta, Orang yang sanggup memberikan cinta adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan keinginannya Untuk mementingkan diri sendiri. Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, Orang tertawa gembira adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan. Ada kekuatan di dalam kedamaian diri Orang yang dirinya penuh damai bahagia adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah tergoyahkan Dan tidak mudah diombang-ambingkan. Ada kekuatan di dalam kesabaran, Orang yang sabar adalah orang yang kuat Karena ia sanggup menanggung segala sesuatu Dan ia tidak pernah merasa disakiti. Ada kekuatan di dalam kemurahan, Orang yang murah hati adalah orang yang kuat Karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya Untuk melakukan yang baik bagi sesamanya. Ada kekuatan di dalam kebaikan, Orang yang baik adalah orang yang kuat Karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang. Ada kekuatan di dalam kesetiaan, Orang yang setia adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi Dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama. Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan, Orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat Karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam. Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat Karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian. ……….. Sadarkah teman bahwa engkau juga memiliki cukup Kekuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini? Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga. Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita. kuatan untuk mengatasi segala permasalahan dalam hidup ini? Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga. Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita. permasalahan dalam hidup ini? Dimanapun, seberat dan serumit apapun juga. Karena pencobaan tidak akan pernah dibiarkan melebihi kekuatan kita.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.